Setahun setelah Perang Dunia II usai, seseorang bernama Earl Silas Tupper menciptakan sebuah penemuan, yang pada kemudian hari akan bersinggungan dengan keperluan rumah tangga. Ia membuat suatu wadah berbahan dasar plastik dengan kemampuan kedap udara. Apabila mengandung cairan pun tidak akan bocor. Pada 1946, Tupperware lahir.

Tetapi apalah arti penemuan Silas Tupper tanpa seorang Brownie Wise, yang memiliki jasa besar atas tumbuh kembangnya Tupperware.

Brownie Wise, yang tinggal di sebuah kota kecil di Florida, ketika itu, berinisiatif untuk menggelar Tupperware Party. Pesta itu dimaksudkan untuk promosi produk Tupperware sekaligus menjualnya.

Brownie mengajak para ibu di sekitar tempat tinggalnya. Kira-kira semacam arisan ibu-ibu RT lingkungan setempat. Dalam pesta itu, segala makanan dan minumannya tentu saja dihidangkan dengan Tupperware.

Dari situ Brownie mulai memasarkan produk Tupperware dengan sistem multi-level marketing. Bagi konsumen baru yang ingin mendapatkan diskon khusus, bisa menjadi bawahan Brownie. Di samping itu, mereka akan mendapat laba yang lumayan.

Silas Tupper kagum dengan apa yang dilakukan Brownie. Dengan inisiatif menggelar Tupperware Party, angka penjualan Tupperware meningkat drastis. Pada 1951 Brownie diangkat menjadi Wakil Direktur Pemasaran dan Tupperware semakin tumbuh besar. Tiga tahun kemudian, Brownie adalah perempuan pertama yang menjadi sampul depan majalah Business Week.

Sampai pada tahun 1991, Tupperware sampai ke Indonesia dan secara resmi mulai dipasarkan. Dari situ, kita tahu bahwa barang itu benar-benar harus dijaga.

***

Ibu saya adalah seorang guru TK. Melihat anak-anak membawa kotak makan dan botol minum adalah pemandangan lazim yang saya lihat sejak kecil. Bentuk kotak makan dan botol minumnya pun beragam, bergambar Saint Seiya, Sailor Moon, Power Ranger, dll. Sejak itu, membawa kotak makan dan botol minum ke sekolah menjadi kebiasaan.

Ibu juga selalu menyiapkannya. Isinya kadang roti dilapisi selai, kadang nasi uduk, pernah juga pisang goreng, atau bahkan ia sempatkan masak pagi-pagi untuk menu lain untuk bekal yang akan dibawa anaknya ke sekolah.

Dan tentunya sering pula berisi mie goreng. Menu favorit yang kalau sudah dingin, mie tersebut mengikuti bentuk wadahnya. Kalau wadahnya kotak bentuk mie akan ikut kotak, kalau ia berbentuk lingkaran mie pun akan mengikutinya. Menu ini paling sedap disantap setelah renang.

Sampai kira-kira usia saya dua digit, merasa sudah besar, membawa bekal dirasa tak lagi perlu. Tambahan uang jajan akan lebih baik dan praktis. Isi tas juga menjadi tidak berat.

Pernah suatu masa kotak makan tertinggal di kolong meja kelas. Keesokan paginya ibu bilang untuk bawa pulang dulu kotak makannya. Dari situ lah bermula bahwa menjaga kotak makan itu penting, atau tidak ada bekal hari ini. Padahal yang saya ingat pada saat itu belum menggunakan Tupperware.

Ingatan akan kejadian itu kembali terpanggil ketika akhir-akhir ini saya alami hal serupa. Botol minum tertinggal di kantor tempat saya bekerja. Kali ini Tupperware. Setelah beberapa hari baru tersadar saat ibu bertanya, “Siapa yang bawa botol Tupperware nih? Kok ngga ada?”. Hanya bertanya, tidak marah, tapi nada bicaranya berubah. Dan diam adalah jawaban terbaik. Muncullah sebuah kesimpulan, bahwa apabila Tupperware ibu hilang, sebaiknya kita menunda pulang.

Saya kira jokes tentang kedekatan hubungan ibu-ibu dengan Tupperware hanyalah guyonan belaka. Tapi ternyata itu benar adanya dan diangkat dari beragam kisah nyata. Narasinya seringkali digiring kepada ibu-ibu yang seolah lebih mencintai Tupperware ketimbang anaknya.

Hal itu ternyata berlaku pula bagi pasangan muda. Seorang kawan pernah bercerita bahwa ia juga kesal ketika suaminya menghilangkan Tupperware miliknya.

Tapi di sisi lain, sebagai pelaku penghilang Tupperware sebetulnya kita sedang diuji dengan mengemban amanah sebaik-baiknya. Tapi kita tak luput juga dari lupa, yang menyebabkan percikan kekesalan muncul.

Bisa saja Tupperware yang hilang diganti, meskipun harganya memang lumayan. Tapi ada yang tak bisa tergantikan, sebuah wujud cinta yang diserahkan pada kita, melalui kotak makan atau botol minum.

Dan teruntuk Earl Silas Tupper, Anda layak disandingkan dengan Alexander Graham Bell atau Thomas Alva Edison.

sumber foto: flickr.com/Thomas Hawk