Beberapa waktu yang lalu penulis berksempatan mengunjungi Kota Seoul, Korea Selatan, selama lima hari untuk mengikuti suatu kegiatan. Dalam waktu singkat itu, penulis sempat berkunjung ke beberapa tempat ikonik di Seoul, seperti Gwanghwamun dan Myeongdong.

Banyak hal menarik dari Korsel untuk dibahas, mulai dari drama korea hingga lezatnya kimchi. Tetapi agar tulisan ini dapat mencakup banyak hal mengenai Korsel, penulis tertarik akan membahas strategi soft diplomacy Korsel yang gencar dilakukan pemerintahnya demi menanamkan pengaruh sekaligus menjaga eksistensinya di dunia internasional.

Apa itu Soft Diplomacy?

Soft diplomacy secara bahasa memiliki arti diplomasi secara lunak. Maksudnya apa? Soft Diplomacy merupakan cara suatu negara untuk menanamkan pengaruhnya di negara lain secara halus melalui kebudayaan.

Bentuk-bentuk soft diplomacy beragam loh! Mulai dari makanan, pakaian, hingga musik ataupun semua yang mengandung unsur budaya. Dalam era globalisasi seperti saat ini, soft diplomacy menjadi cara paling ampuh untuk menanamkan pengaruh di suatu negara tanpa berhubungan langsung dengan negara tersebut.

Negara-negara maju sudah sejak lama menggunakan metode ini. Inggris, contohnya. Pada medio 1960-an mereka ikut merasakan manfaat booming-nya The Beatles. Walaupun tidak ditemukan bukti adanya hubungan The Beatles dengan pemerintah Inggris, popularitas grup musik satu ini turut andil meningkatkan pamor dan popularitas budaya Inggris.

Hari ini, Korsel memperagakan seni soft diplomacy yang begitu indah. Soft diplomacy yang dilakukan merata di segala bidang.

Yuk, kita bahas satu persatu!

K-Pop

K-Pop merupakan akronim Korea Pop. Musik jenis ini merupakan musik asli Korsel yang berkembang sejak medio 1990-an.

Genre musik yang dikembangkan pun variatif, namun biasanya adalah pop dan reggae. K-Pop identik dengan keberadaan grup-grup musik yang disebut boyband dan girlband. Tentu, para anggotanya ini memiliki paras menawan, atau setidaknya rupawan.

Eits, tunggu dulu! Selain memiliki kelebihan dari segi penampilan, mereka pun memiliki keterampilan menari dan melakukan koreografi yang keren banget, deh. Lengkap banget kan? Paket komplet banget dah pokoknya!

K-Pop booming di daerah luar Korsel sejak medio 2010, di mana saat itu boyband seperti EXO ataupun girlband seperti SNSD mulai digandrungi keberadaannya oleh para remaja di dunia, terutama di kawasan Asia Tenggara.

Jumlah penggemarnya pun terus meningkat dengan signifikan yang secara tidak langsung membuat budaya Korea turut digandrungi masyarakat dunia. Sehingga, secara tidak langsung Korsel berhasil menanamkan pengaruhnya di dunia internasional. Sebuah bukti keberhasilan soft diplomacy Korsel!

Drama Korea

Sebagaimana drama-drama lainnya, kebanyakan drama Korea bertemakan cinta. Lalu, apa sih yang membedakan drama korea dengan sinetron Indonesia? Banyak! Namun yang paling jelas terlihat dari segi alur dan visualisasi cerita.

Alur sinetron Indonesia cenderung bertele-tele. Untuk menyampaikan suatu konflik saja bisa memakan dua episode. Ditambah lagi judulnya yang jauh dari alur cerita.

Lain halnya dengan drama Korea, konflik dan alurnya disajikan dengan lugas dan tuntas.

Tuntutan utama seorang pemain drama Korea adalah pendalaman karakter tokoh, sedangkan bagi pesinetron Indonesia paras menjadi kemutlakan.

Bahkan, tidak sering beberapa tokoh memerankan peran yang tidak sesuai dengan karakternya namun dipaksakan karena parasnya yang menjual.

Budaya Korea yang sekilas tampil dalam drama menjadi nilai tambah. Sebab, secara tidak langsung mempromosikan kearifan lokal, yang secara tidak langsung juga diikuti masyarakat dunia. Ini sekaligus memperkuat nilai tawar Korea dalam negosiasi dan diplomasi formal dan membuktikan kekuatan soft diplomacy ala Negeri Ginseng.

source: Kingkong by Starship Entertainment

Bagaimana Indonesia?

Indonesia dengan segala kearifan lokalnya berpotensi besar dalam soft diplomacy. Ribuan suku bangsa dengan ratusan bahasa lokal merupakan modal mumpuni Indonesia untuk mengembangkan ekonomi kreatif sekaligus melestarikan budaya bangsa. Keindahan alam Indonesia yang sangat eksotis di mata dunia memperkuat potensi yang dimiliki.

Untuk memaksimalkan potensi yang dimiliki, setidaknya terdapat tiga rintangan yang harus dilampaui yaitu:

Pertama, kesan komersialisasi budaya. Mayoritas tetua adat menganggap aktivitas ekonomi yang melibatkan kearifan lokal yang ada sebagai komersialisasi budaya sehingga mengurangi nilai-nilai seni yang dimilikinya.

Langkah sederhana yang dapat dilakukan bersama adalah memastikan berjalannya ekonomi pariwisata ini sesuai dengan ketentuan adat yang ada dan mengurangi kesan komersialisasi terhadap budaya.

Kedua, minimnya promosi. Kurang maksimalnya promosi pariwisata yang dilakukan instasi terkait, dalam hal ini Kementerian Pariwisata (Kemenpar) dan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) tergambar dengan stagnansi konsep promosi Indonesia yang masih menggunakan tagline usang: Visit Indonesia.

Seharusnya, ide promosi diarahkan lebih visual seperti membuat maskot kartun, komik, dan infografis menarik yang memanjakan mata disamping menggencarkan promosi berbentuk soft diplomacy.

Ketiga, memupuk kebanggan akan budaya sendiri. Masalah laten yang dialami Indonesia sejak dulu adalah kurangnya rasa bangga pada sebagian masyarakat akan ke-Indonesia-an-nya. Mereka cenderung lebih bangga terhadap bangsa lain.

Padahal, budaya Indonesia lebih beragam dan kaya. Untuk mengatasi hal ini pemerintah harus mendorong produk-produk lokal dan pelestarian budaya tradisional. Mengapa penggunaan produk lokal penting? Ini tak lain sebagai upaya memupuk kebanggan akan bangsa sekaligus keyakinan Indonesia bisa!

Korsel dapat dijadikan role model dalam memanfaatkan kearifan lokalnya untuk memberi nilai tambah pada setiap produk yang dikeluarkan.

Secara tidak langsung, perkembangan K-Pop dan drama korea turut menggeliatkan industri lainnya di Korsel seperti industri komestik–yang lagi tren saat ini.

Keberhasilan soft diplomacy Korsel nampaknya juga perlu ditiru Indonesia, namun bukan budayanya yang kita tiru, melainkan mempromosikan dan bangga akan produknya.

Soft diplomacy ala Negeri Ginseng terbukti sangat suskses dalam satu dasawarsa ke belakang. Ide dan inovasi merupakan kunci utama menjaga eksistensi. Menjadi tugas bersama kita untuk menghidupkan ide-ide inovatif dan mencipta berbagai inovasi guna mempromosikan kearifan lokal Indonesia sekaligus menjadi alat soft diplomacy!

sumber gambar: www.thenational.ae, Kingkong by Starship Entertainment


Tulisan di atas merupakan opini penulis. MudaZINE.com tidak bertanggung jawab atas isi tulisan tersebut. Penulis bisa dihubungi di [email protected].

Kanal Opini merupakan wadah tulisan-tulisan Anak Muda di Indonesia yang ingin menuangkan sekaligus turut berbagi tentang fenomena atau isu di sekitarnya. Bergabunglah dengan kontributor MudaZINE sekarang juga!