Bagi banyak kalangan, sepakbola adalah bagian dari sendi-sendi kehidupannya. Bahkan sebagian di antaranya menjadikan agama kedua.

Argentina, misalnya, bagiamana sepakbola sudah berisisan tipis dengan keyakinan masyarakat di sana di mana Maradona dianggap sebagai Tuhannya–dan Messi adalah Nabi Adam. Mereka juga memiliki rumah ibadah sendiri bernama Iglesia Maradoniana.

Pengkultusan Maradona dinilai mencapai puncaknya lantaran para jamaah memiliki buku biografi Maradona berjudul Don Diego sebagai kitab sucinya dan firman-firman dalam ’10 Perintah Tuhan’ ala mereka sendiri.

In the name of La Tota. Don Diego, and the fruit of his love. Don Diego…

Demikian di Indonesia. Hanya saja di sini tidak sampai mengkultuskan, sebut saja, Bejo Sugiantoro, Ronny Pattinasarany, atau Bambang Pamungkas. Namun kalau dalam urusan fanatisme para suporter, Indonesia tak kalah taat dengan jamaah Iglesia Maradoniana melalui klub-klub kesayangannya.

Di Indonesia, klub-klub sepakbolanya mulai maju berkembang dan besar. Dan fannya yang fanatik membuat warna tersendiri.

Di Bandung, misalnya, kala Persib melakoni pertandingan semua para pengikut yang taat akan rela menyudahi usahanya lebih awal: Penjual batagor akan membawa pulang gerobaknya lebih siang dari biasanya, bapak tukang becak akan mengayuh becaknya lebih pagi, atau tukang ojek yang tidak akan menerima orderan di jam-jam jelang pertandingan. Mereka tak pernah ingin absen sekalipun. Luar biasa taat: ke manapun tim kesayangannya bertanding, di situ para suporter hadir mendukung.

Kemudian yang beda lainnya dengan di Argentina, di Indonesia tidak memiliki kitab suci. Meski ada yang bisa dikatakan sebagai ‘kitab sucinya’ para pecinta sepakbola dalam atau luar negeri. Atau sebut saja semacam bacaan wajib, yaitu Tabloid BOLA.

Tidak, tidak. Ini sedang tidak memaksakan Tabloid BOLA setara dengan Don Diego ala jamaah Iglesia Maradoniana. Tapi siapa yang bisa menyanggah kalau Tabloid BOLA sebagai bacaan wajibnya para pecinta sepakbola di Tanah Air?

Romantika Tabloid BOLA

Tabloid BOLA edisi terakhir (sumber: Tabloid BOLA)

Pada 3 Maret 34 tahun silam, Tabloid BOLA masih sekadar halaman sisipan di Harian Kompas. Dan pembacanya sudah hafal betul, mereka akan akan segera membuka halaman demi halaman untuk sampai ke halaman 10, halaman olahraga.

Ketika media belum begitu menjamur dan media elektronik belum menganggap Piala Dunia atau Piala Eropa atau kejuaraan Badminton bergensi se-seksi seperti saat ini untuk disiarkan, Tabloid BOLA sudah lebih dulu memberitakan.

Di era seperti itu teknologi belum secaggih seperti sekarang, Tabloid BOLA sudah bisa memberikan beragam berita dan informasi dunia olahraga, terutama sepakbola. Tak hayal, kalau Tabloid BOLA menjadi idola.

Meski hanya sisipan, tidak membuat masyarakat kehilangan antusias akan berita-berita olahraga. Karenanya Kompas memutuskan Tabloid BOLA terbit secara mandiri. Dan sejak saat itu, tabloid besutan Ignatius Sumito dan Sumohadi Marsis ini kian digilai masyarakat.

Saya sendiri adalah salah satu penggilanya. Penggila yang mulai menggilai di awal 2000-an. Mulanya saya bukan mencari berita atau informasi soal sepakbola. Tapi tahukah apa yang saya cari? Poster!

Tabloid BOLA paling tidak tiap pekan sekali mengeluarkan poster-poster pemain dan tim sepakbola. Dan sesekali mengeluarkan edisi khusus full poster. Saya berburu itu. Bagi saya memiliki poster Tabloid BOLA adalah kebanggaan tersendiri.

Saya masih ingat poster pertama saya, ketika itu adalah Alessandro Del Piero dengan gambar selebrasi ikoniknya, melet lidah.

Yang membuat Tabloid BOLA semakin dekat dengan pembaca, terutama saya. tak lain adalah rubrik Komentar Pembaca di mana saya bisa mengirimkan ragam komentar seputar isu-isu pertandingan atau transfer sepakbola melalui pesan singkat alias SMS. Komentar terbaik akan ditayangkan edisi selanjutnya setelah komentar dikirim. Untuk satu ini, saya harus berbangga hati karena komentar saya pernah ditampilkan di sana.

Lalu kolom Opini. Kolom ini adalah wadah bagi penulis-penulis lepas olahraga menuangkan karya-karya tulisnya. Dan bagi penulis yang berhasil diterima dan dimuat Tabloid BOLA akan menerima imbalan berupa honorarium.

Selain itu ada kolom Teka-Teki Silang, sarana untuk pembaca menambah pengetahuan tentang dunia olahraga.

Tapi satu yang paling menarik bagi saya adalah kolom rubrik Suara Pembaca. Rubrik ini memberikan kolom bagi para pembaca yang ingin mengirimkan pertanyaan apa saja seputar sepakbola. Dan tim redaksi Tablid Bola pun dengan senang hati menjawab secara lengkap dan detail lalu ditayangkan di tiap edisinya.

Saya membayangkan dan bertanya-tanya bagaimana redaksi Tabloid BOLA bisa mencari informasi untuk menjawab berbagai pertanyaan pembacanya ketika itu. Mengingat masa itu, mungkin, tim redaksi masih menggunakan mesin tik, ditambah teknologi dan informasi belum seterbuka seperti sekarang-sekarang ini.

Tabloid BOLA juga turut andil menentukan tim favorit saya, Juventus. Itu tak lain karena Liga Italia mendapatkan porsi lebih besar, sekitar 70 persen, ketimbang liga dan olahraga lain dalam pemberitaan. Bahkan mereka punya rubirk tersendiri untuk Liga Italia, Ole!

Kala itu Juventus dilanda skandal sepakbola kedua terbesar di Italia, calciopoli. Juventus terbukti bersalah dan harus menanggung sanksi yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, diterjunkan ke Serie B.

Menjalani musim di kasta kedua, kasta yang tak begitu pamor membuat media-media tak banyak mengikuti perkembangan Juventus di Serie B. Dampak langsungnya, bagi saya, kesulitan mencari informasi terbaru tentang Juventus: terutama hasil pertandingan dan klasemen.

Satu-satunya media yang bisa saya cari dan temukan adalah Tabloid BOLA. Paling tidak sepekan sekali saya mesti membeli tabloid ini. Itu pun, informasinya masih sangat terbatas. Kalaupun mau info lengkap, saya harus beli dua kali dalam sepekan, sebagaimana jadwal terbitnya Tabloid BOLA.

Bagi saya itu adalah hal berat. Mengingat ketika itu uang saku saya yang hanya Rp 7 ribu per hari. Sedangkan harga Tabloid BOLA pada waktu itu berkisar Rp 3.500-4.500. Saya lupa persisnya. Apalagi saya harus terus-terusan membeli selama satu tahun lamanya, waktu di mana Juventus baru bisa kembali lagi ke liga utama atau Serie A.

Tabloid BOLA pamit

Tabloid BOLA edisi terakhir (sumber: Tabloid BOLA)

Secara khusus Tabloid BOLA telah membuat saya tetap dan terus dekat dengan Juventus. Dan secara luas, memberikan sumbangsih besar kepada wawasan saya akan sepakbola. Bahkan saya jatuh cinta dengan tabloid ini. Sampai-sampai suatu saat saya bercita-cita menjadi bagian dari dari redaksi Tabloid BOLA yang hebat-hebat itu.

Tapi sialnya cita-cita itu harus dipendam dalam-dalam sedalam cintaku padamu lantaran tak akan pernah terwujud seiring dengan pengumuman yang menyatakan Tabloid BOLA berhenti beredar.

Kabar itu datang baru-baru ini, saat Managing Editor Tabloid BOLA Firzie Idris mengumukan melalui akun Twitter pribadinya.

Ia mengatakan dua terbitan bulan ini menjadi publikasi terakhir. Dan edisi terakhir akan jatuh pada hari Jumat (26/10/2018), sekaligus hari yang sama pada saat pertama kali lahir.

Seperti penggalan namanya, Tabloid adalah Kitabnya dan Bola adalah Kesuciannya, atau suci. Tabloi Bola sudah memberikan banyak firman-firman lapangan hijau. Di dalamnya berisi Wahyu Sepakbola yang telah dibukukan. Dan menganugerahkan segala berita-berita dan informasinya tentang seluruh aspek kehidupan sepakbola bagi seluruh penggila olahraga, khususnya sepakbola.

Kicauan Firzie adalah duka bagi insan pecinta sepakbola di Indonesia. Pasalnya Tabloid BOLA sudah menemani dan menghibur penggila olahraga tidak dalam waktu singkat, 34 tahun.

Dan atas dedikasi selama itu pula saya menasbihkan Tabloid BOLA sebagai kitab sucinya penggemar sepakbola. Setidaknya bagi saya pribadi.

Terima kasih Tabloid BOLA.