Di antara kamu ada yang tahu apa itu depresi? Apakah stres sama dengan depresi? Bagaimana tanda-tanda orang yang mengalami depresi? Dan apa penyebabnya sehingga seorang bisa depresi?

Nah, banyak di antara kita yang menyamakan stres dengan depresi. Padahal faktanya berbeda.

Depresi bukanlah akibat dari suatu masalah, melainkan depresi itu sendiri akar masalahnya. Sehingga seseorang yang mengidap depresi akan mempersepsikan keadaan di luar dirinya sebagai stressor yang luar biasa.

Untuk mempermudah pemahaman mengenai depresi, perhatikan analogi ini:

Kita analogikan stres itu seperti musim hujan, sedangkan depresi itu musim kemarau. Kemudian sepanjang periode musim hujan, lantas apakah akan selalu hujan. Tentu tidak.

Di antara panjangnya musim hujan tentu sesekali akan ada kemaraunya, entah itu satu, dua, atau tiga hari. Itu lah depresi, terjadi pada musim yang bukan musimnya.

Atau juga kita pernah mendengar pernyataan yang kurang lebih bunyinya begini, “Loh, dia depresi? Padahal kemarin ia masih tertawa bareng aku, kok”.

Ungkapan seperti itu sebenarnya lumrah didengar dalam konteksnya. Dan itu wajar, karena kebanyakan orang hanya melihat seseorang yang mengidap depresi di saat-saat tertentu saja.

Baca juga: Penderita Kesehatan Mental Menjalar ke Usia Muda

Dari sudut pandang lain juga depresi tidak ada hubungan dengan kurangnya iman seseorang. Orang yang beriman juga sebenarnya tetap mungkin terkena depresi.

Untuk penyebab depresi sendiri ada dua, yaitu endogen atau yang terjadi karena perubahan sistem neurokimia otak sehingga terjadi depresi.

Penyebab kedua, eksogen: Terjadi karena memiliki masalah yang begitu besar sampai tidak tertanggung lagi. Untuk penyebab terakhir ini masih jarang terjadi.

Bagaimana ciri-ciri orang yang depresi?

Seseorang yang terkena depresi tidak bisa merasakan kesenangan dalam hidupnya. Selalu kosong. Cenderung merasa murung. Dan kehilangan energinya hampir sepanjang waktu.

Sedangkan seseorang yang dikatakan mengidap depresi apabila, minimal, dua dari gejala tersebut muncul selama 2 minggu.

Lalu, apakah orang yang depresi bisa tertawa atau bersenda gurau? Jawabannya tentu bisa.

Kita masih ingat vokalis Linkin Park, Chester Bennington, yang secara mengejutkan dikabarkan tewas bunuh diri dengan cara gantung diri. Padahal, sehari sebelum ditemukan tewas, ia masih sempat bercanda dan tertawa.

Ya, karena orang yang depresi tidak melulu merasakan atau dilanda sedih. Pun tidak selalu senang. Kembali lagi pada analogi musim seperti sudah dijelaskan sebelumnya. Jadi, meskipun tertawa, sebenarnya merasa hampa. Tidak benar-benar bahagia, hanya sekadar tertawa biasa.

Baca juga: Ramai-ramai Salah Kaprah Soal Collapse by Design

Seseorang yang sudah terkena depresi berat, biasanya, cenderung mengurung diri dan malas bertemu atau berinteraksi dengan orang lain. Penyebabnya, mereka merasa tidak ada yang bisa mendengarkan, mengerti, dan memahami dari persoalan dan permasalahan yang ditanggung si pengidap.

Kemudian permasalahan orang yang mengidap depresi adalah selalu sulitnya berkonsentrasi.

Contoh sederhana, kerjaan atau tugas-tugas yang diembannya begitu sulit untuk dibereskan, dan itu bisa mengindikasikan seseorang terkena depresi. Meski, masih terlalu dini.

Selain itu, keluhan depresi tidak melulu tentang perasaan. Tetapi bisa juga berhubungan dengan masalah kesehatan. Hal seperti itu biasa disebut penyakit penyerta, seperti maag terus menerus, sakit kepala berulang, atau badan terasa lelah setiap hari padahal aktivitas tidak terlalu berat.

Dampak selanjutnya, jika sudah terkena depresi, dan ini paling berbahaya, akan muncul pikiran untuk mengakhiri hidup. Pikiran semacam itu karena merasa bersalah, tidak berguna, tidak berharga, dsb.

Ditambah mereka juga merasa sudah tidak ada lagi yang bisa mendengarkan dan memahaminya. Parahnya lagi, pikiran untuk mengakhiri hidup bisa muncul begitu saja dan kapan saja.

Baca juga: Kesehatan Mental di Indonesia Masih Rendah Dukungan Sosial dan Pelayanan Kesehatan

Persoalan depresi ini semakin mengerikan bila kita melihat data UNESCO yang mengatakan, kian ke sini penderita gangguan jiwa semakin muda dan rentan bunuh diri.

Pernyataan UNESCO semakin diperkuat oleh publikasi WHO pada 2015 yang menyebutkan, 3,9 persen remaja usia 13 hingga 17 tahun telah mencoba bunuh diri setidaknya sekali. 4,8 persen di antara responden juga yang disurvei itu tadi rupanya mengalami gejala gangguan kecemasan.

WHO pun memprediksi di 2020 depresi menjadi beban kesehatan peringkat dua sebagai penyebar kematian setelah penyakit jantung.

“Ini bukan persoalan kekurangan iman, cengeng, dan lain-lain. Ini perspektif yang harus kita ubah. Makin ke sini teman-teman yang terkena kesehatan mental makin muda, ini bisa terjadi karena keluarga,” kata Benny Prawira, Founder Into the Light, dalam IndonesianYouth Conference 2017, di Townsquare Cilandak, Jakarta, akhir tahun lalu.

Lantas bagaimana kita bisa membantu seseorang yang mengalami depresi? Jawabanya paling sederhana dan dinilai cukup efektif adalah menghapus stigma kepada mereka dan tidak memperlakukan mereka dengan berbeda.

Kemudian, selain itu, memperlakukan mereka dengan kasih sayang, keromantisan atau kemesraan disertai ketulusan.

Dari tindakan sederhana itu tadi, setidaknya kita dapat membantu orang-orang di sekitar kita dari gangguan depresi. Atau setidaknya menekan angka bunuh diri, terutama pada remaja.