Apa benar industri kreatif di Indonesia kini mulai kembali bersuara? Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2015 Tentang Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) telah lahir. Bidang ekonomi kreatif yang semula bernaung di bawah Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, kini dipisah dan berdiri sendiri.

BEKRAF diminta untuk menaungi beberapa sektor ekonomi kreatif di Indonesia: musik, fesyen, film, animasi video, fotografi, kriya (kerajinan tangan), kuliner, aplikasi dan pengembangan game, arsitektur dan desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, penerbitan, periklanan, seni pertunjukan, rupa, televisi dan radio.

Era digital menyediakan berbagai platform, seperti Spotify, Youtube, Bandcamp, Vevo, dan Netflix, dll. Tapi masih banyak ditemukan karya- karya seperti musik dan film dalam bentuk CD atau DVD bajakan. Tidak hanya itu, beberapa kasus juga membahas penjiplakan sebuah karya.

Event yang berisi musisi lokal memiliki minat penonton yang tinggi. Tak jarang terdengar kabar bahwa event-event tersebut sold out. Namun industri musik tanah air menghasilkan dikotomi antara “indie” dan “major” label yang semakin terasa gaungannya.

Animasi video dan film juga sedang bangkit dengan munculnya sekolah-sekolah yang mengedepankan animasi sebagai bidang utama. Salah satu contoh adalah DOES University, milik vokali Endank Soekamti, Erix. Selain itu, komunitas Jakarta Movement of Inspiration melalui teater musical yang telah berhasil membuat 3 pertunjukan yaitu, “Musikal Sekolahan”, Gemuruh, dan “Musikal Petualangan Sherina”. Perfilman Indonesia juga semakin mewarnai bioskop-bioskop atau festival-festival film yang digelar di berbagai kota di Indonesia.

Industri kreatif secara umum sangat bertumpu pada Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Industri kreatif sebagai industri yang berpondasi kepada ide dan karya, membutuhkan suatu bentuk perlindungan dari segala bentuk pembajakan agar mampu berkembang. Untuk itu, pengetahuan dan pemahaman akan HKI sangat diperlukan bagi para penggiat industri kreatif.

Lalu bagaimana kondisi industri kreatif di Indonesia? Apakah industri dan kreatif yang menjadi satu frasa itu tidak bertentangan? Apa yang dimaksud dengan HKI?

Pertanyaan demi pertanyaan tersebut akan dibahas satu per satu dalam sebuah talkshow bertajuk “Evolusi Industri Kreatif untuk Selalu Eksis” bersama Glenn Fredly (Singer & Co-Founder Musik Bagus Day), Nurul Susantono (Founder Jakarta Move-In), dan Jay Subiakto (Film Director) di IndonesianYouth Conference 2017 x Kibar, yang akan diselenggarakan di Townsquare, Cilandak, Jakarta, Sabtu 16 Desember 2017.

View this post on Instagram

Taukah kamu, adaptasi adalah kunci untuk terus eksis dalam sebuah ekosistem dan di era digital saat ini. Musisi maupun pelaku seni lainnya pun sangat terbantu dengan adanya berbagai channel untuk menyebarluaskan karya mereka. . Ikuti talkshow industri vs kreatif: "Evolusi Industri Kreatif Untuk Selalu Eksis" ini, untuk mendapat inspirasi bagaimana pelaku industri kreatif di Indonesia terus eksis dalam era yang semakin banyak pilihan untuk berkarya. Serta membahas apa yang bisa dilakukan untuk menjaga karyanya tetap terlindungi. . Segera beli tiketnya di indonesianyouth.id yaa! 😊 . . . . . . #IYC #IndonesianYouth #IndonesianYouthConference #Youth #YouthConference #IYCatCitos #KamiMasaDepan

A post shared by IndonesianYouth (@indonesianyouth) on

Bagi kamu yang penasaran dan ingin terlibat bisa langsung mengunjungi indonesianyouth.id untuk pemesanan tiket. Jangan sampai kamu kehabisan. Pantau terus update-nya di semua saluran informasi IndonesianYouth seperti situs Instagram, Facebook, ataupun Twitter.

Baca juga:

Sejak 2010 IYC telah hadir menjadi sarana bagi Anak Muda Indonesia untuk mengembangkan pengetahuannya di berbagai bidang, sebagai bekal di masa depan. Itulah sebabnya IYC tahun ini mengusun tema “Kami Masa Depan”.

Selain itu konsep yang dibentuk kali ini menghadirkan tiga diskusi besar yang terbagi menjadi tiga, Talkshow, Public Discussion, dan Workshop.

Pada sesi Talkshow atau sharing session para ahli akan berbagi pengalaman dan pengetahuan mereka dalam meningkatkan awareness dan pemahaman peserta terhadap isu yang dibawakan.

Kemudian pada sesi Public Discussion peserta akan terlibat pada diskusi yang lebih dalam bersama narasumber dan peserta lainnya untuk mengaktivasi perbincangan, berpikir kritis, dan aksi yang lebih jauh.

Lalu pada sesi Workshop peserta dapat belajar secara langsung, bertukar pikiran dan berbagi pengalaman, serta mempraktikan hasil diskusi bersama pakar di bidangnya.