Seandainya Manusia Mendadak Tiada di Bumi – Menurut saya, cara yang paling mudah untuk mengukur seberapa besar pengaruh manipulasi manusia terhadap alam adalah dengan membayangkan bumi tanpa manusia.

Sebagai perumpamaan, kita bisa melihat Zona Terdemiliterisasi (DMZ). Lokasinya terletak di antara Korea Selatan dan Korea Utara. Zona ini sengaja diciptakan sebagai wilayah ‘penahan’ konflik antara kedua negara tersebut. Karena fungsinya ini, DMZ menjadi tanah yang hampir tak tersentuh manusia.

Sejak, setidaknya, tahun 1940-an, hutan-hutan Korea banyak ditebangi untuk menjadi bahan bakar dan lahan pertanian. Kemudian, Perang Korea pada 1950 hingga 1953 meluluhlantakkan Semenanjung Korea. Usai perang ini, kedua negara setuju untuk memetakan DMZ.

Perusakan alam berlanjut di luar zona yang disetujui untuk dikosongkan ini; pada jangka waktu 1960 dan 1970-an, industrialisasi tak terkendali mengotori Semenanjung Korea. Sementara, DMZ tak tersentuh manusia, toh, karena di sana memang penuh ranjau darat. Bangau Manchuria dan bangau leher putih –keduanya satwa langka– menjadi penduduk terkenal zona ini.

Menurut riset-riset yang dilakukan di Zona Kontrol Sipil di selatan DMZ, diperkirakan terdapat 100 spesies ikan, 45 jenis hewan amfibi dan reptil, serta 1000 spesies serangga. DMZ akhirnya menjadi suaka bagi keberagaman hayati: bentang darat yang tenang dan khidmat.

Kita juga bisa membayangkan bagaimana kota dan desa tanpa manusia. Ingatlah peradaban suku Maya yang punah dan tertutup hutan; beton yang ditanam manusia bisa pula tertutupi tumbuhan, yang juga mengurai jalan-jalan dan gedung-gedung. Air pun bisa merembes ke struktur-struktur ini, dan mempercepat penghancurannya. Yang liar mengalahkan yang diatur; hutan beton menjadi hutan betul.

Ini bukan berarti manusia selalu berpengaruh buruk pada bumi. Namun, ini adalah pengingat bahwa manusia telah banyak memanipulasi bumi untuk kepentingannya. Perkiraan bahwa berbagai spesies tanaman dan hewan yang dibudidayakan akan mengalami devolusi atau kepunahan tanpa manusia adalah bukti pencapaian yang luar biasa. Tapi, jika kita membayangkan bagaimana alam bisa mengambil kembali kendali, kita perlu mempertanyakan batas kita.

Pelanggaran batas terjelas adalah perubahan iklim. Iklim bumi memang selalu berubah, tapi tak pernah secepat ini dan begitu dipengaruhi oleh manusia. Air laut begitu cepat naik dan mengancam kehidupan pesisir, memaksa perubahan sosio-geografis yang lebih cepat dari perubahan sejenis yang terjadi sebelumnya dalah sejarah kita.

Selain itu, perubahan iklim bisa juga akan mengganggu pertanian, akses pada air, dan kualitas udara — sedikit dari banyak hal yang vital dalam kehidupan.

Mungkin, manusia bisa menanggulangi perubahan ini. Namun, itu bukan berarti perubahan iklim bisa dianggap enteng. Pola pikir yang menganggap remeh perubahan iklim inilah yang menghambat, misalnya, transisi dari bahan bakar karbon ke sumber energi bersih. Kita tak bisa menambatkan penanggulangan perubahan iklim — masa depan manusia — pada pengembangan dan pembangunan yang disetir oleh pola pikir ini.

Kembali pada betapa hebatnya — tanpa memikirkan negatif atau positif — pencapaian manusia, kita harus tetap optimistis. Ilmuwan terus mencari solusi perubahan iklim, para aktivis pun terus memperjuangkannya. Di dunia yang begitu terkoneksi ini, kita bisa menyelesaikan masalah itu bersama-sama dengan lebih mudah, dibanding masa saat akses terhadap informasi daring dan di dunia nyata tak seterbuka sekarang.

Pada akhirnya, kita bukan menyelamatkan bumi. Toh, tanpa kita, alam akan merangkak hingga berlari, mengambil kendali. Asteroid yang menabrak bumi dan memusnahkan dinosaurus juga tak menghancurkan bumi: kawah yang ia tinggalkan, kini, menjadi sumber kehidupan.