Dari berbagai karakter pemimpin di dunia yang sering kita cermati, masih dapat kita temukan beberapa perbedaan karakter dari masing-masing pemimpin dalam menjalankan strategi dan kebijakan untuk negaranya. Alhasil, banyak perbedaan konsep kepemimpinan dilihat dari berbagai sudut pandang.

Tentunya kamu pernah memiliki pengalaman didaulat sebagai pemimpin di suatu tim, tapi apakah kamu sudah dapat menebak tipe pemimpin mana yang menurutmu ideal? Jika masih menerka-nerka, mari kita lihat beberapa contoh tipe kepemimpinan beserta seluk beluk konsepnya.

Boss vs leader

Sering dicampuradukan dengan pengertian bos dan pemimpin (leader). Kedua istilah tersebut memiliki pengertian yang berbeda.

Walaupun sering digunakan silih berganti, seorang pemimpin (biasanya) akan mengerjakan pekerjaannya dari titik nol dan mencapai hasil bersama-sama.

Sedangkan, “bos” biasanya hanya akan memberikan tugas untuk kepentingan sendiri, meski sebenarnya bisa ia lakukan sendiri.

Pertanyaannya, bisakah kita menempatkan si bos ke dalam kategori one-man show?

Beraneka ragam kepemimpinan

Tipe-tipe kepemimpinan yang biasa dikenal antara lain visionary leadership, autocratic leadership, democratic leadership, laissez-faire leadership, coaching-style leadership, dan transformational leadership. Dari beberapa tipe kepemimpinan ini bisa kita aplikasikan salah satunya, atau di saat-saat tertentu bisa menerapkan dua atau bahkan lebih tipe kepemimpinan.

Misalnya, beberapa pemimpin yang ingin memberikan pembaharuan dan pembekalan penting bagi yang dibina dapat menggunakan coaching style atau transformational leadership: Menekankan pada pembibitan dan regenerasi kepemimpinan setelahnya.

Sedangkan untuk pengambilan keputusan (misalkan secara musyawarah mufakat untuk kepentingan bersama), lebih condong ke arah visionary leadership ataupun democratic leadership.

Dalam skala professional, biasanya banyak pemimpin yang memberlakukan laissez-faire (let them do) untuk pekerjaan yang membutuhkan supervisi yang sedikit dengan ritme cepat.

Hal ini juga berbeda apabila diterapkan dalam kepemimpinan satu komando seperti dalam hal birokrasi yang sering menggunakan autocratic leadership.

Kendati begitu, masing-masing tipe memiliki kekurangan dan kelebihan. Misalkan tipe laissez-faire tentunya tidak dapat digunakan dalam sistem kepemimpinan yang membutuhkan arahan secara terus menerus.

Asalkan tidak melenceng dan tidak melakukan tindakan penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power), kecocokan tipe kepemimpinan tersebut mungkin dapat efektif terhadap tipe pekerjaan tertentu saja.

Tentunya konsep the right man in the right place juga perlu dipertimbangkan, mengingat pemimpin juga dapat menjadi the decision maker (the great leader = the great decision maker).

copyright @fapermata/design by FAP

Refleksi dari pemimpin terdahulu

Mengambil kutipan kata dari Abraham Lincoln: “Nearly all men can stand adversity, but if you want to test a man’s character, give him power”, tentunya tidak ada suatu konsep ideal yang dapat digeneralisasi atau dikomparasikan satu sama lain.

Sejatinya, kita akan baru bisa melihat sejauh mana dan seberapa efektifknya gaya kepemimpinan seseorang saat ia dibebankan amanat dan kekuasaan serta pencapaian tujuan kepemimpinannya.

Oleh karena itu, apakah kamu sudah memiliki gambaran pemimpin seperti apa yang ingin kamu terapkan kamu saat ini ataupun di masa yang akan datang?

Baca juga tulisan lain Firly Permata di sini


Tulisan di atas merupakan opini penulis. IndonesianYouth.org tidak bertanggung jawab atas isi tulisan tersebut. Penulis bisa dihubungi di [email protected]

MUDAzine menyediakan wadah untuk Anak Muda di Indonesia yang ingin menuangkan opininya sekaligus turut berbagi isu atau fenomena di sekitarnya. Bergabunglah dengan kontributor MUDAzine.com sekarang juga!