"Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda," Tan Malaka.

Milenial, kosakata yang tengah booming saat ini. Milenial biasanya digunakan untuk menyebut generasi muda hari ini dikarenakan kebanyakan generasi muda hari ini tumbuh setelah pergantian abad.

Milenial merupakan generasi native democracy di mana selama hayat mereka hanya merasakan era yang bebas dan demokratis.

Selain native democracy milenial juga dikenal native technology, karena memiliki keterikatan yang sangat mendalam akan teknologi.

Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki letak strategis dan kekayaan alam melimpah tentu mempunyai modal dasar yang mumpuni untuk mewujudkan kemajuan bangsa. Ditambah lagi, bonus demografi turut berperan dalam tersedianya sumber daya manusia yang melimpah. Kombinasi yang mumpuni untuk mewujudkan kemajuan Indonesia hari ini dan masa depan.

Hari ini, Indonesia tengah meningkatkan kapasitas diri untuk lepas landas menjadi negara maju. Untuk mewujudkan cita–cita ini, milenial merupakan garda terdepan yang akan menjadi pemain utama kemajuan Indonesia ke depannya.

Milenial hadir dengan semangat pembaharuan yang dibalut inovasi dan kreasi tanpa henti. Milenial hadir dengan caranya tersendiri dengan arah baru yang dibawanya.

Korelasi Milenial dan Arah Baru Indonesia

Anak muda dengan idealisme yang dibawanya merupakan kunci masa depan Indonesia. Pemuda secara alamiah dilahirkan sebagai agen perubahan tatanan hidup masyarakat dalam berbagai dimensi, tanpa pandang bulu akan kepentingan pribadi.

Idealisme sebagai napas pergerakan pemuda selalu memberi gairah dan asa pemuda untuk terus berkarya seraya menyuarakan aspirasi diri.

Lantas, apa yang membedakan pemuda pada umunya dengan milenial?

Teknologi. Simpul perbedaan antara milenial dan generasi pemuda sebelumnya. Kemajuan teknologi dalam era ini membuat experience yang dirasakan oleh para pemuda berbeda dengan ayah atau kakeknya pada waktu silam.

Pengembangan teknologi dapat menghadirkan wajah baru peradaban manusia yang sangat berbeda. Contohnya, saat generasi kakek dan ayah mereka muda unjuk rasa merupakan keperluan dan penting. Para pemuda kala itu menjadikan unjuk rasa sebagai medium terbaik dalam penyampaian aspirasi. Unjuk rasa dianggap sebagai bukti kepedulian mereka terhadap permasalahan bangsa dan negara.

Generasi milenial mengalami hal yang 180 derajat berbeda. Era milenial menyediakan media lain berupa media sosial yang bersifat daring. Media ini mampu mewadahi berbagai macam keinginan para pemuda bahkan masyarakat umum untuk menyampaikan aspirasinya secara bebas dan tanpa batas.

Keberadaan media sosial sangat efektif untuk menampung semua suara masyarakat, namun unjuk rasa tetap dipandang sebagai cara yang paling solutif untuk menyuarakan keinginan khalayak umum terhadap suatu isu yang tengah hangat.

Perkembangan teknologi dan generasi yang signifikan ini secara tidak langsung membawa pola baru dalam pembangunan bangsa, dan akan membawa wajah serta menghasilkan arah baru sebagai residu perubahan. Pernyataan ini akan membawa pertanyaan baru, apa korelasi antara arah baru, milenial, dan teknologi serta apa dampak konkret bagi kemajuan bangsa?

Jika ditelisik korelasi ketiganya, dapat disimpulkan bahwa teknologi akan berperan sebagai medium perubahan. Subyek perubahan berada di tangan milenial dan residu perubahan adalah pattern yang bermetamorfosa menjadi arah baru bangsa.

Milenial sebagai pemain kunci dituntut untuk cerdas dalam menggunakan dan mengembangkan teknologi sebagai medium yang akan memperbaharui keajegan pattern untuk membuka jalan perubahan dalam sebuah narasi besar. Narasi besar dengan tajuk arah baru Indonesia.

Arah Baru Indonesia

Memandang Indonesia harus menggunakan beragam perspektif, bukan hanya dari luasnya kepulauan yang dimiliki atau hanya sekadar membentangnya lautan yang mengelilingi. Sekali lagi bukan itu. Coba perluas pandangan tentang keindonesiaan! Indonesia bukan hanya negara kepulauan terbesar di dunia, bukan sekadar negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, bahkan bukan sebatas negara dengan penduduk nomor empat terbesar di dunia. Indonesia adalah masa depan dunia!

Hari ini, Indonesia memang berjalan di jalur yang benar dalam pembangunan dan pertumbuhan kondisi kebangsaan. Namun di sisi lain, perkembangan zaman menuntut aktualisasi yang tak kunjung henti sehingga diperlukan suatu medium akselarasi percepatan pembangunan dan pengembangan bangsa untuk mempertahankan eksistensi dan kemajuannya. Medium inilah yang dimaknai sebagai arah baru Indonesia.

Arah baru Indonesia merupakan narasi besar kebangsaan tentang wajah baru Indonesia yang dihadirkan para milenial dalam upayanya mempersiapkan diri sebagai aktor utama kemajuan Indonesia hari ini dan hari-hari yang akan datang.

Arah baru Indonesia pada nantinya bukan hanya tentang narasi besar saja, akan tetapi arah baru Indonesia akan menyentuh hal-hal kecil yang sering kita alami dalam kehidupan bermasyarakat.

Lebih dari itu, ini bukan hanya sekadar narasi belaka. Ini tentang cara anak muda hari ini memandang kehidupan bangsa.

Secara garis besar, narasi yang dihadirkan arah baru Indonesia bukan hanya sekadar masalah gagasan saja. Namun, arah baru ini merupakan cara pandang mengenai problematika bangsa yang ada mulai dari politik, ekonomi, hingga kependudukan.

Interprestasi arah baru Indonesia dalam kehidupan sehari–hari dapat dilihat melalui fenomena yang tengah marak seperti kerelawanan di kalangan milenial, keberadaan media sosial yang membawa dimensi baru dalam interaksi sosial, hingga perputaran uang yang makin kasat mata dengan perkembangan teknologi.

Apakah arah baru Indonesia relevan untuk diterapkan di seluruh Indonesia? Jawabannya adalah bukan hanya hanya relevan, melainkan sebuah kebutuhan di masa pembangunan berbasis teknologi seperti saat ini.

Perkembangan teknologi yang memadai ditambah dengan gairah para milenial dalam membangun negeri jelas menjadi fondasi utama dalam membuat narasi ini relevan.

Pembangunan infrastruktur dan jaringan komunikasi di daerah 3T (Terbelakang, Terdalam, dan Terluar) menjadi fokus utama pembangunan berbasis teknologi ini.

Di sisi lain, pembangunan manusia merupakan urgensi mendasar di daerah 3T. Masyarakat di daerah tersebut harus dibangun karakternya terlebih dalam aspek keingintahuannya terhadap hal baru dan kebanggannya terhadap negara.

Daerah perkotaan merupakan area pembangunan yang tak kalah penting. Dengan segala kemajuan yang telah dimiliki kota, pembangunan akan lebih ditekankan pada karakter manusianya. Pembangunan karakter manusia akan ditekankan dalam aspek merawat kebhinekaan dan menjaga kehangatan pola interaksi sosial yang telah terjalin sejak dulu.

Hal yang dipaparkan di atas hanyalah gambaran kecil mengenai arah baru Indonesia dalam aspek pembangunan. Jika kita tinjau dari sisi lain, akan ditemukan gambaran lain yang memiliki tujuan serupa yaitu menggenjot percepatan pembangunan infrastruktur dan menggelorakan semangat kebangsaan dalam rangka memanusiakan manusia dengan balutan kebhinekaan.

Tantangan

Di balik segala asa dan cita tentang arah baru Indonesia, tentu terdapat beragam rintang yang menjadi tantangan hari ini dan hari-hari esok. Jalan untuk mewujudkan arah baru Indonesia masih teramat panjang dan tentu penuh batu, onak, dan kerikil yang berserakan di mana-mana. Namun, terdapat dua tantangan utama yang harus mampu dijalani oleh para milenial yaitu:

Pertama, aktualisasi diri tanpa henti. Aktualisasi merupakan isu utama dalam pengembangan diri beberapa waktu terakhir. Aktualisasi diperlukan sebagai bentuk adaptasi diri terhadap situasi terkini kehidupan.

Aktualisasi menjadi urgensi bersama dalam menghadapi pembaharuan dan perkembangan teknologi yang terus bergulir. Aktualisasi ini bukan hanya dilakukan individu, korporasi juga harus melakukan aktualisasi agar dapat mempertahankan eksistensinya.

Kedua, meningkatkan produktifitas diri. Masalah terbesar kebanyakan milenial adalah perilaku konsumtif.

Kebanyakan milenial cenderung puas untuk sekadar menjadi penikmat saja, padahal lebih banyak keuntungan yang diperoleh jika menghasilkan sesuatu. Kepuasan dan rasa bangga yang dialami seorang pencipta lebih dahsyat daripada seorang penikmat. Percayalah.

Milenial dan arah baru Indonesia membawa geliat baru hari ini dan hari-hari esok. Gairah dan asa yang digaungkan para milenial perlu didukung bersama agar dapat menjadi people power yang menabjubkan ke depannya.

Milenial juga harus sadar atas apa yang mereka bangun bukanlah hanya infrastruktur belaka, melainkan membangun manusia Indonesia seutuhnya yang bhinneka. Manusia merupakan subjek dan objek utama pembangunan. Dam ini bukan tentang gedung-gedung, ini sesederhana memanusiakan manusia di rumahnya.

Salam.

sumber gambar: unothegateway.com