Sebagai pemenang Impact Accelerator Program, Vania Santoso membuktikan kemampuan wirausaha sebagai alat penyulut perubahan sosial. Perusahaannya, HeyStartic, sebagai pemenang, berhasil mendapatkan pendanaan berupa investasi tahap awal untuk mengembangkan diri.

“Kita bisa menghidupi mimpi kita, selama kita bukan cinta pada kantor, tapi pada bidang yang ditekuni,” jelas Vania tentang transisinya dari pekerja sosial ke wirausahawan sosial.

Sebagai pekerja sosial UNICEF, ia banyak menangani inovasi proyek pengembangan masyarakat, termasuk menjadi juri kompetisi proyek sosial — tugas menilai ini akhirnya juga membantunya membentuk kriteria usahanya kelak. Koneksi, kampung binaan, dan pengalamannya ini menjadi dasar membangun perusahaannya.

HeyStartic mendaur ulang — upcycle — di antaranya, kemasan makanan dan sak semen. Produk kebangaannya, tampaknya, adalah sak semen yang diolah menjadi kulit imitasi tahan air. “Kami menyediakan produk yang benar-benar unik — one of a kind — karena hanya ada satu produk dengan pola tertentu,” sebut laman HeyStartic.

Sampah tersebut diolah oleh pekerja warga termarjinalisasi yang berasal dari desa binaannya sejak proyek sosialnya sejak 2005. Pemberdayaan masyarakat ini tak hanya dilakukan dengan memberi pekerjaan: mereka juga dilatih untuk bisa memberdayakan warga lain dan sadar lingkungan.

Keberpihakan terhadap masyarakat termarjinalkan ini juga terbukti dalam perencanaan produksi yang mendukung keberlanjutan tak hanya usaha, namun juga pekerja. Contohnya adalah produksi yang diatur sehingga jika ada yang tidak memenuhi target, ada produksi lebih yang mengamankan targetnya.

Pada skala besar, yang ingin diberdayakan tak hanya pekerja HeyStartic. “Tidak semua orang terbiasa memakai produk daur ulang, kita ingin membiasakannya,” jelasnya. Pada akhirnya, ia juga ingin meningkatkan pemahaman masyarakat umum atas pengembangan sosial dan lingkungan.