Percakapan tentang sepakbola sudah pasti lebih panjang dari olahraga itu sendiri, maka ia adalah bagian yang besar dari budaya sepakbola. Ia mempersatukan profesional hingga penggemar musiman. Ini dimungkinkan oleh setidaknya dua hal: antusiasme pada sepak bola dan bahasa.

Antusiasme ini adalah bahasa universal. Semua tahu makna nyanyian penyemangat Brazil, thunderclap ala Islandia, dan tangisan kekalahan Mesir. Tetapi, yang tak se-universal itu adalah bahasa.

Misalkan begini: Saya tentu akan ikut kegirangan ketika komentator Spanyol, Jerman, Prancis, atau dari manapun berteriak “Gol!” dengan sangat panjang di teve.

Namun saya tak terlalu paham ketika komentator sudah berbicara panjang lebar menjelaskan taktik atau mengulas jalannya pertandingan pada segmen prapertandingan.

Nah, ibarat bahasa komentator tadi, yang tak aksesibel untuk saya, percakapan sepakbola arus utama ini juga tak selalu aksesibel untuk, misalnya, masyarakat tuli.

Saya tak hendak menyamakan keduanya–masalah aksesibilitas masyarakat tuli lebih rumit dari sekadar tak paham bahasa–namun intinya adalah jika percakapan ini adalah bagian besar dari budaya sepak bola, mereka bisa tak kebagian menikmatinya.

Karena inilah Persatuan Sepak Bola Jerman, Persatuan Klub Penggemar Tuli Sepak Bola, yayasan sosial Aktion Mensch, dan koran sekolah luar biasa Mühlezeitung der Zieglerschen, merilis daftar nama-nama pemain timnas Jerman yang akan berlaga di Piala Dunia 2018 dalam bahasa isyarat.

Isyarat-isyarat ini didasari oleh nama, wajah, posisi permainan, atau keunikan pemain masing-masing. Misalnya, isyarat Manuel Neuer sama dengan isyarat untuk kata “Neu”, yang berarti “baru”.

Kemudian Thomas Mueller, yang dikenal banyak melucu, mendapat isyarat yang sama dengan isyarat tertawa. Ada juga Mesut Oezil dengan menandakan matanya yang unik, maka isyarat untuk namanya adalah dengan menunjuk mata.

Daftar pemain timnas Jerman dalam bahasa isyarat

kredit: DFB, Aktion Mensch, Mühlezeitung der Haslachmühle, dan DDDF.

Selain itu, disediakan pula video-video yang menunjukkan isyarat-isyarat untuk istilah-istilah sepakbola seperti umpan, pemain sayap, dan offside, seperti tersaji dalam channel televisi Jerman, ZDF dan ARD–televisi plat merah Jerman yang menayangkan Piala Dunia 2018.

Kedua channel itu memang tak menyediakan komentator dalam bahasa isyarat. Namun mereka menyediakan subtitel secara langsung, sehingga kehebohan komentator bisa dinikmati pula oleh masyarakat tuli.

Momentum Piala Dunia, saat sepak bola dibicarakan lebih sering dari biasanya, digunakan oleh organisasi-organisasi tersebut untuk memperluas jangkauan sepak bola.

Apa yang sudah dilakukan Jerman melalui ZDF dan ARD sepertinya belum bisa kita saksikan di layar kaca Indonesia. Meski begitu saya berharap FIFA membakukan aturan ini kepada seluruh pemegang hak siar Piala Dunia di edisi-edisi selanjutnya.

The Beautiful Game, toh, diklaim sebagai olahraga dengan jangkauan terluas, maka haruslah ia membuat semua orang menikmati budayanya.

sumber gambar utama: NSS Magazine