Usai sudah hajatan besar sepakbola empat tahunan yang hadir sebagai penghibur. Tidak terasa sebulan lamanya Piala Dunia menghibur kita.

Saya tulis “kita” lantaran Piala Dunia diciptakan bukan hanya untuk sebagian kelompok. Lebih luas, bukan hanya Piala Dunia, melainkan olahraga itu sendiri.

***

Malam demi malam tak pernah terlewati.

Ibu menyiapkan pisang goreng dan singkong rebus untuk nobar malam ini. Ayah sibuk mencari saluran televisi yang gambarnya tak terlalu jernih. Dua anak berbagi peran, yang satu pergi ke warung untuk membeli kacang kulit dan kopi saset, yang satu sibuk membetulkan posisi antena bersama ayah.

Begitu pertandingan dimulai, semua sudah kumpul di rumah, dan terhipnotis di depan layar kaca. Sepakbola melalui Piala Dunia dapat membuat rumah petak kecil terasa begitu hangat dari biasanya.

Pertandingan demi pertandingan tersaji.

Dalam sebuah obrolan ringan, komentar dan pertanyaan dari beberapa orang yang tidak menyukai sepakbola bisa saja terdengar menjengkelkan. “Jerman payah”, “Spanyol kok bisa ngga lolos?”, “Inggris sudah pernah juara dunia belom sih?”, “Argentina pelatihnya goblok”, dan lain sebagainya. Namun hal itu ditanggapi oleh yang lain dengan sabar, dijelaskan dengan sederhana, tanpa tendensi apa-apa.

“Yuk, taruhan! Yang kalah traktir eskrim ya!”
“Boleh. Gue Belgia ya.”
“Oke. Kita sekalian nobar aja deh yuk!”
“Ngga deh. Gue nonton di rumah aja.”

Adalah sebuah contoh akal-akalan yang umum demi menutupi maksud lain dibalik taruhan. Meski kenyataannya memang sebuah rencana tak selalu berjalan dengan mulus.

***

Dengan berakhirnya Piala Dunia, maka beberapa hari ke depan dan seterusnya akan berkurang pula konten perbincangan mengenai olahraga yang masuk ke dalam kehidupan sehari-hari. Tiap peristiwa di Piala Dunia kerap kali membuat sebuah obrolan terasa ringan dan dekat.

“Ketika dunia batasnya semakin lebur, pergerakan manusianya semakin cepat, perlintasan bahasa dan budaya semakin sering terjadi, memang dibutuhkan kelenturan dan keterbukaan hati. Dibutuhkan pemaknaan-pemaknaan baru akan yang dinamakan kesetiaan, keterikatan, dan kebangsaan. Sepakbola banyak dan bisa mengajarkan itu,” begitu kata penulis olahraga masyhur Indonesia, Yusuf Arifin, menulis dalam bukunya.

Bukan hanya sepakbola sebetulnya, segala macam olahraga bisa merobohkan beragam sekat yang membatasi.

Kita tak pernah peduli Kevin Sanjaya bermata sipit atau belo. Kita begitu superior dengan perbedaan yang dimiliki oleh Lilyana Natsir dan Tontowi Ahmad di ganda campuran.

Baru-baru ini kita juga dikejutkan oleh kemenangan Lalu Muhamad Zohri pada Kejuaraan Dunia Atletik U-20. Kita tak pernah tahu dari provinsi mana ia berasal. Bahkan ia ikut kejuaraan itu pun kita tidak tahu.

Tetapi begitu terdengar kabar bahwa ia juara dunia sehinggan lagu Indonesia Raya berkumandang di sana, ramai-ramai kita kecipratan rasa bangga.

Agenda olahraga besar dalam waktu dekat ini adalah Asian Games. Kita mendapat kehormatan untuk menjadi tuan rumahnya. Jakarta dan Palembang adalah dua kota yang akan menggelar salah satu pesta olahraga akbar se-Asia ini. Pembangunan infrastruktur dikebut, rekayasa lalu lintas diuji, hingga makin gencar melakukan publikasi.

Hiasan yang bersinggungan dengan Asian Games kian menjamur dan masuk ke sudut-sudut ibukota. Mulai dari gang-gang sempit yang disulap dengan cat warna-warni, hingga spanduk dan baliho. Meski baliho masih seringkali harus bersaingan dengan wajah orang-orang caper ketimbang menampilkan muka-muka pengharum nama bangsa.

Mestinya kian kemari kita menyadari bahwa olahraga adalah sebuah alat perekat. Olahraga bisa membuat kita lupa perbedaan.

You never know in sports; that’s why you play the games.