Bencana yang belum lama terjadi di Nusa Tenggara dan baru-baru ini di Sulawesi mengundang beragam tanggapan dari warganet. Mulai dari duka cita hingga dukungan. Tetapi sayangnya, masih ada saja yang menghakimi berdasarkan agama maupun budaya.

Segala jenis penghakiman dengan mudahnya kita temui di media sosial, dan tentu saja tidak akan menolong apa-apa, terutama bagi korban bencana. Yang ada justru memperburuk situasi.

Bahkan, penghakiman semacam ini kerap muncul pada beberapa persitiwa bencana dan pada beberapa kejadian cenderung menyalahkan perempuan sekaligus dengan isu moralitasnya.

“Termasuk menghubungkan kondisi jenazah perempuan dengan stigma-stigma yang merendahkan perempuan, tanpa menimbang dampaknya pada keluarga yang ditinggalkan dan martabat perempuan korban yang kehilangan nyawa,” kata Komisioner Komnas Perempuan Azriana di Jakarta, mengutip Antara.

Kita, sebagai masyarkat yang berprikemanusiaan, sebaiknya memanusiakan manusia dengan segala kondisi dan latar belakangnya. Dalam kondisi seperti ini, baiknya kita mengedepankan sense of urgency.

Di sisi lain, eksploitasi korban bencana di media sosial, baik menyebarkan gambar atau video korban bencana, alangkah tepatnya kita hindari. Bgaimanapun, korban bencana bukanlah tontonan, apalagi panggung hiburan.

Sebelumnya, gempa berkekuatan magnitudo 7,4 mengguncang Palu, Donggala, dan Mamuju, Sulawesi Tengah, Gempa yang terjadi sekira pukul 18.36 WITA itu juga disertai tsunami setinggi 1,5 sampai 2 meter, Jumat (28/09/2018).

Berdasarkan keterangan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dampak gempa dengan kekuatan 7,4 dirasakan sangat keras. Guncangan gempa dirasakan di sekitar Kota Palu hingga ke utara di wilayah Kabupaten Donggala.

Untuk beberapa wilayah di Donggala meliputi daerah Parigi, Kasimbar, Tobolf, Toribulu, Dongkalang, Sabang, dan Tinombo. Diperkirakan di daerah ini banyak mengalami kerusakan.