Di tengah turunnya hujan pada suatu penghujung sore, duduk tiga orang teman di sebuah kafe berlogo bulat hijau dengan putri duyung berbuntut dua.

Ketiga teman ini masing-masing bernama Budi, Hafiz dan Matthew. Sembari bercanda-tawa dan meneguk hangat juga dinginnya sajian kafe tersebut, terlihat Budi sesekali sibuk sendiri membersihkan tiap tetesan cairan ataupun embun yang membekas di permukaan meja yang ia singgahi bersama kedua temannya.

Pertama, kedua dan ketiga kalinya aktifitas Budi tersebut hanya sekedar interupsi visual dalam canda-tawa diskusi mereka, sehingga secara vokal Hafiz dan Matthew dapat dengan mudah menghiraukannya.

Hanya saja, saat Budi mengambil kembali lap tangan yang ia selalu bawa kemana-mana untuk keempat kalinya, Hafiz pun akhirnya terganggu dan tidak dapat menahan diri untuk bertanya, “Eh Bud, lo OCD ya?”

OCD merupakan salah satu istilah kesehatan mental yang cukup sering terlontar dalam percakapan sehari-hari seperti pada situasi ketiga teman di atas tadi.

Namun, di balik mudahnya istilah tersebut terucap, sudah paham kah kita apa itu OCD? Bukan, bukan. Bukan diet ala Om Deddy Corbuzier (dan entah kenapa saat saya melakukan penelusuran “Apa itu OCD?” yang paling banyak keluar adalah tentang diet body building). OCD yang saya mau bahasa di sini adalah suatu gejala kesehatan mental yang merupakan singkatan dari Obsessive-Compulsive Disorder.

Saya sendiri sih belum lama tahu lebih dalam mengenai OCD. Jujur saja, saya pun dulu mengasosiasikan istilah OCD dengan perilaku “menata berlebihan yang mengganggu” dan menganggap diri saya juga OCD.

Namun, suatu ketika terceletuk rasa penasaran untuk mengerti lebih dalam tentang OCD, akhirnya saya baru paham bahwa saya itu tidak OCD, saya hanya Perfeksionis!

Obsessive-Compulsive Disorder itu kalau diartikan secara harfiah ke dalam Bahasa Indonesia adalah Gangguan Obsesif-Kompulsif.

Jadi, pengidap gangguan tersebut adalah mereka yang mewajibkan sesuatu secara obsesif atau berlebihan.

Sesuatu di sini adalah kegiatan atau pola perilaku. Dengan penjelasan sederhana mengenai arti OCD tersebut memang mudah untuk mengkategorikan perilaku Budi tadi sebagai obsesif atau berlebihan bukan? Toh, seharusnya ia bisa saja dengan sabar menunggu pertemuan mereka selesai untuk membersihkan meja tadi (atau enggak).

Tidak kok, Budi tidak mengidap OCD, dia hanya perfeksionis!

Dengan artikel ini, saya sebenarnya ingin meluruskan bahwa OCD itu gangguan yang nyata, dan selayaknya gangguan lainnya (baik fisik maupun mental) ada spektrum atau tingkatan keparahannya (sama saja kayak rasa sayang gitu lho ada tingkatannya).

OCD itu bukan sesuatu yang patut dianggap ringan baik bagi pengidapnya maupun yang bukan, karena di tingkatan terparah, orang yang mengidap OCD dapat dikuasai oleh pikiran cemas pada hal-hal yang seharusnya tidak dicemaskan loh!

Contoh pengidap OCD akut itu adalah mereka yang harus bolak-balik ke rumah minimal tiga kali untuk memastikan terkuncinya pintu, karena jika mereka tidak mengecek ulang lagi dan lagi, mereka akan cemas terus sepanjang perjalanan. Bayangkan saja betapa merugikannya bagi orang di sekitarnya. Misal ia dan pacarnya ingin menonton film atau berburu produk Buy 1 Get 1, tapi si pengidap OCD cemas terus-menerus dan ketakutan sampai-sampai mereka terlambat.

Bayangkan juga implikasinya terhadap lingkungan kerjanya (ya telat ke kantor melulu gaksiih kalau harus balik sampe tiga kali setiap berangkat), kehidupan sosialnya dan yang jelas, pengidap OCD akan selalu terganggu konsentrasinya di kala kecemasannya datang.

Ya, jadi OCD itu sebenarnya bukan sekedar menganggu, tapi suatu kondisi nyata yang dapat menimbulkan kerugian ekonomi dan dampak sosial dalam kehidupan pengidapnya maupun pada orang di sekitarnya. Jadi, kecuali Hafiz dan Matthew memang merasa dirugikan secara materiil atau kerugian signifikan lainnya oleh aksi “mengganggu”-nya Budi, maka “OCD” bukanlah istilah yang tepat. Budi hanyalah seorang perfeksionis!

Perfeksionis itu artinya seseorang yang gemar dengan kesempurnaan. Dalam konteks artikel ini, saya gunakan untuk mendeskripsikan orang yang kita anggap OCD padahal sebenarnya bukan (semoga gak bingung ya bacanya).

Oh iya, sebelum saya lanjutkan, saya harap sampai sini kita sudah sepakat kalau istilah OCD yang sering muncul dalam pembicaraan sehari-hari itu bukan untuk menggambarkan perilaku gimmick atau quirk semata ya!

Kalau kita memakai contoh pengecekan pintu seperti tadi, seseorang yang perfeksionis (bukan OCD) pun wajar untuk mengecekpintu rumahnya. Yang membedakan adalah seorang perfeksionis hanya akan mengecek pintu rumahnya sekali.

Terus yang membedakan itu kuantitas ngecek pintunya ya? Kalau dua kali gimana dong? Antara OCD dan perfeksionis gitu?

Tidak juga, fokusnya bukan dikuantitasnya sob, tapi rasionalitas di belakang tindakan atau pemikiran tersebut. Seorang perfeksionis memilih untuk kembali ke rumah dan mengecek pintunya karena secara rasional ia ingin memastikan bahwa ia sudah mengunci rumahnya dengan baik.

Hal ini tentu ia lakukan karena dorongan rasionalitas menghindari rumahnya dimasuki maling juga. Kalau yang mengidap OCD akan mengecek pintu tiga kali atas dorongan rasa cemas, dan melakukan pengecekan pintu sampai tiga kalinya itu dilakukan demi melegakan rasa cemas tadi tanpa mempertimbangkan kerugian yang timbul (misalnya sudah berkendara jauh dengan mobil, ya jadi rugi bensin dan waktu).

Karena itu, sekali lagi saya tekankan, yang membedakan perilaku OCD dengan perfeksionis adalah yang satu irasional dan yang satunya lagi rasional.

Jadi, sekarang si Budi bias menjawab, “Apaan dah lo, nih baca artikelnya Ardhi Arsala Rahmani mengenai OCD. Jangan asal bilang seseorang itu OCD karena di luar sana ada yang OCD beneran cuy dan mereka kehidupannya terganggu banget.

Gue Perfeksionis! Mau tau kenapa? Karena gue mau meja ini selalu sempurna kondisinya, gue mau meja ini selalu bersih dan tetesan air maupun embun dari minuman kita, makanya gue lap terus-terusan. agar tidak merembes dalam kayunya lalu melemahkan integritas struktur meja ini.

Kenapa takut kalau integritas struktur meja ini rusak? Ya karena kalau meja ini rusak, ini kafe harus beli meja baru, dan kebutuhan baru ini jelas melanggengkan kondisi ekonomi pemborosan sumber daya alam yang tidak berkelanjutan”.

Oh! jadi itu alasan Budi untuk tega-teganya mengganggu konsentrasi diskusi teman-temannya dengan perilaku sok bersihnya.

Tapi ingat, bagi kalian yang suka berperilaku menjaga kebersihan seperti Budi maupun perilaku terus-menerus lainnya tapi merasa tindakan tersebut mulai terlalu berlebihan atau kurang didasari alasan yang rasional, segera periksakan ke ahlinya ya. Agar, lebih tepat diagnosanya dan tidak hanya berdasarkan asumsi pribadi.

sumber gambar utama: Shutterstock