Taman Menteng yang terletak di Jl. HOS Cokroaminoto, Menteng, Jakarta Pusat bisa menjadi salah satu alternatif tempat bersantai di tengah hiruk-pikuk Kota Jakarta. Di sini kita seakan dimanjakan dengan tempat yang nyaman ditambah pemandangan dari beberapa kegiatan seperti organisasi dan aktivitas olahraga, sekalipun datang di malam hari seperti yang saya lakukan sekarang ini.

Jika berjalan di malam hari, taman ini akan memperlihatkan eksotimse yang ia miliki ditambah dengan terangnya lampu-lampu yang menghiasi tiap sudut taman. Dan malam nyaris tenggelam, bersamaan dengan catatan-catatan sejarah yang pernah dituliskan dari tempat ini dan sekitarnya.

Seperti kegiatan di sini yakni organisasi, Menteng rasanya memiliki ‘DNA’ yang diwariskan kekuasaan kolonial Belanda dalam hal keorganisasian. Ini terlihat dari beberapa bangunan serta nama jalan di sekitar sini–sebelum digubah menjadi seperti nama-nama sekarang–yang tentunya dinamai atas kuasa Belanda sendiri.

Jalan RP Soeroso, misalnya. Jalan ini dulu bernama Van Heutz, diambil dari nama seorang jenderal Belanda yang dikukuhkan sebagai nama jalan atas jasanya–menurut klaim Belanda–menghentikan perang Aceh pada 1903. Komandan satu itu juga sempat memiliki museum tersendiri sebelum akhirnya dihancurkan pada tahun 1960-an.

Selain nama jalan, dari bangunan juga bisa tampak. Lihat saja bagiamana Gereja Theresia di Jalan H Agus Salim dan Gereja Petrus di Jalan Sunda Kelapa. Kedua bangunan itu tak lepas atas peran kekuasaan Belanda, di mana dulu mereka melarang ada pendirian masjid di sana. Tetapi hal itu pula yang membuat Soekarno membangun Masjid Istiqlal.

Tak jauh berbeda untuk urusan olahraga. Di Taman Menteng ini Belanda punya ‘jasa’ tersendiri. Di sini pernah terbangun bangunan megah bernama Stadion Menteng, yang juga pernah menjadi stadion utama dari Persija Jakarta.

Stadion Menteng lahir pada 1920 silam. Mulanya, bangunan yang diarsiteki F.J. Kubatz dan P.A.J Moojen bernama Voetbalbond Indische Omstreken Sport (Viosveld)–sekaligus menjadi nama tim sepak bola.

Stadion ini juga digunakan sebagai sarana olahraga orang-orang Belanda kala itu. Dan baru pada tahun 1960 melalui Presiden Soekarno stadion ini diberikan kepada Persija Jakarta.

Stadion Menteng tak hanya soal bangunan, dia juga merupakan bagian dari sejarah persepakbolaan Jakarta dan Indonesia. Dari stadion ini lahirlah nama-nama pesepakbola hebat seperti Djamiat Kaldar, Abdul Kadir, Iswadi Idris, Anjas Asmara, atau Ronny Pattinasarani. Namun, sejak 2007 stadion ini harus rela digusur untuk dijadikan taman terbuka hijau.

Belanda memang telah meninggalkan banyak jejaknya di sini. Termasuk rumah-rumah elite di sini. Ketika itu, saat Belanda hengkang dari Indonesia, pemerintah memberikan surat izin sebagai legalitas menempati rumah-rumah peninggalan kolonial itu.

Berbicara rumah peninggalan Belanda, tidak lengkap kalau tak menyinggung sebuah rumah yang terletak di hoek Jalan Cik Ditiro 62-Jalan Ki Mangunsarkoro. Masyarakat menamainya dengan nama Rumah Cantik.

Kalau di antara kamu ada yang pernah melihat videoklip Setia dari Jikustik atau Seperti yang Kau Minta dari Chrisye, pasti kamu tahu rumah ini.

sumber: Twitter @danrem

Bagaimana, cantik kan?

Tapi sayangnya rumah ini sudah tidak ada. Pemilik rumah, ibu Sari Shudiono menjual rumah ini pada 2008 lalu lantaran beban pajak yang begitu berat, mencapai Rp 16 juta per tahun. Dan pada 2011 bangunan ini akhirnya terpaksa dibongkar.

Ketika itu banyak pro kontra yang muncul dari masyarakat. Sebab, Rumah Cantik masuk ke dalam cagar budaya Provinsi DKI Jakarta. Artinya, tidak boleh dilakukan pembongkaran.

Rumah lainnya, yang tak boleh ketinggalan untuk disinggung juga, adalah rumah yang pernah menjadi pusat kekuasaan pemerintahan Indonesia waktu itu. Dan tak jauh dari sini. Jaraknya bahkan tak sampai 1 kilometer.

Iya, Rumah Cendana. Di rumah ini konon katanya kekuasaan dijalankan. Di rumah ini juga mantan Presiden Republik Indonesia Soeharto tinggal.

sumber: merdeka.com

Kalau kita amati lebih dekat, Rumah Cendana ini sekarang tampak seperti bangunan tua. Genting-gentingnya juga terlihat kusam. Pohon-pohon tinggi di depan gerbang sangat rimbun sehingga menutupi pemandangan ke dalam rumah. Dari luar juga bisa terasa kalau di rumah ini minim sekali aktivitas.

Saya membayangkan ketika itu Pak Harto masih memimpin negeri ini. Pasti ada banyak sekali tamu-tamu penting datang dan pergi ke sini. Mulai dari pejabat dalam negeri hingga luar negeri. Mungkin juga ada tamu sangat penting, yang kedatangannya dirahasiakan. Mungkin.

Begitulah Taman Menteng. Selalu bisa membawa saya ke mana-mana. Karena tetesan sejarah di sini begitu kuat.

***

Jika dipandang dari berbagai sudut, memang taman ini tidak terlalu luas. Namun, nampak indah karena tatanan yang disusun sedemikian rupa. Jika kita berjalan di malam hari, taman ini akan memperlihatkan eksotimse yang ia miliki, di bawah sinar bulan dan terangnya lampu-lampu yang menghiasi setiap sudut taman.

Disalah satu sudut taman yang diterangi lampu-lampu yang berjejer sepanjang jalan terlihat hanya bangku-bangku kosong yang terlihat kedinginan karena dihembus oleh angin malam.

Kotak sampah beraneka bentuk karakter dengan mulut ternganga yang diletakkan di pinggir taman seakan mengisyaratkan agar setiap pengunjung memberi mereka makan setiap saat.

Di bawah pohon taman Terlihat gerombolan anak kucing terlihat sangat bahagia salaing berebutan untuk meminta susu kepada induknya yang sedang berbaring menatap si jantan.

Di seberangnya, terlihat seekor kucing jantan dengan mata tajam dan ekspresi kesal melihat induk kucing yang sedang menyusui anak-anak-nya tersebut.

Semakin malam suasanan semakin ramai, bangku taman yang tadinya tidak berpenghuni sekarang menjadi tempat yang paling diminati. Tawa renyah sekelompok anak-anak yang sedang bermain ayunan mendakan bahwa tempat ini tidak hanya diminati oleh orang dewasa saja terutama pada malam hari.

Salam, YOGI PRASTIA

sumber gambar: istimewa