Vokalis band hardcore-punk asal Jawa Barat, Jeruji, Ginan Koesmayadi meninggal dunia, Kamis (21/06/2018) malam. Kabarnya Ginan meninggal karena sakit jantung.

Kabar meninggal pria yang akrab disapa Ginan ini mulanya diungkapkan pengamat musik Indonesia, Adib Hidayat, melalui akun Twitter pribadinya. Adib menyebut terakhir kali Ginan menghembuskan nafas pada pukul 22.00 WIB.

Nama Ginan sendiri sudah tidak asing lagi bagi kalangan musik pecinta musik hardcore-punk. Sebab, selain grup musiknyanya yang cukup tenar, ia merupakan salah satu pendiri komunitas Rumah Cemara.

Komunitas ini bisa dikatakan sebagai rumah yang memberikan pendampingan terhadap korban napza dan orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

Selain penggagas Rumah Cemara, Ginan jugalah yang membuat Indonesia melalui Rumah Cemara bisa ikut tampil di Homeless World Cup (HWC), sebuah ajang turnamen sepakbola antarnegara dari belahan dunia manapun.

Berbeda dengan Piala Dunia umumnya, HWC diadakan bertujuan untuk mengubah kehidupan orang-orang melalui sepak bola, dan pesertanya kebanyakan oleh orang-orang yang termarjinalkan di negaranya masing-masing.

Secara kebetulan, penulis pernah menuliskan sedikit tentang Ginan dan Rumah Cemara di blog pribadi. Tulisan ini adalah hasil dari kunjungan penulis ke Rumah Cemara di Bandung, Jawa Barat, sekitar tiga atau empat tahun selama beberapa hari di sana.

Penulis akan menayangkannya kembali di sini setelah dilakukan penyuntingan ulang. Berikut tulisannya:

***

Di antara kita mungkin masih ada yang ingat film Keluarga Cemara yang kerap menghiasi layar kaca di era 90-an akhir sampai 2000-an awal.

Film yang diangkat dari sebuah buku karangan Budayawan, Arswendo Atmowiloto, ini menceritakan kehidupan sebuah keluarga yang sangat sederhana dan mampu menginspirasi penontonnya. Film itu sangat ditunggu-tunggu pada masanya.

Tetapi penulis tidak akan menceritakan itu. Yang mau penulis ceritakan adalah sebuah komunitas yang berdiri berkat dan terinspitasi film tersebut.

Komunitas satu ini bukan komunitas biasa. Mereka berdomisili di Bandung, Jawa Barat. Mereka memiliki nama komunitas yang sama dengan judul film di atas.

Ya, Rumah Cemara. Sebuah komunitas yang didirikan untuk tempat tinggal bagi para pengguna narkoba dan Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA), dengan konsep kekeluargaan bagi anggota komunitasnya.

Rumah Cemara didirikan 1 Januari 2003 oleh 5 orang pecandu narkoba, yang sudah pulih waktu itu. Salah satunya adalah Deradjat Ginandjar Koesmayadi atau biasa dipanggil Ginan.

Ia adalah salah satu pendiri dari Rumah Cemara yang sudah hidup dengan HIV/AIDS sejak tahun 2000.

Para pendiri dan anggota Rumah Cemara/Foto: Ardi Mahmud

Mulanya, Ginan sudah berteman akrab dengan narkoba sejak usianya 13 tahun. Minuman keras, ganja, putaw, dan sejenisnya sudah ia cicipi pada usia semuda itu.

Terlalu akrab dengan narkoba, Ginan pernah hampir meregang nyawa di kampusnya akibat overdosis. Beruntung, waktu itu ada yang menolongnya.

Sampai pada tahun 2000 Ginan dinyatakan positif HIV/AIDS. Awalnya dia tidak percaya. Sampai pada akhirnya dia tes untuk kedua kalinya, hasilnya pun jelas sama.

Sejak itu hidup Ginan mulai berubah. Hidup dengan status positif HIV/AIDS, Ginan terpaksa harus menderita lantaran lingkungan sosial yang tidak terlalu ramah. Waktu itu ia sulit diterima masyarakat. Namun Ginan tidak menyerah.

Singkat cerita, ia bersama-sama kawannya mendirikan Rumah Cemara. Alasannya, ia sadar masih banyak orang-orang di luar sana yang bernasib sama dan kesulitan untuk diterima lingkungannya masing-masing.

“Karena tidak ada tempat yang aman dan nyaman serta kondusif bagi kami pengguna narkoba dan orang dengan HIV/AIDS untuk berbagi pengalaman, kekuata, harapan, serta informasi di antara sesama kami agar bagaimana kami bisa meningkatkan kualitas hidup kami, baik fisik, psikis, maupun secara spiritual,” tutur Ginan kepada penulis saat ditanya alasan mendirikan komunitas ini.

Rumah Cemara memang bukan sebatas sebagai rumah perkumpulan. Mereka juga memiliki program pelayanan dan program mobilisasi sumber daya seperti Metadhone Maintenance Treatment (MMT) dan Rehabilitasi.

MMT adalah program atau kelas bagi pecandu yang ingin berhenti dari pemakaian zat (terutama heroin), dan diganti dengan zat lain yang legal dan disubsidi pemerintah, yaitu metadhone.

MMT sendiri diadakan oleh Rumah Cemara dua kali dalam seminggu. Sedangkan Rehabilitasi adalah tempat pemulihan bagi orang-orang yang menjadi korban penyalahgunaan zat.

Hidup pantang menyerah ala Ginan semakin terlihat setelah dirinya juga sangat aktif di kegiatan sosial dan keolahragaan, terutama sepakbola.

Baca juga: Common Goal: Bersatu Mengubah Dunia dengan Sepak Bola

Berangkat dari kegemarannya terhadap sepakbola, Ginan pernah mengusulkan Rumah Cemara untuk menjadi Official Homeless World Cup (HWC) bagi Indonesia pada tahun 2009.

Setelah melewati proses administrasi yang begitu panjang, Rumah Cemara akhirnya diterima sebagai National Organizer HWC untuk Indonesia. Dan pada 2010, Rumah Cemara pun menerima undangan untuk berpartisipasi di HWC 2010, di Brasil.

Kendati begitu, Rumah Cemara terpaksa mengurungkan niatnya ke Brasil lantaran terganjal minimnya dana yang mereka miliki.

Namun Rumah Cemara tidak menyerah sampai di situ, mereka tetap berusaha mencari dana.

Usaha mereka pun membuahkan hasil. Pada 2011 Rumah Cemara sukses menapakkan kakinya di Paris, Prancis untuk berlaga di sana.

Rumah Cemara di HWC 2011/Foto: homelessworldcup.org

Buah kerja keras mereka juga tidak bisa dibilang sia-sia. Sebab, mereka berhasil membuktikan diri sebagai pendatang baru terbaik. Dan Ginan terpilih sebagai pemain terbaik di HWC 2011. Sedangkan tim Rumah Cemara berhasil finis diurutan keenam dari 48 negara peserta.

Sejak saat itu dan hingga saat ini, Rumah Cemara masih terus berpartisipasi di HWC dari tahun ke tahun.

Homeless World Cup itu sendiri adalah turnamen sepak bola yang bertujuan untuk mengubah kehidupan orang-orang melalui sepak bola yang digagas Mel Young dan Harald Schmied.

***

Kini, Ginan telah kembali ke pangkuan yang Mahakuasa. Bagaimanapun perjuangan Ginan telah memberikan dampak nyata. Menghapus stigma para ODHA. Ia berhasil membuktikan kalau ODHA layak hidup dan berprestasi.

Selamat jalan Ginan.