Usmar Ismail adalah Darah dan Doa (bagi Perfilman Indonesia) – Bagi Homo Jakartanensis, nama Usmar Ismail boleh jadi hanya sebagai pengingat nama sebuah bangunan yang identik dengan gedung pertunjukan di dalamnya. Lalu siapa sesungguhnya Usmar Ismail dan mengapa begitu identik dengan perfilman.

Sebelum kemerdekaan diproklamirkan, pada masa Hindia Belanda, film hanya dijadikan sebagai hiburan. Bioskop-bioskop yang ada pada awal abad ke-20 hadir dengan porsinya sebagai tempat hiburan. Film-film pada masa itu berisikan film-film aksi laga Amerika dan lain sebagainya.

Tidak seperti kehadiran sastra pada masa kolonial, film jauh dari gesekan langsung dengan situasi sosial politik. Perfilman tanah air mulai beralih fungsi ketika masa pendudukan Jepang. Film menjelma menjadi sebuah alat propaganda sosial politik Jepang.

Atas dasar itu, Usmar Ismail mulai bergerak untuk membangun cita-cita besar untuk membangkitkan film-film Indonesia. Ia mendirikan Perfini (Perusahaan Film Nasional Indonesia).

Perfini didirikan pada 30 Maret 1950, bertepatan dengan hari pertama pengambilan gambar film Darah dan Doa. Sejak saat itu pula, 30 Maret ditetapkan sebagai Hari Film Nasional.

Film Darah dan Doa sendiri disutradarai langsung Usmar Ismail dan dinaskahi Sitor Situmorang. Cerita berkisah tentang pergulatan seorang prajurit komandan salah satu batalyon Divisi Siliwangi, Kapten Soedarto (Del Juzar) pada masa revolusi. Kapten Soedarto memimpin batalyon-nya bersama Panglima Batalyon, Kapten Adam (R. Soetjipto), seorang prajurit sejati.

Karakter kedua sahabat ini sangat berbeda, Soedarto seorang yang menginginkan kebebasan dan sangat menempatkan sisi kemanusiaan di atas segala-galanya, sedangkan Adam adalah seorang yang sangat teguh pada aturan. Namun, kedua sahabat ini selalu bisa mengatasi perbedaan ini karena kedekatannya.

Dari kisah yang disampaikan dalam Darah dan Doa, terlihat bahwa pengaruh konsep individu, kebebasan, dan humanisme digunakan untuk memperkenalkan karakter yang ada dalam cerita.

Jika disingkap dengan seksama, cara ini juga yang banyak digunakan dalam karya-karya sastra Angkatan 45. Hal ini juga banyak dipengaruhi oleh Sitor Situmorang, sebagai seorang tokoh utama dalam sastra Angkatan 45. Situasi revolusi yang digambarkan hanya sebagai latar untuk menjelaskan kisah-kisah individu dalam film ini.

Film Darah dan Doa pada dasarnya juga merupakan propaganda perjuangan militer, tentang pejuang-pejuang yang gugur di masa revolusi. Narasi yang dikisahkan oleh narator, yang menghubungkan satu cerita ke cerita lainnya, selalu ada “bumbu-bumbu” perjuangan dan revolusi.

amun dengan sangat pandai, Usmar Ismail mengemasnya menjadi bukan sekedar film propaganda murahan yang sekadar menonjolkan sifat heroik. Justru Darah dan Doa menjadi film tentang eksistensi manusia dalam revolusi.

Uniknya, pada tahun pembuatan film Darah dan Doa ini juga PFN (Perusahaan Film Negara) sedang memproduksi film berjudul Untuk Sang Merah Putih. Tapi film itu tidak menjadi acuan untuk dianggap sebagai awal kelahiran film nasional. Entah dengan alasan apa.

Pada 30 Maret 2018, saya pergi ke bioskop untuk menyaksikan sebuah film. Sebelum film dimulai, ada sebuah kampanye yang mengusulkan Usmar Ismail untuk diangkat menjadi pahlawan nasional.

Usulan itu sangat rasional mengingat semakin marak dan berkembangnya film-film Indonesia, tidak terlepas dari jasa seorang Usmar Ismail.

sumber: Jurnal Footage