Jersi sepakbola pertama saya adalah kaos KW. Palsu, tiruan, imitasi, atau apalah sebutannya. Waktu itu menjelang Euro 2012 dan saya mulai ingin terlihat seperti penggemar sepak bola, tetapi tak mau terlalu mencolok.

Pilihan pertama saya jatuh pada jersi home tim nasional Jerman berwarna putih dengan tiga garis tipis melambangkan bendera Jerman di depan, lengkap dengan tiga garis hitam di pundak.

Die Weltmarke mit den drei Streifen — “Merek global dengan tiga garis” — tertulis di label kaos itu, meskipun ia bukan produk Adidas betulan. Ada pula hologram yang tidak bisa dilepas di pojok bawah: supaya mirip yang asli, katanya.

Menurut penjual, kaos itu memang kaos tiruan kualitas terbaik — KW Super. “Ini sudah mirip banget sama yang asli. Yang asli kan lebih dari 500 ribuan,” ujarnya.

Jersi KW mengisi pasar yang tidak mampu (atau tidak mau) membeli kaos asli. Ia menjadi solusi untuk penggemar dengan seberapa dikit pun modalnya agar tetap bisa–bila layak terlalu dinilai berlebihan–mendukung tim favoritnya.

Tiga juta kaos Piala Dunia 2018 Timnas Nigeria dipesan sebelum ia dirilis. Di situs toko daring Nike, ia habis dalam hitungan jam. Orang kaya raya pun belum tentu bisa memiliki kaos mentereng ini tepat waktu karena tingginya permintaan.

Di sinilah penjual kaos tiruan masuk. Kaos Nike, sudah harganya mahal–90 Dolar Amerika (setara Rp 1.3 juta saat artikel ini ditulis)–tak cukup banyak dan lambat dirilis pula. Buktinya, tampak beberapa pendukung Nigeria sudah memakai kaos ini di pertandingan persiapan Piala Dunia, sebelum kaos resmi dirilis Nike.

Kaos tiruan ini awalnya dibanderol 7000 Naira (setara Rp 270 ribu lebih), kemudian naik lebih dari dua kali lipat menjadi 15.000 Naira (setara hampir Rp 600 ribu) setelah kaos Nike terjual habis dan permintaan terbukti tinggi. Permintaan tak pula surut.

Harga-harga tersebut adalah untuk kaos-kaos tiruan kualitas tinggi. Tak terlalu tampak bedanya dengan yang asli, namun jika diperhatikan dari dekat, “jelas beda tekstur dan finishing,” jelas Alex, seorang importir kaos olahraga tiruan di Nigeria.

Pabrik ilegal yang memproduksi dagangan Alex tak hanya memproduksi tiruan kelas wahid, namun juga tiruan berkualitas rendah yang harganya juga lebih murah.

Kaos-kaos itu jelas tampak berbeda: mulai dari hilangnya tanda umlaut dari logo Bayern Muenchen hingga kaos warna biru langit Manchester City berlogo Manchester United.

Harga yang murah memastikan ia bisa dibeli oleh orang yang termarjinalkan sekalipun. Semenggelikan apapun, kaos-kaos tiruan kelas teri ini bisa membuat semua orang merasa satu dalam semangat sepak bola.

Ia berhasil membuat anak tetangga saya makin pede bermain sepak bola: anak yang tak paham dan tak peduli pada kelas sosial karena, toh, sepak bola miliknya pula.

Bayangkan dia, badan kerempengnya tegap dengan kaki dibuka sedikit lebih lebar dari pundaknya. Ia menendang keras ke gawang tak berjaring yang dibatasi batu bata dan sandal jepit. Gol! Ronaldo Matraman dkk. 1-0 RT sebelah.

sumber gambar: standart.co.uk