Dunia telah melahirkan banyak pemikir-pemikir ke muka bumi. Ada Aristoteles dan Sokrates dari Yunani, Jean-Paul Sartre dari Prancis, atau Bonaventura dari Italia dan masih banyak lain lagi. Tetapi adakah yang berasal dari Indonesia? Jawabannya ada.

Lahir di Jombang, Jawa Timur, 1940, Abdurrahman Wahid adalah sosok yang saya nobatkan sebagai pemikir dari Indonesia.

Akrab disapa Gus Dur, ia merupakan cucu dari pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asyari. Gus Dur juga dikenal sebagai seorang kiai besar, tidak hanya di Jawa Timur tetapi juga di Indonesia. Soal pengetahuan agama sudah bukan hal yang perlu diperdebatkan lagi.

Namun penulis bukan ingin mengulas bagaimana pemikiran-pemikiran serta pengetahuan agamanya, melainkan bagaimana obsesinya terhadap sepakbola yang juga ia gunakan dalam berpolitik.

Sejak kecil Gus Dur sudah cinta sepakbola. Kecintaan Gus Dur atas sepakbola tak lepas dari peran sang ayah, Abdul Wahid Hasyim, ketika dirinya masih kecil dan tinggal di Jakarta, sebagaimana ditulis Greg Barton dalam Biografi Gus Dur.

Beranjak remaja, Gus Dur kecanduan sepakbola. Ia tak sekadar bermain di halaman rumah, tetapi melampiaskan hasratnya melalui buku-buku dan menonton banyak pertandingan sepakbola. Sampai-sampai ia tak pernah mengerjakan pekerjaan rumah sekolah dan berujung tidak naik kelas kala ia bersekolah di Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP).

Sang Ibu kurang suka dengan kebiasaan Gus Dur ini. Lalu ia dikirim ke pesantren di Jombang.

Di pesantren, Gus Dur semakin dalam dengan sepakbola. Ia mulai menjadi pengamat. Dan berlanjut ketika ia mengenyam bangku kuliah di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Di sana ia mulai aktif mengisi kolom-kolom sepak bola di beberapa media nasional.

Simak saja salah satu tulisannya di Harian Kompas tahun 1990 berjudul Eskapisme Berskala Raksasa. Ia mengkritik Piala Dunia ketika itu yang mengalami penurunan kualitas dibanding turnamen-turnamen sebelumnya. Tulisan yang hampir tidak ditemukan di mana pun–ketika itu kebanyakan tulisan hanya membahas seputar jalan dan hasil pertandingan.

Kritik Gus Dur memang beralasan. Sebab, Piala Dunia 1990 di Italia merupakan salah satu Piala Dunia dengan jumlah gol terminim, rata-rata hanya 2,21 gol per pertandingan.

Gus Dur tidak hanya pernah mengkritik Piala Dunia, tetapi ia juga membandingkan dengan Piala Eropa. Menurutnya, Piala Eropa lebih kompetitif ketimbang Piala Dunia. Sebab di Piala Eropa semua tim lebih merata dan teruji sehingga persaingan yang muncul lebih ketat, begitu tulis Gus Dur melalui Tabloid Bola, April 1994.

Tulisan menarik lainnya berjudul Antara Kebanggan dan Kekecewaan, Harian Kompas (18 Juli 1994). Gus Dur lagi-lagi tak hanya mengulas banyaknya pertandingan saat Piala Dunia 1994, tetapi ia justru memberikan pemahaman tentang kehidupan manusia yang bisa diambil dari sepak bola.

Sepakbola Gus Dur tak sebatas tulisan-tulisannya di media nasional. Sepakbola ala Gus Dur merambah ke dunia politik.

Gus Dur kerap menggunakan istilah-istilah sepakbola dalam berpolitik, seperti Catenaccio dan Hit and Run.

Pernah suatu ketika, wartawan olahraga senior Kompas, Sindhunata, memberikan kritik kepada Gus Dur melalui tulisan berjudul Catenaccio Politik Gus Dur. Isinya, tak lain memberi kritik lantaran Gus Dur terlalu ‘bermain’ bertahan (catenaccio) dan menunggu peluang. Padahal, menurut Romo Sindhu, sapaan lain Sindhunata,¬†catenaccio politik ala Gus Dur itu sulit diharapkan sebagai sebuah perubahan.

Menanggapi kritik itu Gus Dur juga terbilang unik. Kalau presiden sebelumnya atau kebanyakan presiden umumnya menjawab kritik melalui konferensi pers, ia lebih memilih menjawab melalui tulisannya. Kritik Romo Sindhu ia balas melalui artikel berjudul, Catenaccio Hanyalah Alat Berat.

“Pokoknya, semua teori sepakbola itu akan saya gunakan untuk situasi politik kita, dan Insya Allah cocok,” ucap Gus Dur sambil terkekeh.

Selain Catenaccio dan Hit Run, Total Football juga populer dalam politik Gus Dur.

Romo Sindhu pernah menyamakan Gus Dur dengan peramu gaya Total Footbaal, Johan Cruyff: memiliki intelejensi, kecerdasan, dan kreativitas luar biasa hebat. Gus Dur pun dianggap Romo Sindhu memainkan gaya permainan yang sama dengan Johan Cruff.

Total Football menuntut para pemainnya bermain dengan tempo yang tinggi dan terbuka. Kemudian mengharuskan tim memiliki pemain yang kemampuan menyerang dan bertahan sama bagusnya serta memilki fisik prima untuk bisa tampil konsisten selama 90 menit. Otomatis, Total Football membutuhkan pemain dengan stamina dan kecerdasan intelektual di atas rata-rata.

Akan tetapi gaya permainan Gus Dur ini sulit diikuti oleh “kesebelasannya” (baca: jajaran kabinet). Sebab, menurut Romo Sindhu, para pemain Gus Dur hanya dari kelas rata-rata.

Karenanya, jabatan Gus Dur sebagai presiden hanya sumur jagung, atau hanya menjabat selama dua tahun, sejak 1999 hingga 2001.

30 Desember 2009, Gus Dur meninggal dunia. Ia wafat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, akibat sumbatan pada arteri.