Firaun telah lama mati. Belanda sudah lama pergi. Jepang telah mengakui NKRI. Tapi pertanyaan sudahkah kita merdeka masih menjadi tanda tanya sampai saat ini.

Kalau kemerdekaan dalam konteks mengusir pasukan Portugis, Inggris, Belanda, atau Jepang, ya memang sudah. Tapi merdeka untuk menjadi Indonesia, rasa-rasanya masih jauh. Bahkan dari segala aspek, bidang, atau lini manapun.

Kita belum betul-betul merdeka karena melihat perilaku, pikiran, dana cara akal kita bekerja. Tak satu pun ada indikator bahwa kita adalah negara, bangsa, atau masyarakat merdeka.

Pendeknya pencapaian rasionalitas, jangkauan pikiran visi dan misi, intelektualitas yang dangkal, rentan terhadap disinformasi, mudah ditipu dan tertipu, mudah kagum dan terpesona akan pencitraan, serta terlalu ringkihnya kita dikelabui sihir-sihir nasional dan global adalah gejala-gejala sebuah bangsa belum merdeka.

Apalagi lagi melihat mental kita yang maniak konsumsi: tak tahan melihat godaan-godaan diskonan, tak ada perlawanan pikiran atas terpaan-terpaan iklan. Anjuran-anjuran menjaga kesehatan dan hidup sehat sudah sering kita dengar, tapi godaan-godaan makanan junk food atau iklan rokok berteriak lebih kencang tanpa ada ketegasan dari para pihak berwenang.

Otoritas kesehatan pun sangat jarang menganjurkan Anda hidup sehat, yang ada hanya menganjurkan ke rumah sakit terbaik, perawatan kelas wahid, atau minum obat ini-itu guna badan fit lagi.

Tak selesai di situ. Kita masih punya sinisme luar biasa terhadap perbedaan, baik terang-terangan atau diam-diam. Pernyataan penerimaan yang di baliknya adalah penolakan. Tidak percaya satu sama lain, karena memang satu sama lain tidak bisa dipercaya.

Belum lagi kita masih gagal memiliki landasan-landasan komprehensif dalam memilih pemimpin. Sering kali kita memilih karena suka, tidak memilih karena benci. Kita memilih pemimpin karena dia berbicara kemiskinan dan disiarkan secara nasional, yang pada saat bicara tengah mengenakan pakaian berharga ratusan juta, bahkan puluhan miliar.

Dari itu semua, kita baiknya merenungkan kembali arti kemerdekaan, yang mungkin selama ini kita salah melihatnya. Atau tidak seutuhnya.

Tidak perlu terlalu berat-berat sampai dalam urusan negara. Merdekalah atas diri kita sendiri, yang selama ini, mungkin, secara tidak sadar, dikendalikan oleh polusi-polusi informasi.

sumber gambar: geotimes.co.id