Ada begitu banyak mitos-mitos yang berkembang di kalangan masyarakat perihal seks atau seksualitas. Di sebagian kalangan, seks atau seksualitas adahal tabu. Namun di sebagian kalangan lain kalangannya tidak. Hanya saja bila menyentuh bagian kesehatan reproduksi mereka masih awam.

Seksualitas atau jenis kelamin adalah karakteristik biologis-anatomis, khususnya sistem reproduksi dan hormonal diikuti dengan karakteristik fisiologi tubuh, yang menentukan seseorang adalah laki-laki atau perempuan (DepKes RI, 2002:2).

Hubungan seksual adalah suatu keadaan fisiologik yang menimbulkan kepuasan fisik, dimana keadaan ini merupakan respons dari bentuk perilaku seksual yang berupa ciuman, pelukan, dan percumbuan (Jersild, 1978).

Sedankgan Miller (1990) berpendapat bahwa terdapat empat tingkatan hubungan fisik dalam bercumbuan, di mana hal ini merupakan rencana alamiah untuk meningkatkan gairah seksual bagi persiapan hubungan seksual yaitu berpegangan tangan, saling memeluk (tangan di luar baju), berciuman, saling membelai atau meraba (dengan tangan di dalam baju yang lain).

Seks sendiri adalah topik yang mendominasi kalangan para remaja. Mereka seperti ‘malu-malu kucing’ untuk mempelajari tentang seks, berikut dengan kesehatan reproduksinya. Kurikulum beserta pengajarnya pun seperti gagap untuk menyampaikan hal ini kepada mereka. Padahal, itu bisa saja menjadi api dalam sekam.

Ujungnya, mereka hanya mendapati informasi yang berasal dari gosip, bahkan mitos, saja. Diperparah dengan segala informasi tak pasti itu mereka yakini.

Sumber mitos seksual yang remaja dapatkan kebanyakan berasal dari teman sebayanya. Tanpa sumber yang jelas dan terpercaya remaja menonsumsi dan mempercayai mitos-mitos seksual tersebut.

Kemudian juga remaja cenderung mengkaitkan seksualitas dengan nafsu birahi atau pada umumnya hubungan seksual. Pengetahuan remaja tentang seksualitas pada umumnya terbatas pada hubungan seksual untuk mendapatkan keturunan.

Pengertian Mitos

Menurut Subinarto (2008), mitos adalah informasi yang sebenarnya salah tetapi dianggap benar, yang telah diyakini, beredar, dan populer di masyarakat.

Mitos cepat sekali berkembang di masyarakat, padahal kebenarannya masih dipertanyakan dan sering tidak akurat atau tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya.

Banyak masyarakat yang percaya kepada mitos karena mereka sulit mendapatkan informasi yang akurat dan biasanya malas untuk mencari serta mendapatkan informasi yang benar, oleh sebab itu mereka dengan mudahnya menerima segala informasi yang sifatnya desas-desus atau gosip semata.

Terdapat beberapa hal mitos yang berkaitan dengan seksualitas

Mitos mengenai keperawanan

Sebuah mitos yang dikembangkan oleh nenek moyang kita, tanda keperawanan adalah keluarnya darah pada saat malam pertama menandakan kondisi hymen atau selaput dara wanita tersebut masih utuh.

Mitos alat reproduksi

Sering masturbasi atau onani bisa membuat mandul. Faktanya, secara medis masturbasi atau onani tidak mengganggu kesehatan fisik selama dilakukan secara aman.

Di kalangan remaja, mitos paling kencang beredar adalah terkait masturbasi atau onani yang dapat menyebabkan lutut “kopong”. Faktanya, masturbasi atau onani tidak dapat menyebabkan lutut kopong. Sebab, Spermatozoa tidak diproduksi dan tidak disimpan di dalam lutut.

Mitos ‘datang bulan’

‘Datang bulan’ atau PMS dapat dicegah dengan mencuci alat kelamin. Faktanya, tidak ada sabun atau disinfektan apapun yang dapat mencegah PMS.

Ada juga mitos yang mengatakan bahwa minum antibiotik sebelum hubungan seksual akan mencegah penularan PMS. Faktanya, minum antibiotik sebelum hubungan seksual tidak dapat mencegah PMS.

Selain itu pada kalangan remaja, ada juga mitos-mitos yang berkembang di masyarakat, antara lain:

Dorongan seksual

Banyak yang percaya apabila lelaki memiliki dorongan seksual lebih besar ketimbang perempuan. Faktanya, dorongan seksual merupakan hal yang alamiah muncul pada setiap individu pada umumnya dimulai saat ia menginjak masa pubertas.

Perempuan berdada besar punya dorongan seks besar

Senad dengan sebelumnya, mitos perempuan yang berdada besar dorongan seksualnya besar juga tak kalah marak. Padahal, faktanya tidak seperti itu. Secara medis, tidak ada hubungan langsung antara ukuran payudara dengan dorongan seksual seseorang.

Berhubungan seks dengan pacar merupakan bukti cinta

Faktanya, berhubungan seks bukan cara untuk menunjukan kasih sayang pada saat masih pacaran, melainkan karena disebabkan adanya dorongan seksual yang tidak terkontrol.

Seks oral tidak bisa menularkan penyakit

Mitos terakhir ini sebenarnya punya potensi bermasalah kalau tidak cepat-cepat dibenarkan. Karena faktanya, ada dua cara penularan penyakit menular seksual, yaitu melalui pertukaran cairan dan persentuhan kulit.

Semoga melalui artikel ini kita dapat mengenali lebih jauh lagi dan memilah mana informasi tentang seks dan kesehatan reproduksi yang fakta dan mana mitos.


Tulisan di atas merupakan opini penulis. IndonesianYouth.org tidak bertanggung jawab atas isi tulisan tersebut. Penulis bisa dihubungi di [email protected].

Kanal Opini merupakan wadah tulisan-tulisan Anak Muda di Indonesia yang ingin menuangkan sekaligus turut berbagi tentang fenomena atau isu di sekitarnya. Bergabunglah dengan kontributor IndonesiaYouth.org sekarang juga!