Pesta olahraga terbesar se-Asia yang berlangsung kurang lebih dua pekan di Jakarta dan Palembang resmi ditutup. Penyelenggaraan pun terbilang sukses.

Bagaimana tidak, selain menyajikan pembukaan dan penutupan memukau, Indonesia mampu menduduki posisi ke-4 dalam urusan perolehan medali–dengan mengoleksi 98 medali: 31 emas, 24 perak, dan 43 perunggu.

Jumlah ini hampir dua kali lipat dari target awal yang ditetapkan sekaligus sebagai raihan terbaik sepanjang keikutsertaan Indonesia di ajang Asian Games.

Momen Asian Games rasanya sah-sah saja untuk dikenang dalam waktu dekat maupun panjang. Pada momentum itu kejadian demi kejadian tersaji, hasil rangkumannya beragam. Pemandangan tiap para atlet kita berhasil mendapat poin seringkali melambungkan rasa optimis, menghadirkan semangat, memercikkan harapan, dan mengangkat kebanggaan setinggi-tingginya.

Seringkali yang ingin menonton langsung ke arena sudah kehabisan tiket. Namun hal itu tak serta merta menyurutkan dukungan kita. Kegiatan sehari-hari sementara bisa tertunda, nobar digelar, di kantor, di sekolah, atau di tempat umum lainnya.  Apalagi setelah memasuki babak-babak krusial.

Selama dua pekan terakhir, kita cukup dibanjiri informasi tentang Asian Games. Cabang olahraga yang mungkin pada mulanya jarang kita ketahui mendadak dapat perhatian. Khususnya sorotan untuk para atlet, dan memang ini panggung mereka. Mulai dari yang memang sudah familiar, sampai yang bahkan awalnya tidak pernah kita kenal.

Cerita para atlet juga bergam. Ada pasangan suami istri yang sama-sama meraih medali emas, ada si kembar, ada pula yang memiliki hubungan darah sebagai adik kakak, ada cerita dari latar belakang atlet yang berasal dari keluarga tidak mampu, hingga atlet yang super kaya. Semua berjuang dan bernaung di bawah nama Indonesia.

Bagaimanapun, olahraga telah mampu menciptakan persatuan. Salah satu momen yang barangkali akan banyak diingat oleh masyarakat adalah saat rangkulan dari atlet pencak silat kita terhadap kedua calon presiden yang akan bersaing pada Pemilu 2019. Sejak itu, kita tahu bahwa kita berutang banyak pada olahraga.

Terima kasih olahraga, terima kasih Asian Games, dan terima kasih juga pada Bung Wage Rudolf. Lagu Indonesia Raya diputar sebanyak 31 kali dalam dua pekan, Bung. Lagu itu juga diiringi tangis haru dan rasa bangga yang menjulang.

sumber Foto: ANTARA FOTO/INASGOC/Nova Wahyudi