Sedikit lagi kita akan menutup tahun 2018. Sebagian dari kita ada yang menutup tahun ini dengan menyudahi status lajangnya, ada juga yang sedang persiapan menikah di tahun depan, dan sebagian lainnya masih ada yang harus terus bersabar ketika ditanya anggota keluarganya dengan pertanyaan “kapan nikah?” layaknya penagih utang hehe.

Untuk kamu yang masuk kategori terakhir, tidak perlu bersedih hati, setidaknya kamu menjalani nasib ini tidak sendirian dan banyak pertimbangan positif lainnya yang kamu anggap penting. Tenang… tenang…

Secara etimologis, nikah adalah ikatan (akad) perkawinan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum dan ajaran agama. Maka dari itu, berkomitmen untuk menikah adalah hal yang tidak main-main.

Menikah itu seharusnya bukan siap karena dipaksa atau selalu ditagih, tetapi siap lahir dan batin. Nah bagi kamu yang sudah berencana menikah tahun depan, yakin sudah siap?

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyatakan bahwa usia pernikahan yang ideal bagi perempuan adalah 21 tahun, sementara itu bagi pria adalah 25 tahun. Usia ideal itulah salah satu indikator dari kesiapan dalam menikah; siap secara fisik, mental, dan psikologis.

Sayangnya, indikator umur saja belum cukup menjamin kedewasaan seseorang. Hubungan pernikahan yang berkualitas membutuhkan kedewasaan supaya terjaga keharmonisannya. Kedewasaan inilah yang akan menjadi pilar utama ketika adanya guncangan yang muncul, entah itu guncangan ekonomi, permasalahan internal, dan juga eksternal dalam hubungan tersebut.

Dengan begitu, kamu harus pastikan kesiapanmu sebelum menikah dimulai dari hal kecil. Sudahkah kamu selesai mencari jati dirimu?

Sudahkah kamu selesai mencari pengalaman sebanyak-banyaknya di usia mudamu? Ya, ketika kamu mengambil langkah serius dalam hubungan pernikahan di masa mudamu, maka waktumu tidak sebebas saat kamu masih melajang.

Selanjutnya, sudahkah kamu yakin dengan keinginanmu menikah ini bukan karena perasaan sesaat saja?

Menikah adalah soal menjaga komitmen sampai ajal menjemput. Beberapa dari kita memandang cinta itu dari enaknya saja, sampai lupa bahwa ada pahit getirnya di tengah perjalanan mengarungi bahtera rumah tangga.

Cobalah sekali lagi mantapkan hati untuk mengambil langkah serius ini sebelum semuanya terlambat. Menikahlah karena siap lahir dan batin. Jangan tergesa-gesa hanya untuk menghindari pertanyaan “kapan nikah?” di pertemuan keluarga besar berikutnya.

***

sumber gambar utama: pxhere.com