“Semakin banyak kamu membaca, semakin banyak hal yang akan kamu ketahui. Semakin banyak kamu belajar, semakin banyak tempat yang akan kamu kunjungi,” begitu sekiranya kata Dr. Seuss.

Pernyataan singkat Dr. Seuss secara langsung menyadarkan kita akan pentingnya sebuah buku dan literasi. Dari buku, tidak hanya saja melihat dunia, tetapi juga dapat menentukan seberapa jauh kualitas suatu generasi. Sebab buku menyandang status penting dalam mengukur kualitas suatu masyarakat.

Dari itu maka kemudian terbitlah peringkat literasi negara dalam skala internasional. Lalu, bagaimanakah posisi negara Indonesia di mata dunia internasional terkait bidang literasi?

Data UNESCO menunjukkan bahwa dalam hal minat membaca, Indonesia mendapat angka 0.001 saja. Data ini memberi tafsiran bahwa dari 1000 orang yang ada di Indonesia, hanya 1 orang saja yang masih rutin membaca buku.

Realita itu tentu terasa ironis jika dibandingkan dengan total 266,927,71 individu yang hidup di berbagai pelosok nusantara.

Apabila kita membandingkan ukuran 1000 orang dengan total penduduk Indonesia, ternyata hanya ada sekitar 266 ribu orang saja yang masih rajin membaca.

Pencapaian tersebut selanjutnya berkontribusi pada posisi negara Indonesia dalam urutan 60 dari 61 negara yang diteliti oleh The World Most Literate Nation Ranked.

Baca juga: Literasi: Bukan Hanya Perihal Membaca

Membandingkan posisi Indonesia dengan negara lainnya yang mampu menempati posisi teratas seperti Finlandia, studi tadi menggarisbawahi mengenai perilaku dan gaya hidup terkait literasi.

Negara yang mampu menjajaki posisi teratas ternyata telah menjadikan budaya membaca sebagai budaya nasional mereka di samping menyiapkan output yang berkompeten di masa depan.

Jika hanya mengukur hasil tes atau performa akademik, maka negara lainnya seperti Singapura atau Jepang dapat lebih unggul dibandingkan negara Nordic seperti Finlandia.

Tetapi peneliti dalam studi tersebut (Miller) percaya bahwa literasi bukan hanya soal angka, namun juga soal kualitas.

Sehingga performa yang baik dalam ujian atau penelitian saja tidak cukup, apabila masyarakatnya tidak menjiwai pentingnya membaca buku.

Merujuk pada hasil penelitian tersebut, tentu sudah sepatutnya kita mulai berbenah dan memperbaiki cara pandang kita akan dunia literasi.

Salah satu faktor mendasar yang berkontribusi menurunkan angka minat baca masyarakat Indonesia yaitu rendahnya aksesibilitas media membaca serta rendahnya minat individu untuk mulai membaca.

Hal itu disebabkan oleh berbagai faktor, seperti mahalnya harga buku dengan pajak hingga 6,5 persen serta minimnya optimalisasi penggunaan sarana pendukung untuk memperbaiki minat membaca.

Harga buku yang semakin mahal, ditambah dengan beban pajak, akan menurunkan kemampuan membeli buku serta cenderung membuat konsumen beralih membeli benda atau hal lain.

Di samping itu, walaupun dapat kita temukan berbagai layanan inovatif seperti aplikasi perpustakaan daring, terkadang masih muncul keluhan atas kinerja situs dan sulitnya meminjam buku yang diinginkan karena minimnya persediaan buku.

Untuk memperbaiki kondisi semacam itu, masyarakat harus mengambil inisiatif terlebih dahulu untuk meningkatkan budaya literasi nasional–sikap proaktif dapat mendasari munculnya inisiatif lainnya untuk menyebarkan minat membaca ke berbagai lapisan masyarakat.

Selanjutnya, dengan pesatnya kemajuan teknologi dan informasi saat ini, media bisa dimanfaatkan dan dioptimalisasikan untuk memperbaiki minat membaca. Hal itu diperkuat dengan posisi Indonesia sebagai salah satu pengguna media elektronik terbanyak di dunia, seperti dilansir oleh App Annie 2017.

Baca juga: Pengaruh Media Sosial Terhadap Perilaku di Kalangan Remaja

Kendati begitu, fakta yang diterbitkan oleh statista.com, terkait penggunaan media elektronik, kecenderungan menggunakan media sosial masih lebih besar ketimbang membaca buku elektronik.

Sehingga, penting didukung terbitnya inovasi untuk menggeser kecenderungan masyarakat yang memainkan alat elektroniknya untuk sekadar bermedia sosial menjadi sepenuhnya termotivasi membaca buku.

Sudah sepatutnya generasi penerus bangsa peka akan isu yang berkembang di sekitarnya dan memupuk sikap proaktif demi kemajuan bangsa ini.

Posisi Indonesia dalam peringkat literasi sangat mengkhawatirkan dan memerlukan langkah progresif untuk memperbaikinya.

Namun untuk memulainya diperlukan niat dan komitmen untuk berubah kearah yang lebih baik terlebih dahulu sebelum melakukan realisasi tindakan.

Akhir kata, Penulis berharap agar kegiatan literasi bukan hanya menjadi suatu keharusan, Namun dapat menjadi budaya yang mengakar kuat dalam hidup bermasyarakat, meski perlahan. Sehingga ke depannya, Indonesia dapat menciptakan rekor yang lebih baik dalam dunia literasi.

Sumber :
webcapp.ccsu.edu, goinsan.comgoodreads.com


Tulisan di atas merupakan opini penulis. IndonesianYouth.org tidak bertanggung jawab atas isi tulisan tersebut. Penulis bisa dihubungi di [email protected].

Kanal Opini merupakan wadah tulisan-tulisan Anak Muda di Indonesia yang ingin menuangkan sekaligus turut berbagi tentang fenomena atau isu di sekitarnya. Bergabunglah dengan kontributor IndonesiaYouth.org sekarang juga!