Setelah lebih dari tiga puluh empat tahun usia Tabloid BOLA, ia sampai pada stasiun terakhirnya dari sebuah perjalanan panjang untuk menghadirkan narasi yang sangat informatif. Tabloid BOLA secara resmi mengatakan, bahwa Jumat, 26 Oktober 2018 adalah edisi cetak terakhirnya. Tabloid yang menyisipkan kenangan dalam ingatan tiap pembacanya ini sudah hadir sejak Maret 1984.

Saya yakin bukan hanya saya yang memiliki romantika masa kecil yang ditemani oleh tabloid ini. Awal mulanya ayah saya adalah pelanggan tabloid GO. Praktis informasi bacaan tentang olahraga yang saya miliki saat itu hanyalah dari GO.

Pertukaran informasi soal olahraga, khususnya sepakbola, di sekitar sekolah dan lingkungan rumah selalu menarik. Ada satu anak yang cukup menguasai informasi yang tidak saya miliki. Suatu saat saya bertanya: tahu dari mana beritanya? Baca koran apa?, dia menjawab: “Bola”.

Sampai suatu waktu saya melewati depan kios loper koran, melihat Tabloid BOLA dibungkus plastik dan digantung, dengan informasi pertandingan dan judul singkat yang seringkali berima pada sampul depan.

Sejak saat itu, menjelang akhir pekan ritual mampir ke kios loper koran tadi adalah kegiatan wajib untuk tahu jadwal pertandingan. Untuk sekadar berhenti dan melihat saja. Uang jajan saya tidak cukup untuk beli.

Proposal pengajuan untuk ganti berlangganan dari GO ke Tabloid BOLA ditolak ayah. Akibatnya, menyisikan sedikit uang jajan untuk mulai membeli dan membacanya menjadi pilihan yang tak terelakan. Jika terlalu kepepet, berpura-pura main ke rumah teman yang berlangganan BOLA adalah pilihan terakhir.

sumber gambar: Instagram Tabloid Bola

Setelah cukup rutin interaksi dengan Tabloid BOLA, saya merasa tidak kalah untuk membawa pengetahuan olahraga, khususnya sepakbola, pada obrolan barisan belakang sidang Jumat saat khatib sedang berkhutbah di mimbar bersama kawan sejawat.

Tabloid BOLA ini sedikit banyak mempengaruhi pemikiran saya sejak kecil. Saya pernah menarik kesimpulan bahwa untuk menjadi seorang penyerang yang ideal dan membahayakan, rambutnya haruslah gondrong. Ivan Zamorano adalah salah satu alasan yang membuat saya beranggapan bahwa pemain depan yang gondrong itu keren. Di samping itu, nyentrik juga perlu. Tidak perlu secara berlebihan, tapi dengan penggunaan nomor punggung 1+8 yang digunakan oleh Zamorano.

Selain Zamorano, nama-nama yang pernah muncul dan dibahas oleh Tabloid BOLA, seperti Gabriel Batistuta, Marcelo Salas, Claudio Lopez, Filippo Inzaghi, dan striker gondrong lainnya.

Narasi semacam ini dihadirkan oleh Tabloid BOLA dengan sangat dekat di depan saya. Meskipun kesimpulan yang saya tarik sendiri cukup aneh tentu saja, tapi itu nyatanya. Bahkan secara tidak langsung, untuk memutuskan memiliki rambut gondrong saat kuliah itu sedikit banyak saya dipengaruhi oleh Tabloid BOLA.

Setelah membaca Tabloid BOLA seolah pengetahuan meningkat tajam. Bukan hanya soal sepakbola, tapi olahraga lain juga. Tabloid BOLA yang mengingatkan saya bahwa setelah era Mick Doohan dan sebelum Valentino Rossi, ada terselip satu nama yang patut diperhitungkan: Alex Criville. Pebalap Spanyol pertama yang menjadi juara dunia MotoGP 500cc, waktu itu.

Kemudian Tabloid BOLA juga yang mengenalkan petinju keturunan Meksiko yang layak ditunggu aksinya selain Oscar De La Hoya, ia adalah Erik Morales. BOLA mengenalkan saya pada nama itu. Salah satu pertandingan terbaiknya adalah ketika ia berhadapan dengan Marco Antonio Barrera.

sumber gambar: Tabloid BOLA

Namun seiring berjalannya waktu, perkembangan teknologi semakin pesat, kebutuhan atas ketersediaan akses informasi semakin meluas. BOLA mulai saya tinggalkan perlahan. Era digital banyak melakukan perubahan pada tingkah polah manusia.

Terima kasih, Tabloid BOLA. Terima kasih telah menemani dan memberikan informasi yang berharga. Bagaimanapun, Tabloid BOLA juga memiliki peran dalam perkembangan hidup banyak orang, setidaknya saya pribadi.

Mungkin memang bukan Tabloid BOLA yang menghadirkan ke depan mata kita semua, tapi kita yang digiring langsung dan dibawa ke arena olahraga oleh mereka.