Nenek moyang kita banyak mengajarkan tentang arti kehidupan. Caranya beragam: lewat tingkah laku, nasihat, ataupun tulisan. Namun, tak sedikit juga melalui musik.

Dipilihnya musik mungkin sebagai media paling efisien. Karena musik lebih mudah diterima. Namun para nenek moyang atau pendahulu kita tak sembarangan dalam menghasilkan lagu. Mereka sangat memperhitungkan maksud dan tujuan dari lagu yang dihasilkan sehingga memunculkan syarat makan mendalam di baliknya.

Gundul-gundul Pacul, misalnya. Lagu daerah asal Jawa yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga ini lebih dikenal sebagai lagu anak-anak dan memiliki lirik sederhana dan sedikit lucu. Nadanya pun pas untuk dinyanyikan anak-anak.

Konon, lagu ini memang sengaja dikemas secara anak-anak. Sebab, melalui anak-anak, lagu ini akan terus diingat.

Gundul gundul pacul, cul, gembelengan
Nyunggi nyunggi wakul, kul, gembelengan
Wakul ngglimpang segane dadi sak latar
Wakul ngglimpang segane dadi sak latar

Namun tak dinyana, Gundul-gundul Pacul punya makna mendalam di baliknya.

Kata pertama yang disebut dalam lagu ini, yakni “gundul”, atau kepala yang tak memiliki rambut.

Kita tahu bahwa kepala adalah lambang kemuliaan atau kehormatan seseorang. Sedangkan rambut adalah lambang mahkota. Artinya, seseorang yang menjadi pemimpin secara otomatis memiliki kehormatan yang melekat.

Baca juga: Kembalikan Masa Kejayaan Lagu Anak Indonesia

Akan tetapi, kehormatan juga mesti dibarengi dengan mahkota. Mahkota yang dimaksud adalah kejujuran, keadilan, dan terpenting adalah sadar akan posisinya sebagai pelayan rakyat. Tanpa mahkota, seorang pemimpin sulit dikatakan sebagai mana sebenarnya pemimpin. Dan itu banyak kita temui saat ini.

Kemudian pacul, atau cangkul, sebuah lambang kerakyatan. Dimaknai dari empat sisi yang terdapat pada lempengan besi pacul tersebut.

Empat sisi ini sama dengan pancaindera manusia, yakni mata (digunakan untuk melihat rakyat), telinga digunakan untuk mendengar rakyat), hidung (digunakan untuk mengendus keinginan atau kesulitan rakyat), dan mulut (digunakan untuk berkata-kata yang adil).

Lalu ada kata “gembelengan“, yang memiliki arti sembarangan, sembrono, sombong, atau, barangkali yang lebih tepat untuk menggambarkannya adalah menyalahgunakan kehormatannya.

Dalam diri pemimpin yang mesti disadari adalah: amanat rakyat akan selalu dibawanya ke manapun dan di manapun ia melangkah. Maka, disebutlah nyunggi nyunggi wakul, atau membawa bakul di atas kepala.

Bakul yang dibawa dengan kepala tersebut berisikan sebuah amanat rakyat yang besar. Namun, setelah kalimat itu, kembali muncul gembelengan, yang artinya banyak pemimpin ingkar terhadap amanatnya.

Karena banyak yang gembelengan, terjadilah wakul ngglimpang segane dadi sak latar. Kalimat ini berarti bakul yang dibawa tumpah berantakan sehalaman dan mubazir. Maksudnya, banyak pemimpin yang membawa amanat rakyat dengan kesombongannya sehingga amanat di dalam bakul itu “tumpah” sia-sia dan tak bermanfaat.

Jadi, secara keseluruhan lagu ini merupakan komitmen seseorang terhadap tanggung jawab dan amanah yang diberikan orang lain.

Nasihat kepemimpinan ini tidak hanya berlaku di pemerintahan, tetapi juga di dalam kelompok masyarakat terkecil atau keluarga.

Namun pertanyaannya, sudahkah pemimpin kita memahami lagu sederhana ini?

sumber foto: istock