Silakan salahkan pelatih, pemain, atau wasit sebagai biang keladi kekalahan tim nasional Inggris 1-2 dari Kroasia di babak semifinal Piala Dunia 2018, Kamis (12/07/2018) dini hari tadi. Tapi sebenarnya Inggris sendirilah yang mestinya bertanggung jawab atas kekalahan itu.

Timnas Inggris terakhir kali menjuarai Piala Dunia pada tahun 1966. Ketika itu mereka berhasil keluar sebagai juara setelah mengalahkan Jerman Barat di final. The Three Lions, julukan Timnas Inggris, harus berterima kasih kepada Geoff Hurst lantaran mencetak hattrick dalam laga yang digelar di Wembley Stadium, 30 Juli, 1966 silam.

Tetapi terima kasih kepada Hurst menjadi terima kasih pertama dan terakhir kali. Sebab, sejak itu Timnas Inggris tak pernah lagi mencicipi manisnya juara kompetisi sepakbola paling bergengsi sejagad. Jangankan juara, final pun tak kunjung dirasakan. Perempatfinal saja sudah lumayan. Atau paling bagus semifinal.

Para penggemar hingga pundit mulai mencari dalih atas prestasi Timnas Inggris. Padatnya jadwal kompetisi Liga Inggris paling sering dijadikan ‘kambing hitam’ –atau paling bisa diterima dengan akal sehat– sehingga alasan kelelehan para pemain menjadi alibi paling rasional.

Pendapat seperti itu sah-sah saja disuarakan. Namun, Simon Kuper dan Stefan Szymanski, dalam bukunya berjudul Soccernomics (2007), memiliki pendapat berbeda. Keduanya penulis buku ini menilai permasalahan dalam persepakbolaan Inggris lebih karena para pemain Timnas Inggris didominasi oleh kelompok sosial tertentu, dan semakin mengerucut kepada kelas pekerja atau buruh –bahkan hampir menutup kesempatan bagi masyarakat kelas menengah di Inggris. Lebih jauh adalah soal pendidikan.

Dalam buku itu, Simon dan Stefan melakukan penelitian –dibantu oleh John Boyle bersama Dan Kuper– yang kemudian mengategorikan kelas buruh dengan mencari informasi tentang pekerjaan ayah dari para pemain Timnas Inggris di Piala Dunia 1998, 2002, dan 2006 berdasarkan otobiografi dan profil para pemain.

Hasilnya 34 pemain Timnas Inggris di Piala Dunia 1998, 2002, dan 2006 ditemukan, 18 di antara mereka (Darius Vassel, John Terry, Alan Shearer, David Seaman, Paul Scholes, Wayne Rooney, Merson, Steve McManaman, Paul Ince, Emile Heskey, Steven Gerrard, Robbie Fowler, Tony Adams, David Batty, David Beckham, Campbell, Ferdinand, Stewart Downing, dan Ashley Cole) adalah anak dari buruh manual, baik terdidik maupun tak terdidik.

Dua pemain (Graeme Le Saux, dan Joe Cole) anak dari pengusaha buah dan sayur, satu pemain (Darren Anderton) anak dari pengusaha jasa pindah rumah –belakangan gagal dan beralih jadi sopir taksi.

Kemudian hanya ada empat pemain (Jermaine Jenas, Frank Lampard, David Mills, dan Michael Owen) yang ayahnya berkecimpung di dunia sepakbola, serta lima pemain (Petr Crouch, David James, Rob Lee, Gareth Southgate, dan The Walcott) yang ayahnya bekerja dalam sebuah profesi yang menuntut tingkat jenjang pendidikan, setidaknya di atas usia 16.

Paling mengejutkan, dalam penelitan itu, ditemukan bahwa sebagian dari para ayah mereka tidak hadir dalam keluarga ketika si anak (pemain Inggris) dibesarkan.

Ketergantungan persepakbolaan Inggris pada kelas buruh sebenarnya sudah ada sejak masa lampau. Contohnya, sebagian orang Inggris pada akhir era 1980-an, 70 persennya berasal dari kelas buruh: berhenti mengenyam pendidikan sebelum usia 16 dan beralih ke lapangan pekerjaan menjadi pekerja kasar.

Tetapi kian kemari, perlahan, dunia kerja dan industri di Inggris terus mengalami perubahan. Saat ini 70 persen orang Inggris masih bersekolah hingga lewat usia 16, dan 40 persen di antaranya memasuki jenjang pendidikan tinggi. Namun perubahan itu tak kunjung diikuti oleh persepakbolaan Inggris, yang masih mengandalkan kelas buruh sebagai talentanya.

Kebiasaan ini sebenarnya semakin menghambat perkembangan tim nasional Inggris. Setidaknya, hingga akhir 1990-an sepakbola Inggris masih diwarnai oleh kelas buruh, yang tanpa disadari, menurut Simon dan Stefan dalam bukunya itu, cukup merusak akibat sebagian kultur mereka. Misalnya, gaya hidup keseharian mereka yang memandang minum minuman keras adalah hobi.

“Kebanyakan dari mereka memegang pandangan bahwa jika mereka diwajibkan membanting tulang seharian penuh di pabrik atau tambang batu bara, maka mereka berhak istirahat sambil meneguk beberapa gelas minuman keras,” kata mantan pelatih Manchester United, Sir Alex Ferguson dalam otobiografinya.

“Hal lain yang juga mendarah daging pada diri mereka adalah pandangan bahwa Sabtu malam adalah akhir dari hari-hari, dan karenanya adalah saat yang baik untuk ‘gila-gilaan’,” tambah Ferguson.

Permasalahan lainnya, para kaum buruh memandang bahwa sepakbola adalah sesuatu kegiatan yang bisa dipelajari sembari melakukannya, ketimbang dipelajari dengan bimbingan para pendidik yang menyandang ijazah. Dengan kata lain, mereka antipendidikan.

Kebanyakan pemain Inggris tidak melanjutkan sekolah setelah berumur 16. Karena mereka yakin, dengan cara itu mereka dapat berkonsentrasi penuh pada profesi yang akan atau sedang digelutinya. Parahnya, cara pikir demikian begitu mengakar dengan sangat kuat.

Seorang pengurus badan sepakbola nasional Inggris–tidak disebutkan namanya–yang mencoba mempopulerkan berbagai kursus pelatihan kepada klub-klub Inggris mengatakan, upaya itu sebagai, “Sebuah omong kosong baru karangan anak-anak sekolahan -seolah mereka mendapat aib bila mengikuti pendidikan,” katanya seperti mengutip tulisan Simon Kuper dan Stefan Szymanski.

Ia juga mengungkapan, bahwa “pelatihan” dan “taktik” dianggap sebagai kata-kata memalukan. “Dan orang-orang itu akan berkata, “Permasalahan sepakbola dewasa ini adalah terlalu banyak pelatihan’,” ungkpanya.

Fakta di atas benar adanya. Stuart Ford, yang pada usia 17 pernah bermain mewakili Inggris di kejuaraan internasional tingkat SMA, akhirnya meninggalkan impiannya menjadi pemain sepakbola profesional tingkat sekolah menengah atas lantaran tak tahan mendapat ejekan dan dikucilkan oleh rekan dan pelatihnya yang tidak terdidik karena Stuart berasal dari keluarga menengah.

“Saya sering sekali diejek sebagai anak sekolahan priyayi atau karena pemahaman saya yang buruk tentang gaya jalanan. Itu baru dari kalangan manajemen tim saya,” ujarnya.

Melihat fakta tersebut, menurut Simon dan Stefan, sebenarnya para pemain sepakbola tidaklah sedemikian sibuk sehingga mereka tidak punya waktu untuk pendidikan.

Marcus Rashford contohnya. Ia masih bisa bersekolah dan belajar sambil menekuni profesinya sebagai penyerang Manchester United. Bahkan, Rashford masih tetap menjalani ujian pelajaran sekolah usai dirinya menjalani pertandingan penting, seperti menghadapi Manchester City atau Arsenal.

Dilansir The Sun, menurut sumbernya, pemain muda ini masih bisa mendapatkan nilai bagus (baca: 9) di kelasnya. “Marcus pemain berkepala dingin. Baginya, pendidikan amatlah penting,” tulis situs The Sun.

Harus disadari bahwa sepakbola dan pendidikan adalah suatu hal yang masih berkesinambungan. Dan, mungkin, itu yang belum dijalankan oleh persepakbolaan Inggris.

Penjelasan tadi begitu sangat penting untuk kita sadari. Pondasi membangun sebuah karier maupun profesi, pendidikan adalah kuncinya.

Jadi, buat kamu yang ingin berprofesi sebagai atlet atau berkarier di bidang apapun, jangan pernah menganggap pendidikan bukan utama, ya.

sumber gambar: birmminghamlive.com


Tulisan ini sudah pernah ditayangkan di blog pribadi penulis dan sudah disesuaikan dan disunting ulang.