Kala itu, September 1869, dua bankir Wall Street ternama Jay Gloud dan Jim Fisk bekerja sama untuk membeli emas sebanyak-banyaknya. Tujuannya untuk dijual dengan harga setinggi-tingginya. Tetapi, akibat perselisihan, kerja sama mereka berakhir dan berdampak krisis bagi Amerika. Kemudian peristiwa itu dinamakan Black Friday. Sebab, terjadi di hari Jumat.

Lebih dari 90 tahun peristiwa itu berlalu, Black Friday terus dikenang sebagai sejarah suram pasar emas Amerika. Sebelum akhirnya pada sekira tahun 1960-an istilah ini muncul kembali oleh pihak kepolisian Philadelphia, Amerika Serikat, untuk menggambarkan fenomena kemacetan hebat di sepanjang kota. Budaya belanja masyarakat Amerika yang kental, terutama bertepatan dengan perayaan Thanksgiving, menjadi penyebabnya.

Di saat-saat seperti itu banyak perusahaan memanfaatkan perayaan thanksgiving di Amerika untuk menjadikan momentum diskon besar-besaran–sekaligus dalam rangka menyambut perayaan Hari Natal. Atas peristiwa itu istilah Black Friday kita kenal seperti sekarang ini.

Sumber lain menyebutkan, penamaan Black Friday didasari oleh sistem catatan bisnis keuangan perusahaan. Di mana catatan akan menggunakan tinta hitam bila mendulang keuntungan, sedangkan warna merah untuk menandakan kerugian.

Bagaimanapun Black Friday kini telah mendunia. Momentum ini hampir selalu diselenggarakan di berbagai negara. Dan bagi shopaholic, Black Friday adalah hal paling ditunggu, termasuk di Indonesia.

Berdasarkan catatan Black Friday Global, 1 dari 3 orang Indonesia akan berpartisipasi dalam Black Friday tahun ini (meningkat 15 poin persentase dibandingkan dengan 2017).

Sebagian besar konsumen akan berbelanja baik online maupun offline (50%), sisanya akan memilih opsi belanja di toko tradisional offline saja (12%) atau hanya-online (38%).

Para pembelanja biasanya akan memburu barang-barang seperti pakaian, elektronik, sepatu, kosmetik dan parfum hingga pakaian dalam dengan bersedia membayar total rata-rata Rp 986.181 sekali belanja pada Black Friday.

Survei Black Friday Global. sumber: www.black-friday.global

Data lainnya, seperti dari situs pencarian kupon diskon toko online asal Polandia, picodi.com, menyebutkan sebanyak 33 persen masyarakat Indonesia yang disurvei akan ikut serta pada festival diskon Black Friday.

Sebagian besar konsumen (59%) akan membeli 2-3 produk, dan hanya sebagian kecil (13%) akan berbelanja dan akan membeli lebih dari 5 barang. Dan 3 dari 10 pembeli sudah tahu produk apa mereka beli.

Menurut picodi.com, di Indonesia kebanyakan konsumen memanfaatkan momen ini untuk membeli keperluan pribadi. Berbeda di negara-negara lain yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan perayaan Hari Raya Natal

“Di Indonesia Black Friday adalah kesempatan untuk mendapatkan hadiah untuk diri sendiri (57% responden memilih jawaban ini) atau membeli keperluan rumah tangga (30%),” ungkap picodi.com

Menariknya, picodi.com menemukan bahwa rata-rata pria akan menghabiskan lebih banyak uang untuk belanja daripada rata-rata wanita: Rp1,205,000 dan Rp770,000 secara berturut turut.