Pasangan Saljowidodo dan Kusmaniah memiliki putri bungsu yang lahir beberapa tahun sebelum kemerdekaan Indonesia diproklamirkan. Anak perempuan itu bernama Nurhayati Sri Hardini, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Nh Dini.

Lahir 29 Februari 1936 di Semarang, Jawa Tengah, Nh Dini pernah memiliki cita-cita sebagai seorang masinis. Namun pada saat itu tidak tersedia sekolah bagi calon masinis. Ia pun beralih menuju ke dunia yang hingga kini membesarkannya, kesusasteraan.

Kecimpung Dini di dunia kesusasteraan tak lepas dari peran dari sang ibunda, Kusmaniah: mengakrabkan Dini dengan cerita. Dini mulai bermain dengan aksara sejak dini.

Kelihaiannya mulai mencuat ketika hasil karangannya dijadikan contoh terbaik oleh guru Bahasa. Di samping itu, karya pertamanya yang berjudul Pendurhaka itu juga mencuri perhatian HB Jassin. Tulisan itu juga dimuat dalam Majalah Kisah.

Dini juga adalah seorang pramugari yang aktif menulis. Kumpulan cerpennya diterbitkan pada 1956 dengan judul Dua Dunia. Industri penerbangan mempertemukannya dengan seorang diplomat asal Perancis, Yves Coffin. Mereka pun menikah pada 1960 dan dikaruniai dua orang anak, Marie-Clarie Lintang Coffin dan Pierre-Louis Padang Coffin.

Pernikahannya dengan seorang diplomat memaksa ia untuk bersedia ikut kemanapun suaminya ditugaskan. Ia pernah menetap di Jepang selama tiga tahun, lalu ke Kamboja. Ikut ke negara suaminya, Perancis, pada 1966. Lalu ikut lagi dengan suaminya ke Filipina, hingga ke Amerika Serikat. Namun kecintaannya pada menulis tidak pernah luntur.

Pernikahan Nh Dini dengan suaminya tidak langgeng hingga akhir hayat. Mereka berpisah pada 1984, dan mendapatkan kembali status kewarganegaraan Indonesia pada 1985.

Kepakan sayap Dini kian kencang di dunia literasi. Ibu dari seorang animator Minions ini mendirikan Pondok Baca Sekayu di Semarang.

Dalam sebuah buku Yang Datang Telanjang, yang berisi kumpulan surat Ajip Rosidi 1980-2002, Ajip Rosidi beberapa kali menulis surat untuk Nh Dini. Dalam beberapa suratnya yang ditulis dari Jepang itu juga Ajip Rosidi membicarakan banyak hal pada Dini. Termasuk menanyakan perkembangan Pondok Baca Sekayu. Meski membicarakan juga hal lain, mulai dari politik, buku-buku, hingga polemik pendirian masjid Amir Hamzah di lingkungan TIM.

Karyanya yang cukup terkenal dan fenomenal adalah Pada Sebuah Kapal (1972). Namun di samping itu masih berderet lagi goresan tintanya dalam karyanya yang berjudul La Barka (1975), Namaku Hiroko (1977), Orang-orang Tran (1983), Pertemuan Dua Hati (1986), Hati Yang Damai (1998), Dari Parangkik ke Kamboja (2003), dan masih banyak lagi karya-karya lainnya.

Perempuan yang ulang tahunnya dirayakan setiap empat tahun sekali ini juga kerap diganjar berbagai penghargaan. Ia pernah menerima Hadiah Seni untuk Sastra dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada 1989. Pada 1991 ia menerima penghargaan Bhakti Upapradana Bidang Sastra dari Pemerintah Daerah Jawa Tengah.

Ia pernah mendapat SEA Write Award dari pemerintah Thailand pada 2003, Hadiah Francophonie pada 2008, Achmad Bakrie Award pada 2011. Namanya juga disebut untuk menerima penghargaan seumur hidup (lifetime achivment award) dari penyelenggaran Ubud Writers and Readers Festival di Bali pada 2017.

Sayangnya duka datang, salah satu pionir penulis perempuan di dunia sastra Indonesia terlibat dalam kecelakaan yang menyebabkannya tutup usia. Pekerjaannya untuk keabadian telah usai.

Selamat jalan, Bu!

***

sumber foto utama: kompas.com