Paling tidak kita memiliki satu, dua, tiga, atau lebih sahabat yang peduli dan setia terhadap kita. Dia ataupun mereka pasti sudah banyak mewarnai hidup kita sehari-hari. Tetapi, persahabatan kita terancam remuk bila tak pandai-pandai amat menjaganya.

Sejak sekolah dasar sebenarnya kita sudah disadarkan bahwa manusia adalah makhluk sosial, atau bermasyarakat (zoon politicon) dalam lingkup lebih luas, bukan berindividu. Artinya kita adalah makhluk yang tidak bisa hidup sendiri, dan memang membutuhkan orang lain. Hanya malaikat dan hewan yang bisa tak bersosial, Aristoteles pernah berujar.

Segendang sepenarian, filsuf tersohor Adam Smith mengatakan, manusia adalah makhluk homo homini socius. Artinya, manusia adalah sahabat bagi manusia lainnya.

Lebih jauh, masih kata Adam, manusia merupakan homo economicus atau makhluk ekonomi: tak pernah puas dengan perolehannya dan selalu berusaha secara terus menerus memenuhi kebutuhannya. Salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan itu adalah memiliki sahabat.

Tak bisa dipungkiri kalau sahabat memang menjadi salah satu kebutuhan manusia paling nyata. Meski ia tak serta merta bekerja sendiri. Sebab ada hal-hal yang melandasinya, selain karena memang manusia sebagai makhluk sosial.

Olson & DeFrain (2006) menjelaskan ada tiga faktor yang membuat manusia ingin dan mau membangun serta menjalani persahabatan. Faktor pertama adalah kesenangan. Faktor ini menjadi penting dan mendasar ketika seseorang menjalani aktivitas persahabatan seperti berjalan-jalan, nonton, olahraga, belajar kelompok, atau apapun yang dilakukan bersama-sama dan mengarah kepada hal-hal menyenangkan bagi yang menjalin.

Kedua adalah kepercayaan. Faktor ini adalah tingkat lanjutan dari faktor sebelumnya dan merupakan kunci dari sebuah persahabatan. Bagi manusia yang menjalani persahabatan, tentu ada rasa kebahagiaan ketika memberikan kepercayaan kepada seseorang, terkhusus seorang sahabat. Begitu pun sebaliknya, pasti kita juga merasakan betapa sangat dihargainya ketika diberikan kepercayaan. Karena kita dianggap ada.

Tanpa hal tadi rasanya sulit menjalani persahabatan yang langgeng. Dan itulah kenapa kepercayaan menjadi kunci dalam menjalani persahabatan.

Ketiga, penerimaan. Pepatah mengatakan, semakin tinggi sebuah pohon, maka semakin kencang pula angin yang menggoyangnya. Maksudnya, semakin lama usia sebuah persahabatan, maka semakin berat ujian memjaganya. Belum lagi konflik yang sewaktu-waktu bisa hadir di dalamnya. Dan sudah sering kali, penerimaan menjadi solusi terbaik dalam merawat sebuah hubungan persahabatan. Karena itu, musykil rasanya persahabatan bisa langgeng tanpa penerimaan.

Secara singkat, faktor tadi sebenarnya ingin mengatakan bahwa sulit memulai persahabatan tanpa kesenangan, membangun persahabatan tanpa kepercayaan, dan merawat persahabatan tanpa penerimaan.

Persahabatan beda generasi

Persahabatan sejatinya hadir bukan baru-baru ini saja. Merujuk dari pemaparan sebelumnya, dapat dikatakan persahabatan sudah ada sejak manusia lahir hingga saat ini: mereka para milenial. Hanya saja ada pembeda jalannya persahabatan di tiap generasi.

Dahulu, ketika era teknologi dan informasi belum hadir, pendahulu kita lebih banyak menajalani fungsi sosialnya dengan bertatap muka secara langsung. Berbicara terbuka di setiap pertemuannya. Pun interaksi sosial dan komunikasi sangat terbangun di dalamnya. Namun kini, milenial punya cara lain.

Hadir di tengah deras kemajuan teknologi informasi, milenial memiliki banyak pilihan bagaimana mereka berinteraksi sesamanya. Hal ini tentu sangat positif untuk mendorong kekreativitasan mereka dalam menjalani proses sosial.

Tetapi di sisi lain, jika ini terus-menerus dilakukan bahkan dianggap memang sebagai cara sebenarnya berinteraksi, maka milenial perlu dikhawatirkan.

Pasalnya, mereka berpotensi gagap dan gugup menjalani interaksi dan berkomunikasi sosial secara nyata. Akibatnya lagi, ada kemungkinan umur sebuah persahabatan dari generasi ke generasi semakin pendek –sayangnya penulis belum menemukan penelitian valid tentang kemungkinan dari pernyataan ini.

Terakhir, perlu kita ketahui, kualitas persahabatan terbaik bisa dibangun melalui pengungkapan diri –bukan melalui gambar apalagi teks– untuk bisa mencari jalan keluar dari suatu masalah dengan cara tatap muka, tanpa perantara.

Jadi, wahai milenial, mulai sekarang saatnya kita tingkatkan interaksi sosial tatap muka yuk agar persahabatan kita jauh lebih berkualitas.

foto: unsplash