Salah satu tanda-tanda globalisasi paling mafhum kita tahu, mungkin juga sadari, adalah bergesernya sebuah budaya, nilai, atau cara pandang kita bahkan kebiasaan kita. Termasuk bagaimana sekarang ini kita menilai sebuah arti cantik, yang terlalu sederhana bahkan sempit.

Globalisasi adalah salah satu bentuk proses integrasi internasional yang terjadi karena pertukaran pandangan dunia, produk, pemikiran, dan aspek-aspek kebudayaan dengan aspek lainnya, termasuk menghasilkan kedekatan dengan masyarakat.

Grayson (2009) dalam bukunya Pop Goes IR? Researching the Pop-Culture-World Politics Continuum menyebutkan, bahwa budaya populer dapat merasuk ke dalam kehidupan sehari-hari masyarakat umum karena dianggap bisa menjadi “jeda” dari realitas kehidupan kehidupan sehari-hari, realitas politik–mungkin juga ke dalam hal-hal tradisional pula sakral–yang memenatkan dan membosankan.

Bahkan, budaya populer dinilai memiliki kekuatan politik yang baik lantaran karena dia sangat terkait erat dengan konsumsi masyarakat.

Kekuatan budaya populer adalah menggubah sebuah budaya dan menerapkan standarisasi terhadap sesuatu. Karenanya ia bersifat menyebar: ke dalam masyarakat secara menyeluruh, baik anak-anak maupun dewasa. Sehingga budaya populer dianggap merasuk ke dalam nadi masyarakat dengan baik.

Lalu apa kaitannya dengan judul di atas, atau bagaimana ketika sesuatu yang dianggap dekat dengan masyarakat justru menjadi salah satu penyebab kekerasan non-fisik yang di antaranya kekerasan verbal sehingga membuat depresi dan sebagai penyebab opresi? Saya akan gambarkan satu contoh kasus. Misalnya adalah ketika Boneka Barbie dan Ken booming di seluruh dunia akibat globalisasi.

Perusahaan Mattel,Inc. di Amerika yang merupakan produsen boneka Barbie tidak akan berpikir bahwa dengan menciptakan boneka perempuan itu faktanya dapat mengubah pola dan perspektif manusia tentang sesuatu. Kecantikan, misalnya.

Mulanya, Ruth Handler hanya menciptakan boneka Barbie sebagai hiburan untuk anaknya, dan anak-anak di seluruh dunia kemudian. Sehingga, Sandler dengan Barbie-nya memunculkan daya pikir dan kreativitas dalam hal berdandan, berpakaian, serta mempercantik diri.

Masalahnya, Barbie sendiri ternyata mengubah pandangan hampir sebagian besar masyarakat, terutama wanita dan pria. Barbie ternyata mendekonstruksi pemikiran masyarakat tentang standarisasi cantik itu sendiri.

Cantik digambarkan oleh Barbie dengan berwajah mulus dan putih, berbadan langsing, berambut panjang, dan lain-lainya.

Standar makna cantik itu sendiri setelah Barbie lahir pada tahun 1959 terus tertanam ke dalam pikiran-pikiran manusia, terutama anak-anak perempuan.

Anak-anak perempuan akan mudah terdekonstruksi pemahamannya karena anak-anak akan lebih mudah berimajinasi dibanding dengan orang dewasa.

Standarisasi cantik itu masuk dan merasuk ke nadi anak-anak perempuan bahkan anak laki-laki, dan perspektif cantik yang mesti seperti Barbie terus tertanam sangat lama sampai sekarang.

Kekuatan budaya populer yang mendekonstruksi pemikiran masyarakat dan menggeser pandangan seseorang terhadap sesuatu terlihat di kasus ini, di mana Barbie menanamkan standarisasi cantik–juga kecantikan– yang awalnya tidak terdefinisi menjadi terdefinisi.

Namun sayangnya, makna cantik yang ditanamkan oleh Barbie itu sendiri ternyata mempunyai salah satu yang dianggap merugikan. Barbie ternyata menanamkan api kecil penyebab opresi akibat simbologi.

Masyarakat yang menganggap cantik harus seperti Barbie ternyata menyebabkan hampir sebagian besar perempuan yang tidak seperti Barbie terdiskriminasi, mengalami beberapa kekerasan verbal yang menyakitkan, dan lain-lain yang dianggap mengguncang psikologis.

Semisal ketika Barbie menerapkan kata cantik harus langsing, perempuan-perempuan yang tidak langsing akan mengalami Body Shaming. Atau lebih tepatnya mengalami penghinaan terhadap fisik.

Budaya Populer walaupun sangat dekat dengan masyarakat, juga ternyata bisa menyakiti sebagian masyarakat lain seperti mawar yang indah tapi berduri.

Budaya populer yang dianggap sebagai sesuatu hal yang dapat mengisi waktu jeda masyarakat dari penatnya realitas kehidupan, ternyata bisa menyebabkan manusia depresi, terdiskriminasi, atau teropresi.

Kacamata Feminisme Post-Modern menerjemahkan, simbologi inilah yang merugikan bagi beberapa bahkan sebagian masyarakat pada umumnya yang tidak memiliki standar seperti cantiknya ala Barbie.

Feminisme Post-Modern, baik Deridda ataupun Helena Cixous, berpendapat bahwa manusia harus bisa lepas dari simbologi yang diterapkan oleh sesuatu yang tadinya tidak terdefinisi menjadi terdefinisi, seperti makna cantik.

Feminisme Post-Modern juga menganggap bahwa simbologi merupakan salah satu penyebab terdalam ketidaksetaraan gender.

Sekarang, kita tinggal memulai langkah baru tentang mendobrak standarisasi cantik ala Barbie menjadi cantik ala diri sendri.

Kini kita saatnya mengubah perpsektif makna cantik guna menghentikan kekerasan verbal yang diterima oleh perempuan-perempuan yang tidak memenuhi standarisasi cantik ala Barbie.

Body Shaming adalah hal yang tidak diinginkan yang muncul di dalam jeda dan waktu relaks masyarakat.

Karena, cantik itu, adalah tidak terdefinisi dan dapat diciptakan melalui diri sendiri sesuai dengan apa yang dikehendaki.

sumber gambar: umirror.in


Tulisan di atas merupakan opini penulis. MudaZINE.com tidak bertanggung jawab atas isi tulisan tersebut. Penulis bisa dihubungi di [email protected].

Kanal Opini merupakan wadah tulisan-tulisan Anak Muda di Indonesia yang ingin menuangkan sekaligus turut berbagi tentang fenomena atau isu di sekitarnya. Bergabunglah dengan kontributor MudaZINE sekarang juga!