Siapa sih yang enggak kenal sama produk satu ini? Ya, susu kental manis (SKM) yang sudah sangat akrab sama keseharian kita. Tapi ternyata itu produk itu kandungan utamanya bukan susu lho. Mengapa?

Pertama, komposisi utama yang tertera dalam kemasan rupanya adalah didominasi oleh kandungan gula–dan tak pernah disebutkan dalam iklan. Pada bagian kemasan bisa terlihat kandungan gulanya sebanyak 21 gram untuk satu sekali saji saja.

Sedangkan iklan SKM menganjurkan untuk dua kali dikonsumsi dalam satu hari. Tentu ini adalah kandungan yang sangat besar, terutama bagi anak-anak.

Lalu, bila kita merujuk aturan WHO, konsumsi gula untuk anak berusia empat sampai enam hanya perlu 40 gram per hari saja.

Baca juga: Angka Penderita Diabetes di Indonesia Mencengangkan

Artinya, kalau dalam sehari saja mengonsumsi SKM, maka batas aturan yang ditetapkan WHO sudah kita lewati. Ini belum menghitung kandungan gula dari makanan lain. Kalau ini tidak cepat disadari, maka obesitas dan diabetes dapat datang lebih cepat.

Sedangkan Sejumlah data tentang penyakit diabetes di Indonesia sendiri sebenarnya sudah cukup mencengangkan. Sample Registration Survey (2014) sudah menyatakan bahwa diabetes menjadi pembunuh nomor tiga di Indonesia.

Sementara data International Diabates Federation (IDF) menunjukkan, jumlah penyandang diabetes di Indonesia diperkirakan sebesar 10 juta dan menempati urutan ketujuh tertinggi di dunia.

Buntut dari itu semua ternyata berdampak pada ekonomi negara. Seperti dikutip dari katadata.com, Indonesia diprediksi mengalami potensi kerugian hingga Rp 71 ribu triliun akibat penyakit tidak menular, pada periode 2015-2035.

Selain gula, faktanya, susu di dalam SKM adalah susu sapi yang airnya dihilangkan, kemudian ditambahkan gula, sehingga menghasilkan susu yang sangat kental dan bisa awet selama satu tahun lamanya apabila kemasan tidak dibuka.

Baca juga: Cara Iklan Mempengaruhi (Keinginan) Kita

Kemudian, dari dua fakta itu, iklan SKM di televisi ini kerap tidak gamblang memberikan informasi kandungan di dalamnya. Padahal hal ini dikategorikan sebagai pelanggaran Undang-Undang Perlindungan Konsumen Nomor 8 tahun 1999.

Selain itu juga, Pasal 17 ayat (1) Undang-Undang Perlindungan Konsumen menyatakan pelaku usaha periklanan dilarang memproduksi iklan yang:

  • Mengelabui konsumen mengenai kualitas, kuantitas, bahan, kegunaan dan harga
    barang dan/atau tarif jasa serta ketepatan waktu penerimaan barang dan/atau jasa;
  • Mengelabui jaminan/garansi terhadap barang dan/atau jasa;
  • Memuat informasi yang keliru, salah, atau tidak tepat mengenai barang dan/atau
    jasa;
  • Tidak memuat informasi mengenai risiko pemakaian barang dan/atau jasa;
  • Mengeksploitasi kejadian dan/atau seseorang tanpa seizin yang berwenang atau
    persetujuan yang bersangkutan;
  • Melanggar etika dan/atau ketentuan peraturan perundang­undangan mengenai
    periklanan.


catatan: Kami meralat judul dan sedikit isi artikel. Mulanya baik judul dan isi artikel berisikan “kental manis bukan susu”. Namun kami keliru dan kental manis tetap susu hanya saja kandungan utamanya adalah gula.