Women’s March Jakarta 2018 Menegaskan Isu Perempuan Multisektoral -Pada 3 Maret 2018, ribuan orang turun ke jalan Thamrin untuk menyuarakan tuntutannya dalam rangka Women’s March Jakarta. Ini adalah aksi Women’s March kedua yang diadakan di Jakarta. Tema besar Women’s March tahun ini adalah gerakan melawan kekerasan berbasis gender, meskipun tuntutan yang disampaikan peserta aksi tak terbatas di tema tersebut.

Di antaranya adalah sekumpulan pekerja rumah tangga (PRT) yang tergabung dalam organisasi Jala PRT. Mereka menuntut diakuinya PRT dalam undang-undang. Hal ini dianggap penting karena undang-undang terkait ketenagakerjaan yang ada kini belum melindungi PRT. “Jumlah kita banyak, tapi kita tidak diakui sebagai pekerja!” seru mereka.

“Jam kerja kami, PRT yang menginap, seperti tak terbatas, tetapi gaji kami di bawah UMR,” jelas Siswati dari Jala PRT pada konferensi pers sebelum aksi ini digelar.

Aksi ini juga dihadiri oleh para buruh perempuan. Salah satu poster mereka menyerukan “25 ribu tidak sama dengan 50 ribu.” Poster ini menunjukkan ketidaksetaraan upah buruh laki-laki dan perempuan; upah buruh laki-laki, per poster ini, lebih tinggi karena “uang rokok.”

Ada pula seruan untuk memperhatikan buruh migran perempuan. Selain kasus Adelina yang mencuat tahun ini, Migrant Care menunjukkan bahwa banyak ancaman yang mengancam buruh migran mulai pendaftaran hingga ia kembali ke tanah air. Anis Hidayah dari Migrant Care menuturkan pada konferensi pers bahwa calon buruh migran, di antaranya, bisa dilecehkan saat ia cek kesehatan, disiksa di tempat kerjanya, dan dimusuhi ketika kembali ke tanah air.

Terkait buruh migran perempuan, di sini masyarakat juga diajak memantau kembali kasus-kasus narkotika yang melibatkan buruh migran perempuan. “Perempuan dengan kasus narkotika juga manusia!” seru sebuah poster di Women’s March.

Hal ini merujuk pada terjeratnya buruh migran dan korban perdagangan manusia — yang mayoritasnya perempuan — yang terjerat kasus narkotika karena mereka tertangkap sebagai kurir. “Mereka dieksploitasi menjadi kurir narkotika tanpa mereka ketahui, kemudian tertangkap dan terancam eksekusi,” tutur Nayla, wakil ketua panitia Women’s March Jakarta.

Tuntutan-tuntutan di atas adalah sebagian contoh berbagai cara pemiskinan perempuan, yang disebut sebagai akar kekerasan berbasis gender. Penyelesaian masalah ini adalah salah satu tuntutan Women’s March Jakarta 2018.