Sepak bola adalah cabang olahraga terpopuler–terbukti dengan jumlah penggemarnya yang diperkirakan mencapai tiga miliar. Karena menyentuh hidup begitu banyak orang, ia juga memegang peran sosial dan budaya yang signifikan.

Olahraga ini telah menjadi alat membantu integrasi pengungsi di Jerman, baik melalui kampanye penggemar klub-klub besar, maupun permainan sepak bola amatir antarkampung.

Di Kenya, misalnya, ia memfasilitasi pendidikan melawan kekerasan berbasis gender. Di Papua, juga misalnya, ia menekel isu lingkungan, HIV/AIDS, dan membangun perdamaian.

Sebagai dampak jangkauannya yang begitu besar, sepak bola juga merupakan cabang olahraga yang luar biasa kaya.

Ukuran pasar sepak bola di Eropa saja, per musim 2016/2017, adalah 27 miliar Euro. Ini adalah hasil dari peningkatan nilai sejak setidaknya musim 2004/2005.

Karena inilah Common Goal didirikan: menggunakan besarnya kekuatan sepak bola untuk mendorong perubahan sosial. Inisiatif ini disulut bersama oleh Juan Mata — pesepak bola juara dunia dari Spanyol, dan Street Football World: organisasi internasional yang mendukung jaringan penggerak perubahan melalui sepak bola.

“Kami ingin mendefinisikan agenda sosial bersama untuk sepak bola,” jelas Juan Mata. “Common Goal melebihi brand dan ego individu demi membangun efek yang lebih masif.”

Hingga artikel ini ditulis, Common Goal memiliki 48 anggota individu termasuk pesepak bola laki-laki dan perempuan, dua pelatih, dan Presiden UEFA, Aleksander Ceferin. Mereka semua memastikan setidaknya satu persen penghasilannya disumbangkan ke Common Goal.

Uang yang dikumpulkan kemudian disumbangkan ke lembaga-lembaga swadaya masyarakat dalam jaringan Street Football World — yang menggunakan sepak bola sebagai sarana pengembangan sosial.

“Melalui pengalokasian 1% penghasilan ini, kita dapat membangun jembatan antara sepak bola dan dampak sosialnya di seluruh dunia,” tukas Mats Hummels, anggota kedua Common Goal dan juara dunia asal Jerman.

Baca juga: Sejarah Hari Ini: Uruguay Juara Piala Dunia Pertama

Inklusif

Inisiatif ini tak terbatas pada pemain bola, pelatih, pejabat sepak bola. Semua yang terkait dengan The Beautiful Game bisa ikut berperan membantu sepak bola dan “mencintai dirinya sendiri lagi,” seperti ucapan Serge Gnabry, pesepak bola Jerman dan anggota Common Goal. Ini termasuk perusahaan-perusahaan dalam industri olah raga ini dan karyawan-karyawannya.

Contohnya adalah klub asal Denmark, FC Nordsjælland, klub pertama yang menjadi anggota dan mengalokasikan satu persen penghasilan stadionnya ke Common Goal.

Tak ketinggalan, seluruh anggota tim manajemen klub ini juga memastikan komitmen yang sama. Dalam semua kontrak, termasuk kontrak pemain dan administrasi klub, terdapat ketentuan yang menjamin satu persen gaji disumbangkan ke Common Goal — dengan opsi untuk keluar.

Selain itu, suporter yang tak terlibat dengan sepak bola secara langsung juga bisa ikut mendukung inisiatif itu. Dengan mendaftar secara daring, suporter bisa ikut berjanji menyumbangkan setidaknya satu persen penghasilannya. Dan juga perjanjian itu tidak mengikat secara hukum, dan suporter bisa mencabut dukungannya sesuai keinginan.

Menariknya, di beberapa negara Eropa apabila berdonasi di Common Goal, kewajiban pajak suporter bisa diringankan.

Jika merasa model sumbangan 1 persen ini dirasa memberatkan meski sang suporter masih ingin mendukung Common Goal, suporter juga bisa menyumbang sekali sesuai keinginannya (one-off donation). Sumbangan model ini akan diarahkan ke pengoperasian organisasi Common Goal.

Ukuran pasar sepak bola Eropa terus meningkat.

kredit: Common Goal

Transparan

Selain dari sumbangan yang one-off, Common Goal dioperasikan menggunakan sepuluh persen dari seluruh dana yang berasal dari model 1%, baik dari pemain hingga suporter. 90 persen donasi dari model tersebut disebarkan ke organisasi-organisasi jaringan Street Football World.

Tak sembarang organisasi bisa menjadi anggota jaringan Street Football World dan menerima sumbangan. Organisasi calon anggota diseleksi dengan ketat dengan kriteria yang telah tertera di dokumen Quality Assessment di situs resmi Common Goal.

Organisasi anggota misalnya, harus terdaftar secara legal di negaranya, telah berjalan selama minimal setahun, independen secara politis dan agama — tidak boleh ada kekhususan agama tertentu maupun diskriminasi berbasis agama, dan memiliki kebijakan perlindungan anak yang ketat.

Tentu, metode yang digunakan organisasi harus terkait jelas dengan sepak bola. Mereka juga diminta untuk beroperasi secara transparan: untuk menjadi anggota jaringan ini, adanya data jelas tentang kegiatan organisasi merupakan salah satu syarat.

Kemudian, anggota Common Goal yang mengikuti model 1% juga bisa memilih ke mana uangnya pergi. Anggota bisa membaca portfolio-portfolio organisasi anggota Street Football World dan memilih di antara mereka, maupun memilih proyek-proyek besar yang dilaksanakan oleh beberapa organisasi sekaligus.

Baca juga: Saat Piala Dunia Menyerang Mental Pemain

The Common Goals

Common goals — tujuan bersama — yang dimaksud oleh inisiatif ini adalah Sustainable Development Goals (SDGs). Dengan mencocokkan program dengan SDGs, Common Goal–melalui jaringan organisasi Street Football World–diharapkan menekel tantangan-tantangan global terbesar melalui sepak bola.

Ada delapan topik yang menjadi patokan program organisasi-organisasi Street Football World: Kepemimpinan pemuda, integrasi sosial, lingkungan, kelayakan kerja, kesetaraan gender, kesehatan, pendidikan, dan pembangunan perdamaian.

Salah satu bagian dari Street Football World adalah Rumah Cemara yang berbasis di Bandung, Jawa Barat. Ia mengikuti lima topik program: pendidikan, kesetaraan gender, kesehatan, integrasi sosial, dan kepemimpinan pemuda.

Rumah Cemara didirikan oleh lima mantan pengguna narkoba untuk membantu peningkatan kualitas hidup — termasuk integrasi sosial — orang dengan HIV/AIDS (ODHA), konsumen narkoba, serta kaum marjinal lainnya, dengan mengutamakan pendekatan peer-to-peer — sebab 90 persen staf juga pernah terkena masalah yang sama.

Organisasi ini bertujuan mewujudkan “Indonesia tanpa stigma”, di mana semua kaum marjinal dapat mengakses penghidupan yang layak.

Mereka juga turut membantu perumusan kebijakan pengendalian NAPZA dan penanggulangan HIV/AIDS yang berpihak pada hak asasi manusia.

Merekalah yang mengirim perwakilan Indonesia pada Homeless World Cup–kompetisi yang mengimpikan tak ada lagi orang tanpa rumah melalui sepak bola, di mana tim Indonesia berhasil meraih posisi ke-4 pada 2012.

The Beautiful Game sendiri telah digunakan oleh organisasi seperti Rumah Cemara untuk mengintegrasikan kaum marjinal, juga mengintegrasikan pengungsi korban perang di belahan dunia lainnya.

Begitulah sepak bola, mulai dari klub Godersberger FV di liga ke-7 Jerman yang baru berdiri sejak 2006, klub tradisi di Inggris yang bertengger di divisi dua–Middlesbrough FC, hingga langganan Champions League Borussia Dortmund, digunakan untuk menembus batas bahasa dan menenangkan jiwa serta memberdayakan orang-orang yang terpaksa meninggalkan tanah airnya.