Berbicara soal pengelolaan sampah untuk bisa dimanfaatkan kembali memang bukan perkara gampang, seiring dengan sama sulitnya mengurai sampah plastik itu sendiri. Meski sebenarnya sampah plastik itu memiliki nilai ekonomi.

Kita tahu kabar mengejutkan datang di tahun lalu saat sebuah organisasi media nirlaba, Orb Media bersama ilmuwan dari University of Minnesota dan State University of New York menguji sampel air keran di Amerika Serikat, Eropa, Indonesia, India, Lebanon, Uganda, dan Ekuador.

Dari seluruh sampel air yang diuji 83 persennya terkandung mikroplastik atau partikel terkecil dari plastik.

Persoalan sampah plastik memang menjadi persoalan di berbagai benua. Di Eropa, misalnya, lembaga Plastics Europe telah memetakan permintaan plastik di Eropa pada 2015. Hasilnya, permintaan plastik di Eropa mencapai 49 juta ton per tahun.

Dari total permintaan itu 5,8 persen di antaranya untuk kebutuhan sektor elektronik, 8,9 persen sektor otomotif, 19,7 persen sektor konstruksi dan bangunan, dan terbesar untuk kebutuhan kemasan sebanyak 39,9 persen.

Di Indonesia, mengutip Tempo.co (yang secara ekslusif menerima hasil penelitian dari Orb Media), sampel diambil dari lima kawasan seperti Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang Selatan, dan Bekasi. Hasilnya sangat mengejutkan.

Dari 21 sampel (per sampel rata-rata 500 mililiter) yang diambil, sebanyak 76 persen di antaranya terkandung mikroplastik. Dan air tersebut, dinyatakan pihak responden biasa digunakan untuk minum, mandi, atau mencuci.

Berkaca dari tingginya kontaminasi mikroplastik terhadap air, rasanya juga perlu menelisik jumlah sampah plastik di Indonesia yang faktanya mencapai berton-ton tiap tahun.

Berdasarkan data Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik sampah plastik di Indonesia sudah menyentuh angka 64 juta ton per tahun. Dan 3,2 juta ton di antaranya dibuang ke laut.

Fakta lainnya, masih dari sumber yang sama, kantong plastik yang terbuang ke lingkungan sebanyak 10 miliar lembar per tahun atau atau setara dengan 85.000 ton kantong plastik.

Membengkaknya pengunaan plastik memang sudah seharusnya segera disadari masyarakat. Paling tidak kita mengerti bagaimana bahayanya sampah plastik ini.

Kendati begitu, sampah plastik memiliki nilai tersendiri, yakni ekonomi. Dalam kacamata ini sampah merupakan komoditas yang sangat berpotensi untuk dikembangkan. Karenanya ekonomi melingkar atau circular economy bisa menjadi jalan keluarnya.

Ekonomi melingkar adalah sebuah sistem ekonomi yang mengedepankan keramahan lingkungan dan bertujuan mempertahankan nilai produk agar dapat digunakan berulang-ulang tanpa menghasilkan sampah (zero waste) melalui cara daur ulang (recycling), penggunaan kembali (reuse) atau produksi ulang (remanufacture).

Konsep ini juga memiliki tiga poin jangka panjang, yakni potensi ekonomi, inovasi sosial, dan terpenting melindungi lingkungan.

Kita bisa mengetahui lebih lebih jauh lagi bagaimana ekonomi melingkar ini bekerja dan hubungannya dengan lingkungan dalam forum EU-Indonesia Business Dialogue 2018 (EIBD) bertajuk Circular Economy: Maximizing Business through Sustainable Practices yang diselenggarakan di Ayana Midplaza, Jakarta, Kamis (25/08/2018) mendatang.

EIBDY 2018 sendiri adalah forum bisnis swasta dan perwakilan pemerintah yang dikemas dengan metode yang beragam dan menyenangkan. Komunitas bisnis dan pemimpin bisnis diundang untuk berperan aktif dalam dialog konstruktif antara Indonesia dan European Union.

Event ini terdiri dari beberapa aktivitas seperti Talkshow, Focus Group Discussion (FGD), Workshop, Community Expo dan Product Showcase dengan pembicara-pembicara taraf nasional maupun internasional.

“Tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, EIBD akan menampilkan model ekonomi yang dapat mengubah cara operasi bisnis ekonomi linier dengan ekonomi melingkar,” demikian keterangan di situs EIBD.

sumber gambar utama: digitalistmag.com