Pembukaan Asian Para Games 2018 pekan lalu ada satu yang mencuri perhatian, yakni gadis cantik bernama Bulan Karunia. Dalam pembukaan itu Bulan terlihat melepaskan anak panah bersama Presiden RI Joko Widodo.

Yang mengundang decak kagum sebenarnya adalah karena Bulan sendiri adalah penyandang disabilitas, yang sejak lahir sudah harus hidup tanpa dua kaki.

Awal mula Bulan bisa tampil di pembukaan Asian Para Games 2018 berkat sebuah foto yang dia unggah di akun Instagram pribadinya yang memperlihatkan ia berlatih memanah di rumahnya.

Kemudian foto itu diketahui pihak penyelenggara Asian Para Games 2018, sebelum akhirnya ia diajak untuk tampil di acara pembuka dan memanah bersama Presiden Jokowi.

Lahir tanpa kaki bukan halangan bagi Bulan untuk bisa berprestasi. Bahkan ia begitu jatuh cinta dengan olahraga satu ini, olahraga yang sebenarnya tidak terlalu mudah untuk dilakukan bagi kebanyakan orang. Tapi bulan justru membuktikan di tengah keterbatasannya.

Sedikit pengalaman, saya menilai panahan adalah olahraga ketepatan, yang melatih tingkat kefokusan seseorang dalam melakukan sesuatu secara konsisten dalam keadaan tertekan. Apabila kita sedikit saja lengah maka anak panah yang dilepaskan akan meleset dari titik target.

Fokus dan konsisten adalah kata kunci dari olahraga satu ini. Kita dituntut untuk bisa fokus sekaligus konsisten dalam meluncurkan busur panah ke titik sasaran.

Misalkan, secara dasar semakin besar tenaga yang kita berikan ketika melepaskan anak panah maka semakin cepat anak panah itu meluncur, sehingga kemungkinannya kecil untuk mendapatkan gaya dorong dari angin.

Namun apabila tenaga atau gaya yang kita berikan ketika menarik busur tidak sama kuatnya pada tarikan pertama–dan seterusnya–maka dapat dipastikan anak panah terkahir tidak dapat meluncur secepat anak panah pertama, dan akan memengaruhi titik jatuh anak panah pada papan target akibat gaya dorong dari angin.

Inilah mengapa kita diharapkan tetap konsisten walaupun menerima tekanan atau gangguan seperti suara bising, arah angin, dan gangguan psikologis ketika bertanding.

Akan tetapi, sebelum memegang busur sungguhan baik itu recurve bow maupun compound bow layaknya profesional, saya dan juga beberapa teman saya diharuskan melakukan pembiasaan selama tiga bulan guna melatih oto-otot agar tidak menimbulkan cedera.

Saya dilatih menggunakan karet ban bekas yang diikat membentuk lingkaran kemudian kami tarik sekuat tenaga seakan menarik busur. Dalam proses pembiasaan ini kita tidak boleh asal dalam menarik karet. Ada posisi dan kuda-kuda tertentu. Tujuannya agar terbiasa ketika menarik busur sungguhan dan menghindari cedera.

Pembiasaan tersebut harus dilakukan secara konsisten. Apabila dalam seminggu saya tidak melakukan pembiasaan, maka otot saya akan kembali normal atau kaku ketika menarik busur. Hal ini yang mengajarkan saya agar tetap konsisten dalam melakukan suatu hal.

Lebih dari itu, olahraga panahan mengajarkan saya banyak hal, termasuk mengubah pola pikir, terutama dalam memecahkan masalah. Saya jadi lebih tahu mengenai anatomi tubuh, terutama pada organ-organ yang berhubungan langsung ketika melakukan olahraga panahan.

Perubahan lain yang saya rasakan dari olahraga ketepatan ini adalah saya menjadi lebih tenang dalam menghadapi masalah.

Pasalnya, dalam panahan kita dituntut agar selalu fokus dan tetap tenang selama bertanding. Jika tidak, maka anak panah yang kita tembakan akan meleset dari target sasaran. Sifat atau kebiasaan ini dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Manfaat ketiga yang saya peroleh dari olahraga panahan yaitu kesabaran. Kita dituntut untuk sabar, tidak tergesa-gesa.

Saat kita sudah menarik tali busur kita tidak boleh langsung melepasnya. Kita harus mengatur nafas terebih dahulu, sabar, tetap tenang, dan fokus.

Kemudian ketika sudah merasa cukup tenang, kita diperbolehkan untuk melepaskan tembakan tersebut sambil membuang nafas.

Ketika seorang pemanah terburu-buru melepas anak panah, maka dapat dipastikan anak panah tersebut tidak akan tepat pada titik target.

Ini foto saya dan teman-teman saya seusai latihan panahan. Tebak saya yang mana? (foto milik pribadi).

Ilmu keempat yang saya dapatkan dari olahraga ini adalah melatih pengelihatan.

Olahraga panahan dapat melatih otot-otot mata. Sebab, fokus dan konsentrasi pada satu titik dengan jarak yang cukup jauh dan dilakukan secara berulang dapat melatih otot mata kita.

Dampaknya, pandangan kita akan lebih jeli walaupun dalam radius yang cukup jauh. Latihan yang teratur dan berkelanjutan akan membantu pemanah terhindar dari rabun jauh dan rabun dekat.

Sisi positif lainnya yaitu kita menjadi lebih cerdas terutama dalam aspek arah angin. Sebab pemanah akan berpikir lebih mengenai faktor penyebab anak panah tidak tepat sasaran, salah duanya yaitu arah dan hembusan angin.

Arah lesatan anak panah juga tak serta merta lurus meluncur, tetapi berbentuk parabola. Karenanya ada istilah fisika dalam olahraga ini, yaitu archer’s paradox: sebuah fenomena ketika anak panah dilepaskan ke arah kiri atau kanan (keluar dari titik target) akan kembali ke arah yang lurus dan mengenai titik target.

Ilmu-ilmu yang saya peroleh dari olahraga panahan tidak hanya dapat diterapkan ketika bertanding saja tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari, yang menjadikan saya pribadi lebih baik lagi.

Apakah kamu mau ikut coba olahraga ini?

***

sumber foto utama: maxpixel.net


Tulisan ini merupakan opini penulis. MUDAzine.com tidak bertanggung jawab atas isi tulisan tersebut. Penulis bisa dihubungi di [email protected]

Kanal Opini merupakan wadah tulisan-tulisan Anak Muda di Indonesia yang ingin menuangkan sekaligus turut berbagi tentang fenomena atau isu di sekitarnya. Bergabunglah dengan kontributor MUDAzine sekarang juga!