Tera Errau, Sajak Pidi Baiq yang Isinya Sangat Menyentuh – Tokoh Dillan begitu khas dengan rayuannya. Agak mustahil perempuan manapun masih mampu berdaya bila mendengarnya. Paling fenomenal dan membuat bibir kita tersenyum tipis tentu, “Jangan rindu. Ini berat, kau tak akan kuat. Biar aku saja”. Namun kata-kata juga tingkah laku Dillan beserta rayuannya semuanya tak lepas sosok penulisnya itu sendiri, Pidi Baiq.

Pidi Baiq memang dikenal sebagai seniman nyeleneh. Tindakan, perlikau, dan kata-katanya sangat sering menimbulkan gelak tawa kita. Bahkan tulisan-tulisan hasil rangkaian imajinasi luar biasa, seperti puisi dan sajaknya, ia tabrak kaidahnya. Namun tetap menghasilkan sebuah karya yang luar biasa.

Dari sekian banyak puisi, rayuan, gombalan, ataupun sajak yang ada di novel atau film Dillan, ada sebuah sajak yang belum banyak kita tahu. Sajak itu diberi judul Tera Errau oleh Pidi Baiq. Berikut isinya:

Selalu ada satu orang khusus yang akan mendengarmu, dengan siapa kamu dapat bicara tentang hampir segalanya.
Dia menjadi orang yang memahami dirimu ketika engkau butuh.
Mendengar perasaanmu bahkan tanpa perlu kau ungkapkan melalui kata-kata.
Ketika dia membuat dirimu tenang, kau mengerti untuk apa bersamanya.
Bahwa bersama orang yang kau cintai, tak akan pernah peduli oleh apapun yang kau takutkan.
Kemudian dengannya engkau tersenyum, engkau ketawa, dan hal lainnya lagi yang lebih menyenangkan dari itu.

Selalu ada satu orang khusus yang akan bersamamu, menjadi sumber kebahagiaan dari semua yang engkau miliki.
Orang khusus itu adalah dirinya yang akan merisaukan dirimu di hari yang buruk, oleh hujan dan penuh petir.
Ketika jauh, kau rindu, oleh pikiran bahwa engkau yakin sesuatu yang indah akan terjadi ketika bersamanya.
Dia datang, bukan melulu bicara soal cinta tetapi untuk menghadirkan dirinya yang pandai membuat dirimu merasa istimewa.
Kamu hanya melihat dirinya memiliki tanggung jawab sebagai seorang Kekasih.
Dan kau tahu yang melibatkan dirimu, dialah ahlinya.

Selalu ada satu orang khusus yang akan bersamamu, bahkan jika cemburu, kau senyum, karena bukan api yang menghanguskan.
Asmara itu menggelora, dan kamu ingin bersamanya karena kamu tahu dengan siapa kamu tenang.
Pikiran atas kasih sayang yang dia berikan kepadamu, menjadi dasar di atas semua sikap dan perilakunya kepadamu.
Kau senyum untuk apa yang dikatakannya: Jika aku sudah sayang, tak akan pernah berakhir, bahkan ketika kau ingin berhenti.
Katanya: Aku mencintaimu, sebagai benar-benar mencintaimu, sesibuk apa pun diriku, akan selalu berusaha meluangkan waktu untukmu.

Bahkan jika dia harus mengatakan “Aku mencintai dirimu”, kamu merasa tidak perlu lagi untuk memeriksa kesungguhannya
Adakalanya kamu marah tetapi dia berkata: “Aku mencintaimu, biarlah, ini urusanku. Bagaimana kamu kepadaku, terserah, itu urusanmu.”
Maka itulah yang akan kau rasakan bersama dengannya jika benar dia ada. Mengatakannya dalam gelombang kekuasaan logika dan perasaan.
Pelajaran hikmat dan kasih sayang, datang darinya, dan engkau tidak usah mencarinya karena dia selalu ada waktu untuk bersama dengan dirimu.
Kamu hanya memiliki keyakinanmu sendiri bahwa kamu mencintainya dan itu serius.

Dia tersenyum, dan katanya: Berterimakasihlah kepadamu yang sudah bisa membuat aku bahagia menyayangimu.

Bandung
Pidi Baiq (1972-2098)