Kemajuan teknologi dan keterbukaan informasi saat ini melesat cepat sekaligus banyak memberikan dampak positif bagi kita dalam kehidupan sehari-hari. Namun, dalam menghadapi fenomena ini kita masih gugup dan gagap dalam menggunakannya.

Kita dengan mudah menerima dan membagikan sebuah berita atau informasi–terutama di media sosial–tanpa mencari tahu kebenarannya asal-usul kebenarannya. Sialnya, kita kerap menelan dan membagikan hoaks.

Hal semacam ini, sadar tidak sadar, sebenarnya memiliki bahaya laten dan bisa menjadi bumerang bagi kita dan generasi yang akan datang. Dan tentunya ini menjadi tanggung jawab besar bagi kita bersama.

Hoaks merupakan istilah untuk berita bohong yang sudah tidak asing lagi kita dengar dalam kehidupan sehari-hari.

Hoaks memiliki peran yang sangat “berpengaruh” dalam beberapa dekade terakhir ini, dan eksistensinya terus meningkat.

Pada dasarnya hoaks memiliki tujuan yang beragam, mulai dari urusan personal branding, menjatuhkan pamor seseorang atau golongan, hingga politik antarnegara.

Hal-hal seperti inilah yang dapat berdampak buruk bagi persatuan dan kesatuan Indonesia, jika tidak ada upaya pengendalian lebih dini.

Di Indonesia, hoaks terus meningkat dari tahun ke tahun. Tercatat, selama periode Juli-September di 2018 terdapat 230 hoaks, seperti yang dipublikasikan Organisasi Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo).

Temuan Mafindo memunculkan bahwa produksi hoaks semakin meningkat dalam tiga bulan terakhir ini, terutama menyangkut isu politik. Di bulan Juli total ada 65 hoaks beredar, 46 persennya adalah hoaks politik. Lalu Agustus 79 hoaks dan 63 persennya konten politik dan semakin banyak pada September yaitu 86 kasus hoaks yang 59 persennya isu politik.

Menurut Mafindo munculnya hoaks di tengah masyarakat mulai terjadi pada enam bulan terakhir di tahun 2015, yang menunjukkan terjadi 61 hoaks atau rata-rata 10 hoaks per bulan.

Hoaks kemudian meningkat pada 2016 dengan jumlah kasus sebanyak 330, atau 28 hoaks per bulannya. Dan meningkat signifikan pada 2017 dengan 710 hoaks atau 59 hoaks per bulan.

Maraknya hoaks yang beredar saat ini menjadi pekerjaan rumah bagi kita dan harus segera diselesaikan untuk membangun generasi yang berani berpendapat berdasarkan fakta. Tentunya sebagai pemikir cerdas, kita tidak akan membiarkan hal ini terjadi terlalu lama di masyarakat.

Sebagai anak muda Indonesia yang beruntung dalam mengakses informasi, kita bisa menginisiasi gerakan perubahan dengan melanjutkan secara estafet informasi yang kita dapat berdasarkan fakta kepada teman-teman lainnya melalui media sosial yang kita punya.

Gerakan-gerakan semacam ini merupakan salah satu upaya dari membangun generasi tanpa hoaks. Inilah kekuatan terbesar kita sebagai anak muda pada generasi milenial yang dapat membagikan informasi dengan mudah dari berbagai macam media sosial yang ada saat ini, sebagai perpanjangan tangan.

Atau bisa juga dengan siskamling digital. Istilah ini mulai ramai beberapa waktu terakhir. Sesuai namanya, sistem keamanan lingkungan, kita bertugas untuk melaporkan konten-konten negatif, baik itu hoaks, ujaran kebencian, maupun pornografi.

Berbagai platform media sosial sudah menyediakan fitur “report”. Cukup dengan satu sentuhan kamu sudah bisa melaporkan konten-konten yang enggak banget, deh. 

Cara lainnya bisa adukan ke aduan konten milik Kominfo. Situs ini merupakan fasilitas pengaduan konten negatif baik berupa situs/website, URL, akun media sosial, aplikasi mobile, dan software yang memenuhi kriteria sebagai Informasi dan/atau Dokumen Elektronik bermuatan negatif sesuai peraturan perundang-undangan.

Kalau berhubungan dengan politik, kamu juga bisa melaporkannya ke Badan Pengawas Pemilu atau Bawaslu. Pihak Bawaslu sudah menyediakan fasilitas bagi masyarakat yang ingin melaporkan konten-konten negatif atau pelanggaran terkait kontestasi politik yang ditemukan di media sosial.

Bawaslu juga membuka pengaduan terkait dengan Pemilu dengan membuka pintu pelaporan dari level Kabupaten hingga Pusat.

Melalui hal-hal sederhana seperti tidak mempercayai kebenaran informasi tanpa mencari fakta sebenarnya serta melaporkan konten negatif, paling tidak kamu sudah membuat informasi yang beredar di masyarakat benar-benar berdasarkan fakta. Dan, masyarakat Indonesia menjadi tercerdaskan dengan gerakan dari para pemikir cerdas ini.

Selain itu, dampak positif yang kita dapatkan dari membangun generasi tanpa hoaks yaitu persatuan dan kesatuan yang semakin erat dan pola pikir masyarakat yang lebih terbuka karena beredarnya berita positif.

Eits, kamu juga jangan sembarangan lapor ya. Cek dulu kebenarannya.

sumber gambar utama: mashable.com/shutterstock