Dua minggu sebelum Piala Dunia 2018 di Rusia bergulir, setidaknya ada sembilan pemain Tim Nasional Meksiko melakukan pesta seks. Kendati begitu Induk sepakbola Meksiko tidak mempersoalkannya.

“Itu adalah hari libur, dan itu adalah risiko bahwa seseorang menjalankannya dengan kebebasan,” kata Sekjen Femexfut Guillermo Cantu. Karena alasan itu, Femexfut tidak memberikan sanksi kepada para pemainnya.

Berbeda halnya dengan Timnas Jerman yang oleh pelatih kepalanya, Joachim Loew, dilarang berhubungan seks sebelum bertanding. Jangankan seks, Loew bahkan membuat aturan perizinan yang ketat bila para anak asunya itu ingin bertemu sang istri.

Kata Loew, Timnas Jerman jauh lebih penting ketimbang ego masing-masing pemain, seperti dilansir La Gazetta dello Sport.

Lain Meksiko dan Jerman, lain pula dengan Brasil yang memperbolehkan para pemainnya berhubungan seks selama di Piala Dunia. Dengan catatan, si pemain tidak boleh melakukan ‘akrobatik’ di atas ranjang.

Seks sebelum pertandingan banyak diakui para pemain dapat meningkatkan performa permainan mereka. Sebabnya mereka merasa bisa lebih berkonsentrasi dan mendapatkan energi yang lebih sehingga bisa melakoni pertandingan dengan sempurna.

Tentu kamu masih ingat dengan penyerang asal Brasil, Ronaldo, yang terkenal itu. Iya, dia mengaku selalu berhubungan seks sebelum pertanding.

“Itu membuatmu lebih berkonsentrasi,” katanya mengutip Sky Sports.

Kebiasaan berhubungan seks sebelum bertanding juga diakui rekan senegara Ronaldo, Ronaldinho. Pemain ramah senyum ini mengakui kebiasannya ini saat wawancara ternama dengan majalah Playboy lima tahun lalu.

“Berhubungan seks sebelum bertanding saya lakukan bukan karena klub tidak melarang, melainkan lebih menguntungkan untuk saya karena bisa membuat saya lebih bahagia dan rileks,” tuturnya.

Kendati begitu, tidak selamanya seks menjadi faktor X meningkatnya performa seorang pemain. Setidaknya ini yang dirasakan oleh mantan penyerang Manchester United, Zlatan Ibrahimovic. Ia mengaku bukan seks yang membuatnya bermain hebat dalam pertandingan. Tetapi justru kemarahan.

“Memang ada beberapa pemain yang menilai seks sebagai alat meningkatkan performa. Tapi bagi saya kemarahan merupakan dorongan kekuatan terbaik. Jika saya marah pada sesuatu atau seseorang, maka saya benar-benar bagus,” katanya mengutip Mirror.

Seks sebelum pertandingan sepakbola selalu mengundang perdebatan dan belum selesai hingga kini. Ini bisa terlihat dari beberapa penilitian tentang berhubungan seks sebelum bertanding. Itu juga yang mungkin menimbulkan perbedaan kebijakan dari setiap tim, baik memperbolehkan maupun melarang berhubungan seks sebelum bertanding.

Tahun 2009, sebuah studi di India menyimpulkan bahwa berhubungan seks sebelum pertandingan baik dilakukan untuk pemain. Alasannya, tingkat energi, kekuatan, agresi, keinginan menang dalam kompetisi serta kemampuan konsentrasi akan menjadi lebih tinggi.

Studi lainnya, di Swiss, yang juga diujikan kepada atlet Swiss, mencari adakah kaitannya antara seks dengan atlet sepakbola. Studi tersebut mengatakan, ternyata berhubungan seks bisa berpotensi menganggu para atlet sebelum menjalani pertandingan.

Namun studi ini memiliki catatan, bahwa gangguan akan dirasakan apabila dilakukan dua jam sebelum pertandingan. Ganggugan yang dimaksud itu sendiri adalah seperti kelelahan fisik si pemain.

Selain sebuah studi, ada temuan lucu tentang kebijakan seks sebelum bertanding. Daily Mail pada 2014 mencoba mencari tahu hubungan kebijakan seks dengan juara dunia.

Hasilnya, saat Brasil menjadi juara Piala Dunia 1994 rupanya mereka memperbolehkan seks–bahkan alkohol– sebelum pertandingan. Tentu, dengan beberapa catatan seperti tidak lupa waktu, lupa diri, dan tidak berlebihan.

Serupa juga dengan Jerman pada Piala Dunia 2014 yang memberikan keleluasaan bagi para pemainnya dalam hal aktivitas seksual para pemainnya. Dan hasilnya, kita tahu, mereka juara dunia di tahun itu.

***

sumber gambar: dailymail.co.uk/getty images