Ada yang mengatakan Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) adalah pemberian tugas Soekarno kepada Soeharto, ada pula yang menyebut surat itu justru sebuah mandat estafet kepemimpinan dari Soekarno ke Soeharto. Namun bila dilihat, Supersemar lebih identik dengan salah satu tokoh wayang, Semar.

Semar merupakan tokoh punakawan (empat sekawan) dalam mitologi Jawa hasil modifikasi Sunan Kalijaga dari kisah Mahabarata. Modifikasi ini dimaksudkan untuk “mematahkan” hirarki sosial di Mahabarata dengan konsep feodalnya, Brahmana hingga Sudra. Dengan adanya Semar, otomatis hirarki sosial pada Mahabarata tak lagi terpakai. Sebab, Sunan Kalijaga menempatkan Semar di tingkatan tertinggi dan terbawah. Dewa dan rakyat kecil.

Penggambaran dewa dan rakyat kecil terlihat dari fisik Semar. Ismaya, nama lain Semar, memiliki bentuk fisik cukup unik sekaligus simbol kehidupan. Tubuhnya bulat, simbol dari bumi, tempat tinggal umat makhluk hidup.

Raut Semar selalu tersenyum, tetapi matanya selalu sembab. Penggambaran ini simbol suka dan duka. Parasnya tua tetapi potongan rambutnya bergaya kuncung seperti anak kecil, sebagai simbol tua dan muda.

Ia berkelamin laki-laki, tetapi memiliki payudara seperti perempuan, sebagai simbol maskulinitas dan feminitas. Ia juga merupakan penjelmaan dewa tetapi hidup sebagai rakyat kecil, sebagai simbol atasan dan bawahan.

Lalu Semar selalu menyembunyikan tangan kanannya, artinya menyembunyikan kebaikan dan kelebihan yang dimilikinya. Sedangkan tangan kirinya selalu menunjuk ke atas, yang berarti ia menjunjung tinggi nilai Ketuhanan yang Maha Esa. Dan kain yang semar gunakan mempunyai arti keberagaman atau toleransi.

Seperti namanya, Semar sulit diidentifikasi. Semar begitu samar. Sering kali Semar terlihat sebagai rakyat biasa, namun dari berabagai versi kisahnya, Semar memiliki kesaktian sangat luar biasa. Bahkan bila ia marah, semesta bergertar.

Ciri-ciri dan karakter Semar tersebut pada akhirnya, tidak identik kepada Soekarno. Melainkan kepada Soeharto. Ia memang dikenal sangat menyukai wayang, dan Semar adalah idolanya. Tak hanya itu, bahkan Soeharto kerap “menyemarkan” dirinya.

Pernah di suatu era, Soeharto diisukan memiliki begitu banyak guru spritual, bahkan hingga di tiap provinsi. Membantah isu itu, ia justru mengatakan dirinya sendirilah guru spiritual itu.

Akan tetapi, pernyataan itu, menurut sejarawan dan cendikiawan Indonesia, Onghokham, adalah sebuah penegasan bahwa Soeharto menyamakan dirinya dengan Semar.

“Penegasan tersebut diungkapkan dengan menyamakan diri Soeharto dengan Semar, tokoh pewayangan yang berperan sangat dominan dalam kehidupan orang Jawa, baik secara kultural maupun spiritual,” kata Onghokham dalam Dunia Spiritual Soeharto: Menelusuri Laku Ritual, Tempat-tempat dan Guru Spiritualnya.

Penyemaran dirinya itu ditunjukan Soehart pada masanya, di mana saban pekan layar kaca televisi selalu dihisasi pementasan wayang Semar. Selain di teve, cerita Semar pun digelar di Istana Negara.

Selain itu, pada 16 Mei 1974 Soeharto pernah membuat sebuah organisasi nirlaba yang bertujuan membantu dunia pendidikan di Indonesia dengan bantuan pemberian beasiswa, dengan diberi nama Yayasan Supersemar.