Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Munir Said Thalib tewas dalam penerbangan menuju Amsterdam, Belanda, guna studi hukum di Utrecht Universiteit. Namun, pria asli Malang itu menghembuskan napas terakhirnya di dalam pesawat setelah ditemukan sebuah racun di dalam lambungnya.

Sebelumnya Munir memang mengalami masalah dalam perutnya. Diketahui, dalam perjalanan ia kerap bolak-balik ke toilet.

Kondisi Munir diketahui pramugara pesawat sebelum akhirnya mendapat pertolongan dari penumpang lain yang kebetulan seorang dokter.

Nahas, nyawa Munir tak sempat tertolong. Ia pun tewas dua jam sebelum mendarat di Bandara Schipol, Belanda.

Berdasarkan hasil forensik yang dihimpun dari beberapa sumber, di lambung Munir ditemukan sebuah racun arsenik dengan kadar 1,23 gram, dua kali lipat daya dahan tubuh manusia.

Sementara sumber lain mengatakan Munir meninggal karena diracun menggunakan arsenik berkadar lebih dua gram.

Racun arsenik tergolong sangat keras, dalam sekejap racun ini dapat membunuh seseorang yang mengonsumsinya. Tak heran kalau banyak yang mengatakan arsenik adalah ‘pembunuh berdarah dingin’.

Apa sebab? Racun ini tidak memiliki bau, rasa, dan warna, sehingga bila dimasukkan ke dalam makanan atau minuman tidak akan menimbulkan kecurigaan.

Racun Arsenik bisa menimbulkan reaksi berbeda-beda bagi setiap orang. Tergantung dosis yang masuk ke dalam tubuh.

Jika racun arsenik yang masuk ke dalam tubuh berkadar 0,3 sampai 30 mg per liter (mg/l) dalam air, maka pengonsumsi akan mengalami iritasi pada perut dan usus. Adapun gejalanya seperti sakit perut, mual, muntah-muntah, dan diare.

Lain hal, jika racun arsenik yang masuk ke dalam tubuh dalam jumlah banyak (di atas 60 mg/l di dalam air) maka dapat menyebabkan kematian.

Tidak hanya itu, bila racun arsenik bersarang dalam tubuh seseorang dapat berefek menurunkan produksi sel darah merah dan putih.

Akibatnya, dengan menurunnya produksi sel darah, maka akan menyebabkan kelelahan, detak jantung menjadi abnormal, kerusakan pembuluh darah hingga menyebabkan timbulnya memar, serta terganggunya fungsi saraf yang menyebabkan kaki dan tangan mengalami kesemutan.

sumber foto: shutterstock/andrei kuzmik