Pernahkah kita bertanya, bagaimana nasib kita tanpa lebah? Melalui merekalah penyerbukan 70 dari sekitar 100 tanaman yang dikonsumsi 90 persen manusia terjadi. Tanpa mereka yang kecil dan kadang dihindari karena sengatannya ini, setidaknya sektor pertanian akan kerepotan. Bahkan manusia terancam kelaparan.

Karena posisi itulah mereka bisa dianggap patokan kesejahteraan ekologis–tak hanya di sektor pertanian, namun juga di hutan.

Hutan yang mendukung berkembangnya populasi lebah juga balik berkembang karena adanya lebah yang membantu proses perkembangbiakan beragam tumbuhan di hutan.

Proses penyerbukan ini pun menghasilkan madu. Di hutan yang heterogen, madu yang dihasilkan lebah di wilayah itu pun bisa berbeda tiap panennya.

Di Deli Serdang, Sumatera Utara, misalnya, madu hutan hitam berasal dari koloni lebah yang mengisap nektar bunga dadap, sedangkan kuning bila lebah mengisap bunga kayu hutan. Rasanya pun berbeda.

Maka, madu juga bisa menjadi indikator keragaman hayati. Beragamnya karakter madu menandakan lebah mengisap tumbuhan yang beragam pula. Selain menandai keberadaan tumbuhan, adanya madu juga menandakan sedang berkembangbiaknya tumbuhan tersebut.

Posisi lebah sebagai fasilitator perkembangbiakan tumbuhan ini membuatnya menjadi penanggung jawab keberlanjutan berbagai spesies tumbuhan. Andai lebah tak ada, tumbuhan yang bergantung pada lebah–terutama yang hanya bisa diserbuki lebah–bisa berkurang, bahkan hilang, lalu punah.

Musnahnya tumbuhan juga kemudian mempengaruhi penghidupan hewan-hewan yang bergantung pada mereka baik untuk makanan maupun tempat tinggal. Pengaruh ini bisa naik sampai puncak rantai makanan. Hal itu menegaskan kembali: Lebah adalah indikator kesejahteraan ekologis.

Sayang, hilangnya daerah hutan–terutama karena alih fungsi lahan–menekan ruang hidup lebah. Mereka tak hanya kehilangan pohon yang biasa menjadi tempat tinggal, namun juga makanannya. Sudah sulit menjalankan kegiatan lebah seperti biasa, keadaan ini juga mempersulit lebah berkembang biak.

Tak sembarang pohon bisa jadi tempat sarang lebah. Cornelius Sembiring, petani madu hutan tradisional di Deli Serdang, pada Mongabay Indonesia, misalnya, yang mengatakan bahwa lebah hanya membuat sarang di beberapa jenis pohon saja. “Pohon sililis, tualang, dan kesumpat,” katanya.

Sedangkan hutan yang dialihfungsikan biasanya menjadi perkebunan sawit monokultur, sehingga berbeda jauh dengan karakter lahan aslinya. Pertanian yang memberi makan kita memang salah satu pendorong terbesar hilangnya keragaman hayati, dan perkebunan sawit adalah salah satu pentolannya.

Ramsyah, petani madu hutan di Nunukan, Kalimantan Utara, menunjukkan madu hasil panennya.

kredit: Ali Mustofa/Mongabay Indonesia

Menurut riset Liow et al., pada 2001, di hutan Malaysia dan Singapura, alih fungsi hutan menjadi perkebunan sawit terbukti telah menurunkan populasi lebah–meskipun jumlah spesiesnya meningkat. Riset-riset lain juga membuktikan penurunan jumlah spesies bagi hewan-hewan lain seringkali bersamaan dengan penurunan populasi (Turner, Snaddon, Ewers, Fayle, & Foster, 2011).

Penghapusan hutan untuk pertanian yang tidak berkelanjutan memulai ‘lingkaran setan’, di mana tidak adanya pohon naungan dan konsumsi lebah menekan populasi lebah itu sendiri, dan begitu juga sebaliknya–tumbuhan yang masih ada lebih sulit berkembang karena berkurangnya lebah.

Jika lebah begitu penting, mungkinkah kita mengambil jalan pintas dengan memperkenalkan lebah yang bukan dari hutan terpangkas ini?

Sekalipun memilih jalan pintas, tetap harus dengan sangat hati-hati. Tak semua lebah sama, dan lebah tidak asli dari suatu daerah bisa menjadi spesies yang invasif. Terpenting, jangan sampai mengancam keberadaan lebah lokal yang perilakunya unik sesuai dengan wilayah yang dihuninya.

Contohnya adalah impor lebah madu ke Australia oleh Inggris. Tak cuma imperium Britania yang menginvasi bumi masyarakat Aborijin–lebah yang mereka bawa pun menekan keberadaan lebah tak bersengat asli tanah itu.

Maka, konservasi yang teliti dan pertanian yang berkelanjutan harus digalakkan.

Karena memang sulit rasanya mengabaikan bila hutan adalah penyerap gas rumah kaca terpenting. Perkebunan sawit memang berisi tumbuhan juga, namun mereka tak menyerap karbon sebaik hutan kaya yang mereka gantikan. Berkurangnya hutan berarti berkurangnya penyerap gas karbon yang menanggulangi efek rumah kaca–“pelaku” perubahan iklim.

Telah terbukti, perubahan iklim memperparah perubahan pola kehidupan di ekosistem tersebut–baik oleh manusia maupun biota lain yang terkena imbas.

Perubahan memang selalu ada, tetapi manusia mempercepatnya dan bisa saja banyak yang harus susah payah mengikuti–termasuk kita sendiri. Terbukti: petani madu hutan di Nunukan, Kalimantan Utara, misalnya, makin merasakan berkurangnya panen mereka.

“Dulu,” ujar salah satu petani, Ramsyah, pada Mongabay Indonesia “berburu madu menjadi penghasilan utama kita karena bisa setiap minggu kita dapat memanennya, tetapi sekarang menjadi mata pencaharian sampingan karena susah untuk mencarinya.”

Itu terjadi, masih menurut Ramsyah, karena makin berkurangnya pohon sarang lebah hutan yang ‘keramat’: Menggaris, matodon, kalajumi, dan bicak–yang ditebang demi kebun sawit atau tambang.

Keberagaman madu hutan–yang berubah atau berkurang karena alih fungsi lahan hutan–adalah nilai tukar ekologis (ecological currency). Ialah simbol berkah dari tanah ini. Madu memang tetap bisa didapat. Lebih dari itu, lebah bisa dibudidayakan. Namun, kita harus teliti: Jangan-jangan kita sebenarnya kehilangan.