Indonesia, tanah yang suci,
Tanah kita yang sakti,
Di sanalah aku berdiri,
M’njaga ibu sejati.

Indonesia, tanah berseri,
Tanah yang aku sayangi,
Marilah kita berjanji,
Indonesia abadi.

Selamatlah rakyatnya,
Selamatlah putranya,
Pulaunya, lautnya, semuanya,
Majulah Negerinya,
Majulah pandunya,
Untuk Indonesia Raya.

Pertama kali bangga pada Indonesia, seingat saya, adalah ketika guru kelas satu saya menjelaskan hebatnya negeri ini: pulaunya yang belasan ribu, manusianya yang beragam, hutannya yang luas, dan perutnya yang kaya. “Kalian harus bangga hidup di negara hebat ini!” ujarnya.

Dari perspektif lingkungan, apa yang sebenarnya dibawa oleh rasa bangga ini? Apakah kita pantas berbangga, karena kekayaan ini toh belum tentu hasil kerja keras kita, dan kitapun belum menjaga anugerah ini dengan baik.

Bengkulu, misalnya, masih berjuang melawan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Batubara (PLTB).

“Saya memahami energi adalah kebutuhan rakyat, namun saya menolak bila bahan utamanya adalah batubara, batubara beracun akan membunuh anak keturunan kami,” ujar Hamidin, warga kelurahan Teluk Sepang pada Kompas. Ia juga turut membangun pondok wadah warga belajar energi baru terbarukan (EBT).

Belum lagi gas karbon buangan PLTB yang akan memperparah perubahan iklim. Jika batubara sudah ‘dibersihkan’ pun, ia berbahaya bagi lingkungan: mengeluarkan gas rumah kaca yang memperburuk perubahan iklim. Apalagi jika tidak; gas hasil bakaran sulfur yang ada di batubara akan menyebabkan hujan asam.

Selain itu masalah kebakaran hutan belum beres. Misal, Polda Sumsel menduga ada kelalaian perusahaan — lagi — dalam kasus kebakaran hutan di daerahnya.

Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sudah mensyaratkan menara pemantau yang memadai untuk seluruh wilayah konsesi, tetapi wilayah yang terbakar tak terpantau dari menara yang terlalu jauh.

Ini adalah pelanggaran yang seharusnya tak terlalu meninggalkan banyak ruang untuk interpretasi — ia harus ditindak tegas, dan pengawasan lingkungan harus ditegakkan.

Petani kecil lokal di Sumatera sebenarnya dibolehkan membakar hutan maksimal dua hektare untuk membuka ladang baru. Menko Polhukan Wiranto menyebut hak itu merupakan bagian dari kearifan lokal. Kebijakan itu perlu diawasi, karena tanpa pengawasan, kearifan lokal ini pun tak akan hidup panjang pula.

Seperti bercocok tanam dengan membakar di Sumatera, banyak nilai kearifan lokal yang berasal dari lingkungan. Keberagaman manusia Indonesia tak lepas dari lingkungannya. Kain-kain tradisional dengan pewarna alami biasa diwarnai dari bahan-bahan lokal, misalnya. Subak, warisan budaya UNESCO itu, ya tak lepas dari bentukan alam Bali yang harus digarap sedemikian rupa.

Sudah pantaskah begitu berbangga pada Indonesia, tanah berseri, jika belum selamat rakyatnya, putranya, pulaunya, lautnya, semuanya? Tidakkah kita perlu memenuhi janji Indonesia abadi terlebih dahulu?