Sudah sering kali kita mengorbankan anak-anak akibat abainya kita dari segala macam informasi. Ketika si anak akhirnya benar-benar menjadi korban, kita tidak lantas mengoreksi diri, tetapi justru menuding-nuding dan mencari kambing hitam. Padahal, si kambing memang sebenarnya hitam.

Masih lekat di ingatan kita ketika riuh soal Susu Kental Manis (SKM), yang katanya, tidak mengandung susu. Itu jelas tidak benar, pasalnya SKM itu mengandung susu, meski bukan sebagai kandungan utama.

Masih dari persoalan yang sama pada waktu berdekatan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengedarkan surat edaran pelarangan, salah satu poin larangannya, berisi: Iklan produk SKM dilarang menampilkan anak-anak untuk melakoni pemeran utamanya. Sederhananya, iklan produk SKM tidak boleh menampilan anak-anak atau membangun persepsi atau asumsi kalau SKM adalah produk untuk anak-anak.

Larangan itu justru kita tangkap dengan pengertian berbeda: Produk SKM dilarang untuk anak-anak.

Yang dipersoalkan oleh BPOM, sehingga mmemunculkan surat larangan edaran adalah, dalam iklan kebanyakan produk SKM ini membangun persepsi bahwa SKM adalah konsumsi pemenuh kebutuhan gizi, khususnya untuk anak-anak. Padahal, kata BPOM, SKM hanya pelengkap saja.

“Visualisasi dalam iklan yang sudah diberikan kriterianya oleh BPOM dilanggar (produsen SKM),” kata Kepala BPOM Penny Lukito, Senin (09/07/2018).

Ketidakinginan untuk sedikit saja berpikir kritis membuat kita, yang sudah dewasa ini, mudah sekali ‘diakali’ oleh iklan-iklan, terutama di televisi. Keengganan berpikir kritis itu sudah pasti memakan korban yang tidak hanya kita orang dewasa ini, tetapi juga anak-anak.

Kita mestinya sadar, televisi itu begitu powerfull dalam menyampaikan pesan-pesannya. Dan sayangnya anak-anak begitu akrab dengan benda itu. Mereka juga sangat rentan dalam mencerna segala macam bahasa atau pesan yang disampaikan televisi berupa gambar atau juga audio visual.

Neil Portman, dalam bukunya berjudul Selamatkan Anak-anak, mengatakan, “Sebuah gambar mungkin ada benarnya: mewakili seratus atau seribu kata. Tetapi bukan berarti gambar itu sama dengan ribuan, ratusan, atau bahkan sepatah dua patah kata. Gambar dan kata adalah dua hal berbeda,” katanya. Hal itu yang belum bisa dipahami anak-anak, bahkan mungkin kita.

Gambar-gambar, kata Portman, tidak bisa menunjukkan konsep-konsep; menunjukkan hal-hal. Lucunya, dia tak bisa ditentang. Tetapi menjadi kontradiksi karena tidak ada bukti atau logika yang harus dipatuhi dari sebuah gambar–atau dalam hal ini iklan sebuah produk. Namun lucunya kita justru mematuhinya.

“Tetapi gambar-gambar memerlukan suatu respons estetis dari pengamat. Gambar-gambar ini menarik kita, bukan rasio kita. Gambar-gambar ini meminta kita untuk merasakan, bukan untuk berpikir,” ungkap Portman.

Inilah mengapa psikolog asal Jerman, Rudolf Arnheim, menjelaskan revolusi grafik dan mengantisipasi manifestasi yang menggejala dari televisi berpotensi mematikan kesadaran kita. Terlebih anak-anak.

“Kita harus ingat, bahwa di masa lalu ketidakmampuan untuk memindahkan pengalaman langsung dan mengungkapkannya pada orang lain membuat pemakaian bahasa itu penting, dan karenanya menarik kesadaran manusia untuk membangun konsep-konsep. Karena untuk menggambarkan sesuatu, seseorang menggambar bentuk umum dari yang spesifik; yang bersangkutan harus memilih, membandingkan, dan berpikir,” begitu kata Arnheim. Tetapi, lagi-lagi, anak-anak belum mampu untuk berbuat demikian.

Lebih dari 80 tahun lalu, menurut Portman, ramalan Arnheim ini–sayangnya diakui sebagai pemikiran Robeet Heilbroner–mulai menunjukkan kebenaran di mana periklanan berbentuk gambar telah menjadi kekuatan penghancur utama dalam memperlemah asumsi-asumsi dunia melek huruf.

Dalam konteks iklan produk SKM–salah satu dari banyaknya persoalan yang mengorbankan anak-anak–adalah bukti sahih bahwasanya kita teledor. Produsen yang mengiklankan dengan menampilkan anak sebagai pemerannya kita telan begitu saja, tanpa ada secuil kritik pun. Pada akhirnya, kita justru berbondong-bondong menyalahkan si produsen. Bentuk keteledoran kita adalah tidak mendahului dengan membaca komposisi kandungan SKM ini. Tanpa konsekuensi, kita “menyerahkan” begitu saja nasib gizi sang anak. Kalau Anda menuntut adanya sebuah gerakan literasi gizi, itu soal lain.

Tetapi yang perlu kita camkan, menurut Arnheim, diamini juga oleh pakar semiotika Roland Barthes, bahwa citra yang diproduksi massal telah memperkenalkan suatu elemen irasionalitas yang menetap dan meluas, bahwa sebuah citra produk lebih penting ketimbang kegunaannya.

Kemudian muncul pertanyaan, siapa yang bertanggung jawab akan persoalan pelik ini?

Jawabannya adalah kita.

sumber foto: medium.com