Mendiang Abdurrahm Wahid tidak cuma dikenal sebagai tokoh agama atau politikus. Tapi ia juga dikenal dengan kehumorannya. Malah, pria yang akrab dipanggil Gus Dur ini pernah diberi penghargaan Humoris Causa.

Humor ala Gus Dur dinilai sangat menghibur. Selain lucu, humor Gus Dur tidak pernah menyinggung perasaan orang. Orang yang mendengar pun kerap dibuat tertawa terbahak-bahak.

Di sisi lain, humor Gus Dur juga terselip pesan-pesan moral yang bisa diteladani.

MUDAzine.com telah merangkum humor mantan orang nomor satu di Indonesia ini. Berikut 4 Humor Gus Dur yang bikin ngakak:

DPR turun pangkat

Pernah dalam suatu kesemaptan Gus Dur melontarkan guyonan mengenai kelakuan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Gus Dur bilang par anggota DPR turun pangkat, dari Taman Kanak-Kanak menjadi playgroup.

Guyonan Gus Dur timbul usai para anggota DPR ricuh dalam sidang paripurna pembahasan kenaikan bahan bakar minyak (BBM) pada 2004 silam.

“DPR dulu TK, sekarang Playgroup,” kata Gus Dur.

Waduh Gus, kok berani sih bilang gitu.

Negara makmur

Gus Dur pernah berdialog guyon perihal negara-negara makmur yang di dunia dengan Tuhan. Dialognya kira-kira begini:

Ronald Reagen (Amerika) bertanya kepada Tuhan, “Ya Tuhan, kapan negara kami makmur?” Tuhan menjawab,” 20 tahun lagi.” Presiden Amerika menangis.

Lalu giliran Presiden Syarkozy (Prancis) dengan pertanyaan sama, “Tuhan, kapan negara Prancis makmur?”, Tuhan menjawab, “25 tahun lagi.” Mendengar jawaban Tuhan, Presiden Prancis menangis.

Demikian Tony Blair (Perdana Menteri Inggris) dengan pertanyaan serupa, dan Tuhan menjawab, “20 tahun lagi.” Tony Blair pun ikut menangis.

Giliran Gusdur (Presiden RI). Pertanyaannya masih sama, “Ya Tuhan, kapan negara kami ini, negara Indonesia, bisa makmur?”

Namun, ternyata Tuhan tidak menjawab. Kali ini giliran Tuhan yang menangis.

Paling dekat dengan Tuhan

Perbedaan dalam berbagai hal termasuk aliran dan agama, kata mantan Presiden RI ini, sebaiknya diterima karena itu bukan sesuatu masalah.

Jika sudah bisa menerima perbedaan maka akan lebih terbuka dalam berdialog, bahkan kata Gus Dur, lahir lelucon seperti yang dilontarkan seorang kyai, bhiksu, dan pendeta.

Bhiksu: “Kami sangat dekat Tuhan”

Gus Dur: “Apa buktinya?”

Bhiksu: “Kami memanggil Tuhan dengan panggilan Om”

Pendeta: “Kalau gitu, tentu kami yang lebih dekat dengan Tuhan. “Kami memangil Tuhan Anak, Tuhan Bapak.”

Gus Dur mengangguk-angguk.

Bhiksu dan Pendeta heran dan bertanya kepada Gus Dur, “Kalau Pak Kiai bagaimana?”

Gus Dur: “Boro-boro deket. Kita saja manggil pake toak kenceng-kenceng”

Kementerian Agama seperti pasar

Pernah suatu waktu Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Saiffudin dalam sebuah talkshow, mengatakan hal mengejutkan.

Pernyataan Pak Menteri rupanya mengulangi dari apa yang pernah disampaikan Gus Dur ketika itu, saat memberi tanggapan tentang Departemen Agama (sebelum bernama Kementerian Agama).

Perkataan Gus Dur kira-kira begini:

Departemen Agama sudah seperti pasar. Semuanya ada di Deparemen Agama, tempat orang bertransaksi dan lain sebagainya, selayaknya pasar. Hanya satu yang tidak ada: Agama.