Berbahasa adalah kebutuhan setiap insan manusia. Sebab, bahasa adalah alat komunikasi. Tetapi berbahasa tidak mesti melalui mulut, namun bisa juga menggunakan isyarat.

Di Desa Bangkala, Pulau Bali, mayoritas masyarakatnya menggunakan bahasa isyarat lantaran seluruh warganya bisu dan tuli. Bahasa isyarat adalah penyambung bagi mereka. Bahasa isyarat adalah komunikasi bagi kita.

Menguasai banyak bahasa adalah luar biasa. Tapi jangan lupa, isyarat juga adalah bahasa. Untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya inklusifitas dalam berkomunikasi di keseharian.

Dari itu juga rasanya ada hal perlunya belajar bahasa isyarat. Kenapa? Berikut lima alasan kamu harus belajar bahasa isyarat:

Pemakai Bahasa Isyarat Indonesia masih sangat minim

Menurut survey Ethnologue, terdapat 2000 pengguna Bahasa Isyarat Indonesia. Padahal, sensus Departemen Kesehatan pada 1993-1996 di tujuh provinsi, terdapat 0,4 persen warga Indonesia yang tuli dan 16,8 persen yang pendengarannya terganggu. Jika persentase ini kurang lebih sama dengan kini, maka terdapat sekitar sejuta warga tuli dan 43,8 juta yang terganggu pendengarannya. Kemudian, data WHO pada 2001 menunjukkan lima ribu bayi tuli lahir di Indonesia tiap tahunnya.

Maka, mesikipun kamu tidak tuli atau berkomunikasi dengan orang tuli secara reguler, mempelajari Bahasa Isyarat Indonesia dapat memperluas jangkauan bahasa ini; kamu bisa berbagi bahasa isyarat ini dengan orang-orang lain — tuli maupun tidak.

Karena, jika kamu pernah ke kota yang bahasa lokalnya tak kamu pahami, pasti kamu merasa bersyukur atas adanya bahasa pemersatu Indonesia.

Sedikitnya penerjemah bahasa isyarat

Semua orang tentu memiliki hak yang sama untuk menerima pelayanan dan mengembangkan dirinya, namun minimnya penerjemah bahasa isyarat di, misalnya, tayangan berita di televisi, seminar, dan konferensi bisa menghambat masyarakat tuli untuk meraih hak mereka.

Masalah ini juga jelas terasa di sektor pelayanan publik. Solo, misalnya, yang diusulkan menjadi kota difabel internasional pada 2013, tak memiliki staf khusus untuk warga tuli. “Kami harus mencari penerjemah sendiri dulu, padahal mereka (penerjemah) tidak selamanya siap sedia,” ujar Muhammad Isnaini dari Gerakan Untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Solo.

Baca juga:

Orang-orang mendengar yang bisa bahasa isyarat dapat membantu menyelesaikan masalah ini.  Selain itu, kemampuan untuk menerjemahkan bahasa isyarat juga bisa menjadi peluang pekerjaan.

Lancar berkomunikasi dengan masyarakat tuli

Sedikit anekdot: semua orang tuli yang pernah saya temui bercerita bahwa mereka bisa berbincang-bincang semalam suntuk asalkan menggunakan bahasa isyarat. Namun, tidak jika harus membaca bibir dan berbicara; hal itu lebih sulit dan melelahkan.

Sebenarnya, alasan ini — kelancaran komunikasi — adalah yang paling jelas. Namun, keharusan pelajar tuli untuk belajar bicara di sekolah menunjukkan bahwa sistem pendidikan bagi orang tuli dibangun di atas premis bahwa orang tuli harus menyesuaikan diri dengan orang mendengar.

Memang, selain itu kita masih bisa berkomunikasi dengan menulis. Namun, tak setiap waktu dan tempat memungkinkan kita untuk selalu berkomunikasi dengan tulis, bukan?

Baca juga:

Jika cukup orang sadar hal ini, yang terjadi adalah pemenuhan alasan berikutnya, yaitu…

Kita perlu membangun masyarakat yang inklusif

Dalam sebuah masyarakat yang memiliki cukup penerjemah bahasa isyarat dan masyarakat — tuli dan mendengar — bisa berkomunikasi dengan lancar, semestinya warga tuli bisa meraih kesetaraan dengan lebih baik.

Dalam masyarakat yang inklusif, kesempatan untuk sejahtera terbuka lebih lebar dibanding dengan masyarakat yang menguntungkan kaum berprivilese saja.

Dukung perjuangan teman-teman tuli

Untuk meraih masyarakat yang inklusif, kita bisa, salah satunya, mendukung perjuangan aktivis tuli.

Dengan belajar Bahasa Isyarat Indonesia, kamu akan semakin lancar berkomunikasi dengan aktivis-aktivis tuli dan semakin paham perjuangan mereka untuk membangun masa depan Indonesia yang lebih inklusif.

Kamu bisa mempelajari dan mengetahui lebih jauh lagi seputar bahasa isyarat di IndonesianYouth Conference 2017 x Kibar dalam sesi workshop Bahasa Isyarat untuk Kita Semua bersama Dhita Indriyati dan Myrna Mustika Sari (Pengajar Bahasa Isyarat), dan Laura Lesmana Wijaya (Ketua Pusat Bahasa Isyarat Indonesia) yang akan diselenggarakan di Townsquare Cilandak, Jakarta, Sabtu, 16 Desember 2017 mendatang.

Pada sesi tersebut kamu akan diajak mempelajari pelatihan bahasa isyarat dasar, belajar beberapa kata-kata dan kalimat-kalimat dasar dalam bahasa isyarat sehari-hari. Yuk belajar bersama dan hapus stigma, karena kita semua adalah sama!

View this post on Instagram

Pernah menonton penerjemah bahasa isyarat di televisi/YouTube? Penasaran dan ingin bisa juga berkomunikasi dengan bahasa isyarat? . Jawabannya ada di IndonesianYouth Conference 2017! Dengan mengikuti workshop: "Bahasa Isyarat untuk Kita Semua", kamu akan belajar dasar-dasar dari bahasa isyarat sehari-hari bersama Laura Lesmana Wijaya, Dhita Indriyanti, Myrna Mustika Sari. . Bisa banyak bahasa adalah luar biasa, tapi jangan lupa, isyarat pun sebuat bahasa. Yuk belajar bahasa isyarat untuk Indonesia yang lebih inklusif! Segera dapatkan tiketnya di indonesianyouth.id yaa karena persediaan semakin terbatas 😁 . . . #IYC #IndonesianYouth #IndonesianYouthConference #Youth #YouthConference #IYCatCitos #KamiMasaDepan

A post shared by IndonesianYouth (@indonesianyouth) on

Bagi kamu yang penasaran dan ingin terlibat bisa langsung mengunjungi indonesianyouth.id untuk pemesanan tiket. Jangan sampai kamu kehabisan. Pantau terus update-nya di semua saluran informasi IndonesianYouth seperti situs Instagram, Facebook, ataupun Twitter.

Baca juga:

Sejak 2010 IYC telah hadir menjadi sarana bagi Anak Muda Indonesia untuk mengembangkan pengetahuannya di berbagai bidang, sebagai bekal di masa depan. Itulah sebabnya IYC tahun ini mengusun tema “Kami Masa Depan”.

Selain itu konsep yang dibentuk kali ini menghadirkan tiga diskusi besar yang terbagi menjadi tiga, Talkshow, Public Discussion, dan Workshop.

Pada sesi Talkshow atau sharing session para ahli akan berbagi pengalaman dan pengetahuan mereka dalam meningkatkan awareness dan pemahaman peserta terhadap isu yang dibawakan.

Kemudian pada sesi Public Discussion peserta akan terlibat pada diskusi yang lebih dalam bersama narasumber dan peserta lainnya untuk mengaktivasi perbincangan, berpikir kritis, dan aksi yang lebih jauh.

Lalu pada sesi Workshop peserta dapat belajar secara langsung, bertukar pikiran dan berbagi pengalaman, serta mempraktikan hasil diskusi bersama pakar di bidangnya.