Belum ada titik terang siapa dalang yang bertanggung jawab atas tewasnya Munir Said Thalib meski sudah 14 tahun berlalu. Sedangkan, sang terdakwa sudah menghirup udara segara di luar sana.

14 tahun bukanlah waktu sebentar bagi ‘gelapnya’ kasus Munir. 14 tahun adalah teramat lama untuk membuka secara terang bagaimana kasus ini terjadi dan siapa otak di belakangnya.

Di sisi lain,  itikad baik pemerintah pun sebenarnya sudah dilakukan, walau masih setengah-setengah.

Kita pun masih terus berharap ada kesadaran pemerintah untuk menuntaskan kasus ini. Paling tidak membuka secara transparan kepada publik hasil temuan Tim Pencari Fakta (TPF), yang ketika itu sudah diserahkan kepada mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, 2005 lalu.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, Munir tewas saat hendak terbang menuju Amsterdam, Belanda, guna studi hukum di Utrecht Universiteit.

Namun sebelum ia sampai, atau dua jam sebelum mendarat di Bandara di Bandara Schipol, Amsterdam, nyawanya sudah tiada. Munir tewas dalam penerbangan.

Berikut kronologi yang kami rangkum dari berbagai sumber.

***

Ketika itu…

2 September 2004, Istri Munir Said Thalib, Suciwati, mendapat telepon dari seorang yang tidak dikenal.

Orang itu mengaku sebagai teman Munir yang bekerja di Garuda Indonesia bernama Pollycarpus, dan menanyakan perihal keberangkatan Munir ke Belanda.

6 September 2004, Munir berangkat menuju Belanda dari Jakarta dengan Pesawat Garuda Indonesia GA-974 pukul 21.55 WIB. Kemudian dijadwalkan akan transit di Bandara Changi, Singapura, pada pukul 00.40 waktu setempat sebelum akhirnya menuju tujuan akhir pada pukul 01.50.

04.50, atau tiga jam selepas transit, pramugara pesawat melaporkan kepada pilot pesawat bahwa Munir, penumpang bernomor kursi 40G, sakit setelah beberapa kali ke toilet.

Ia pun mendapat pertolongan dari salah satu penumpang pesawat, yang memang kebetulan seorang dokter.

Selama perjalanan Munir terus mendapat perawatan. Hanya nyawanya tak tertolong dua jam sebelum mendarat di Bandara Schipol, Amsterdam, Belanda.

Otoritas Bandara setempat melakukan penanganan untuk kemudian membawa turun jenazah Munir dari dalam pesawat, untuk kemudian melakukan autopsi.

Hasil autopsi kelak mengungkapkan hasil mengejutkan: Munir tewas dengan cara diracun menggunakan arsenik.

Banyak yang mengatakan racun arsenik ini sebagai racun ‘pembunuh dalam diam’. Sebab, racun ini tidak memiliki bau, rasa, dan warna, sehingga bila dimasukkan ke dalam makanan atau minuman tidak akan menimbulkan kecurigaan.

kredit: blogspot/rhmnzl

Dua bulan setelah kematian Munir, atau pada 23 November 2004 Presiden SBY mengeluarkan Perpres Nomor 11 tahun 2004 untuk mendirikan Tim Pencari Fakta (TPF) untuk membantu kepolisian mengusut kasus ini.

Juni 2005 TPF sudah menyelesaikan laporan dan hasil temuan-temuan untuk kemudian diserahkan kepada Presiden SBY. Namun faktanya, hingga hari ini hasil itu tak pernah dibuka ke publik. Bahkan, konon, laporan itu hilang entah ke mana.

Sampai saat ini, kasus tewasnya Munir hanya menyisakan satu pelaku: Pollycarpus Budihari Priyanto, yang bebas 29 Agustus 2018 usai menjalani 14 tahun hukuman penjara sejak divonis 20 Desember 2005 lalu. Meski begitu, ia membantah telah membunuh Munir.

“Ah itu nggak benar,” katanya sembari tertawa, dikutip dari BBC Indonesia.