Kalian semua ini apa-apaan sih menyalahkan Pak Edy, Ketua Umum PSSI kita. Apa salahnya pak Edy? Urusan prestasi? Urusan gelar? Urusan mafia judi, pengaturan skor? Iya? Itu semua sudah nirhasil dari dulu, mas, mba. Jadi enggak usah diributin. Justru kita harus dukung Pak Edy supaya tetap jadi ketua PSSI.

Pak Edy ini punya segudang kepemimpinan, rangkap tiga jabatan: Ketua PSSI, Ketua Dewan Penasihat PSMS Medan, dan Gubernur Sumatera Utara. Sebelum menjadi gubernur beliau adalah seorang Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (2015-2018). Lihat, siapa yang bisa menandingi?

Dan paling keren adalah pernyataan-pernyataannya itu, lho. Tahun lalu pak Edy membuat pernyataan mengenai Evan Dimas dan Ilham Udin Armaiyn yang dikontrak klub asal, Malaysia Selangor FC. Kalian tahu apa yang dibilang pak Edy?

“Siapa mereka? Seenaknya saja mengontrak-ngontrak.” Lihat…

Masih lanjut lagi, kali ini ditujukan kepada kedua pemain dengan mengatakan bahwa Evan Dimas dan Ilham Udin Armaiyn mata duitan dan tidak nasionalis.

“Kalau mata duitan, ya repot juga kita. Enggak ada jiwa nasionalisme. Nanti akan saya kumpulkan segera,” katanya.

Belum pernah ada sejarahnya Ketua PSSI bilang pemain yang main di luar Liga Indonesia tidak nasionalis. Cuma Pak Edy. Di liga-liga top Eropa pun enggak pernah begitu. Mereka enggak nasionalis. Kalah dari pak Edy.

Alasan lainnya, takut permainan Evan Dimas dan Ilham Udin terbaca oleh sepakbola Malaysia. Visioner, kan?

Lagian emang kalian enggak bosan dengar pejabat publik yang bisanya berkelit kalau ada masalah. Ngaku bisa segala tapi segalanya tidak lakukan.

Atau model pernyataan-pernyataan macam begini: “Iya masih diproses. Nanti kita akan ungkap.” Bosen enggak sih? Bosen kan? Emang dasarnya bebal mereka itu tuh.

Coba bandingkan dengan jawaban pak Edy waktu ada suporter tewas beberapa waktu lalu. Pak Edy jawab tebak?

“Yang salah adalah suporter.” Beeeuuuhhh…

Kalian juga pasti belum sadar kan kalau pak Edy out of the box banget orangnya. Dia punya jawaban-jawaban magis yang mengundang decak kagum. Bisa membuat kita tepuk tangan.

Misal, evaluasi sepakbola Indonesia tidak dimulai dari persoalan federasi atau persoalan teknis, tetapi harus dimulai dari wartawan. Iya, wartawan.

“Wartawannya yang harus baik. Jadi, kalau wartawannya baik, nanti timnasnya baik.” Nah, coba itu…

Sudahlah, jangan paksa Ketua Umum PSSi itu mundur. Biarkan saja. Mas, mba, jabatan Ketum PSSI ini terlalu politis. Kalau nanti diganti, toh, juga sama saja. Ini kan urusannya politik. Lagipula kapan kita pernah puas sama Penjabat Ketum PSSI? Coba sebut.

Belum lagi nih kalau Pak Edy mundur, kalian mau bergunjing soal apalagi? Enggak takut habis bahan emang? Sudah nikmatin saja. Atau mending kalian percayakan sama Gubernur ketimbang Kemenpora kalau urusan sepakbola. Dijamin…

Jadi pak, bapak jangan mundur ya pak. Bapak harus kuat.

***

sumber foto: Antara Foto/Akbar Nugroho Gumay