Jon, aku bingung, Jon. Katanya kita sudah merdeka. Tapi kok rasanya enggak begitu. Dulu yang jajah cuma Belanda sama Jepang. Sekarang mereka-mereka yang berjas dan berdasi, campur asing, penjajahnya, Jon.

Mereka-mereka yang berjas dan berdasi itu kalau ngoceh bau kentut, Jon. Tapi tetap saja ngoceh, enggak peduli kalau akalnya sudah butut. Kerjaannya bikin ribut.

Coba dengar saja, Jon, pas mereka ngomong-ngomong soal kemiskinan. Omong kosong, Jon. Wong, waktu ngomong kemiskinan pakai baju yang harganya selangit.

Aku juga makin bingung, Jon, sama rakyat yang ribut-ribut. Kok, bisa-bisanya menjagokan, jadi suporter, kasih semangat pula kepada mereka-mereka yang berjas dan berdasi itu.

Padahal, mereka tahu, Jon, jagoannya ngibul. Dapurnya kagak bakal ngebul. Mereka juga tahu, Jon, mangganya hilang, tapi enggak tahu ke mana. Sekarang mangganya cuma tinggal biji, tinggal kulitnya. Tinggal mimpi, ambil hikmahnya.

Herannya, Jon, si rakyat gampang banget milih pemimpin, milih-milih mereka itu, yang berjas dan berdasi.

Mereka cuma milih dari gantengnya enggaknya, suka enggaknya, atau paling trendi milih dari peci atau sorbannya, Jon. Gampang banget, Jon.

Kalau gitu caranya, kayaknya emang belum merdeka, Jon.

Kita, Indonesia, harusnya malu, tersentil lalu berkaca dan belajar, dari kamu, Jon. Meskipun Indonesia enggak lihat kamu, enggak peduli sama kamu.

Indonesia harusnya tiru aksi heroikmu, patriotismemu, semangatmu, yang manjat tiang bendera bermeter-meter tingginya tanpa pengaman demi berkibarnya sang pusaka.

Yang ada di Indonesia itu cuma wani piro, berani bayar berapa, apa maharnya, dapat jabatan apa, fasilitas apa, dan apa-apa lainnya, Jon.

Di Indonesia enggak ada kamu, Jon. Indonesia enggak lihat kamu, Jon. Apalagi butuh kamu, Jon. Tapi kamu mana peduli, kamu tetap cinta Indonesia. Indonesia kekasihmu.

Kamu juga tak peduli sama sakit perutmu. Justru sakit perutmu itu, tantangannya. Tantangan yang harus dihadapi negara, bangsa, dan masyarakatnya.

Putusnya tali bendera itu, persoalannya. Persoalan yang belakangan hinggap di ruang-ruang pikiran dan hati pemimpin dan masyarakatnya.

Tiang bendera yang tingginya bermeter-meter itu, perjuangannya. Perjuangan untuk menghadapi tantangan dan menuntaskan persoalan.

Kamu Indonesia, Jon. Kamu merdeka, Jon.