Kamu pernah enggak bertanya-tanya kenapa presenter perempuan selalu menjadi pemandu program olahraga di televisi? Kalau kamu bertanya dan heran, jawaban sederhananya itu memang sengaja dihadirkan. Loh kenapa? Kita uraikan satu-satu ya.

Sudah jamak diketahui kalau sepakbola menempatkan dirinya sebagai olahraga terpopuler di dunia. Itu bisa dilihat jumlah penonton yang selalu siap memasang mata di setiap pertandingannya, baik di stadion maupun layar kaca.

Dahulu, untuk menonton bola para penggemar harus datang langsung ke stadion. Mereka datang berbondong-bondong dengan menempuh jarak ratusan, bahkan ribuan kilometer jauhnya demi menyaksikan tim kesayangan bertanding. Tetapi sekarang semua berbeda ceritanya. Semua berbeda ketika televisi hadir.

Kehadiran televisi membuat kita bisa menyaksikan tim favorit berlaga dan pemain idola berlenggak-lenggok di atas lapangan hanya cukup dengan memandangi televisi, duduk manis di atas kursi, dan remot teve di tangan. Plus, ditemani camilan.

Teknologi televisi ini terbilang sangat membantu para penikmat sepakbola, terutama kaum lelaki. Karena televisi mampu menembus jarak bagi mereka yang jauh dari arena pertandingan.

Bahkan televisi membuat sepakbola dicap sebagai olahraga paling popular di dunia, seiring meningkatnya jumlah penonton.

Berdasarkan data yang dikeluarkan FIFA, final Piala Dunia 2006 telah ditonton oleh 750 juta orang. Jumlah itu melesat lebih kurang empat kali lipat pada Piala Dunia 2014 yang mencapai 3,5 miliar penonton.

Dan tahukah kamu, dari 3,5 miliar penonton ini, satu miliar di antaranya menonton melalui televisi. Luar biasa bukan?

Sedikit data tadi, setidaknya kita dapat diyakinkan bahwa begitu dahsyatnya televisi, dan karena memang mereka telah berhasil mendekatkan pencintanya dengan tim kesayangannya. Televisi juga sudah mampu membuat kita tak perlu bersusah payah untuk harus terbang ke Eropa, atau Afrika, atau Amerika untuk bisa melihat sang idola.

Pertanyaannya, apakah penyelenggara akan merugi karena banyak yang lebih memilih menonton di televisi?

sumber gambar: hollywoodreporter.com

Tentu tidak. Menonton di stadion dan televisi memiliki pengalaman yang berbeda. Menonton langsung di stadion, bagi kaum lelaki, adalah tantangan tersendiri. Di situ adrenalin dipacu secara langsung. Tidak demikian di televisi.

Perihal keuntungan materi, penyelenggara tentu tidak merugi. Sebab, mereka bisa menjual hak siaran kepada seluruh televisi di berbagai negara. Tak hanya itu, penyelenggara juga sudah mendapat pemasukan dari pihak sponsor. Terserah siapa produsennya.

Lagipula, stadion sepakbola tidak akan mampu menampung penonton sampai satu miliar orang banyaknya. Karena kebanyakan stadion hanya mampu menampung 30-80 ribu penonton.

Para pemilik televisi pun, meski harus membeli hak siar kepada penyelenggara dengan nilai yang sangat mahal, juga tidak merasa dirugikan. Dengan catatan mereka sudah punya perhitungan matang.

Setelah mereka membeli hak siar dan mengantongi izin berlabel official broadcaster mereka punya potensi menjual siarannya itu kepada pengiklan. Dan pengiklan pun diuntungkan karena produknya akan semakin dikenal luas, lantaran siaran sepakbola itu tak pernah sepi penonton, terutama kaum adam sebagai pemonton utamanya.

Tak heran kalau kita selalu melihat merek dari produsen makanan atau minuman menghiasi tayangan olahraga sepakbola.

Namun pemilik televisi tentu tidak hanya bisa mengandalkan banyaknya penonton semata guna menarik pengiklan. Mereka juga harus membuat sebuah konsep program yang kreatif dan menarik. Jangan lupa, penonton televisi selalu punya kuasa penuh untuk mengganti tayangan apa saja dan kapan saja dengan sekali klik. Artinya, televisi harus bekerja keras agar penontonnya tidak beranjak ke acara lain.

Nah agar menarik, salah satu caranya adalah dengan membuat program yang menempatkan perempuan di depan layar kaca. Atau dengan kata lain perempuan ditempatkan sebagai presenternya. Ingat, penonton utama tayangan olahraga, khususnya sepakbola, adalah lelaki.

Dengan menempatkan perempuan di depan layar kaca, sudah pasti bertujuan memikat para penonton laki-laki agar tidak beranjak dari kursinya. Dan di situ dapat dikatakan telah terjadi peristiwa komoditas.

Komoditas secara sederhana dapat didefenisikan sebagai hasil kerja manusia, entah itu dalam bentuk barang atau jasa, yang sengaja diproduksi untuk kemudian ditukar berdasarkan mekanisme pasar.

Komoditas umumnya diproduksi secara masal guna melayani kebutuhan konsumen. Dan juga diproduksi berulang-ulang untuk kebutuhan masyarakat yang menjadi targetnya. Ia juga adalah pematerialan atau kristalisasi kerja sosial manusia (Lee, 2006).

Kemudian komoditas dinilai harus memiliki nilai guna atau manfaat, dalam arti barang atau jasa, untuk memuaskan kebutuhan tertentu.

Selain itu, ia harus pula bisa dipertukarkan dengan barang atau jasa lain yang berbeda kegunaannya. Di mana hal itu disebut sebagai nilai tukar.

Dalam konteks ini, perempuan sebenarnya dijadikan komoditas dengan segala potensinya dieksploitasi guna menarik perhatian, khususnya elemen-elemen sensualitas miliknya. Inilah yang kemudian disebut demokrasi sensualitas (democracy of sensuality), di mana nilai sensualitas digunakan sebagai daya tarik sebuah komoditas yang sebenarnya tidak menarik.

Mengapa tidak menarik?

sumber gambar: hollywoodreporter.com

Penulis sudah banyak mendengar baik langsung maupun tak langsung bahwa para produser program olahraga di beberapa televisi kerap mengeluh atas minimnya pengetahuan para presenter perempuan sekarang ini.

Diungkapkan produser kepada penulis, daftar casting para presenter ini kebanyakan datang dari yang masih menitih karier sebagai model. Menjadi presenter adalah batu loncatan karier mereka.

Namun, ketika para presenter yang ikut casting ini semua gagap dan gugup pengetahuan seputar olahraganya sekaligus, dan sebenarnya, mereka gagal membuktikan untuk layak sebagai presenter. Padahal, pengetahuan dan wawasan adalah modal utama sebagai presenter.

Kamu boleh saja menafsirkan para presenter baru ini hanya mengandalkan tubuhnya sebagai modal menjadi presenter.

Sedangkan ketika sudah berbicara tubuh, maka sensualitas pun tak bisa dilepaskan. Karena sensualitas sendiri adalah mekanisme mengendalikan pikiran konsumen melalui penampilan. Dan di sinilah prinsip kepuasan khalayak yang diperoleh melalui citra tubuh di dalam berbagai sistem komoditas bekerja. Atau dalam kacamata Vincent Mosco disebut komodifikasi khalayak.

Dengan sederhana dapat dikatakan, bahwa tubuh dan sensualitas dari presenter perempuan saat ini sudah dijadikan daya tarik penonton–-sebagian besar laki-laki–-untuk kemudian dijadikan alat meraih rating dan share yang selanjutnya menjadi alat tukar kepada pengiklan.

Karena prinsipnya, seperti tadi, semakin banyak para penontonnya, maka akan semakin tinggi rating/share-nya. Oleh karenanya akan semakin banyak pengiklannya. Dan, sebab itu pula akan semakin langgeng umur televisi tersebut.

Jadi, kamu para lelaki coba ngaku, alasan kamu menonton bola karena presenternya atau pertandingannya?

***

Catatan:

Tulisan ini merupakan studi akhir penulis dan sudah pernah ditayangkan di blog pribadi dan salah satu media olahraga.

sumber gambar: hollywoodreporter.com